Penelitian Tindakan Kelas "PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA MELAUI PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING"
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA
PADA PEMBELAJARAN IPA MELAUI PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING
(PENELITIAN TINDAKAN KELAS DI SDN
KEDUNGWARINGIN 03, 2020)
Laporan Penelitian Tindakan
Kelas
Untuk memenuhi tugas PPG
dalam Jabatan
Disusun Oleh :
Ela Moulilla Riany, S.Pd
No. Peserta : 2002220710031
Bidang Studi : Guru Kelas SD
PROGRAM PPG DALAM JABATAN-GURU KELAS SD
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) adalah sebuah mata pelajaran di tingkat sekolah dasar
(SD/MI). IPA merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang
sangat luas terkait dengan kehidupan manusia. Pembelajaran IPA sangat berperan
dalam proses pendidikan dan juga perkembangan Teknologi. Pembelajaran IPA
diharapkan bisa menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan
alam sekitar, serta pengembangan lebih lanjut dalam penerapan dalam kehidupan
sehari-hari.
Dalam proses pembelajaran siswa
sebagai subjek pendidikan di tuntut supaya aktif dalam belajar mencari
informasi dan mengeksplorasi sendiri atau secara berkelompok. Guru hanya
berperan sebagai fasilitator dan pembimbing kearah pengoptimalan pencapaian
ilmu pengetahuan yang dipelajari. Diharapkan dalam proses pembelajaran siswa
mau dan mampu mengemukakan pendapat sesuai dengan apa yang telah dipahami,
dapat mengkonstruksikan pengetahuannya secara mandiri.
Namun hal ini berbanding terbalik
dengan fakta yang terjadi dilapangan. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah
dilakukan oleh peneliti di SDN Kedungwaringin 03 khususnya di kelas V, proses belajar mengajar masih
berpusat pada guru. Kegiatan pembelajaran IPA masih dilakukan secara konvensional, dengan guru
lebih banyak menerangkan materi pembelajaran dan peserta didik hanya berperan
sebagai penyimak. Pembelajaran IPA yang
demikian belum memberi kesempatan maksimal kepada peserta didik untuk mengkonstruksikan pengetahuannya.
Proses pembelajaran yang
berlangsung di kelas hanya diarahkan pada kemampuan peserta didik untuk
menghafal, mengingat
dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang
diperoleh untuk menghubungkannya dengan situasi dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi
pembelajaran yang telah diberikan. Selain itu dalam proses belajar
mengajar, guru hanya terpaku pada buku teks sebagai satu-satunya sumber
pembelajaran.
Hal ini berdampak pada kurangnya
pemahaman konsep peserta didik. Salah satunya ditandai dengan rendahnya hasil belajar peserta didik. Berdasarkan
studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti didapatkan hasil bahwa secara
umum nilai rata-rata kelas pada muatan pembelajaran
IPA pada PTS (Penilaian Tengah Semester
) hanya mencapai 55
sedangkan nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) satuan
pendidikan di SDN Kedungwaringin 03 yaitu 75. Presentase siswa yang menguasai materi IPA hanya ada sekitar 37 %,
yaitu sebanyak 11 orang dapat mrenguasai IPA, sedangkan presentase yang belum
menguasai IPA ada 63% atau sebanyak 21 orang. Hal ini
menunjukan bahwa sebagian besar peserta didik kurang menguasai dan memahami
mata pelajaran IPA.
Dari pemaparan diatas,
menunjukan bahwa terdapat keterkaitan
antara rendahnya pemahaman peserta didik dengan proses pembelajaran yang
diterapkan oleh guru. Model, teknik dan sumber belajar yang digunakan oleh guru
selama kegiatan pembelajaran yang kurang
cocok dengan mata pelajaran IPA yang tidak
hanya menekankan pada penghafalan materi semata. Maka dari itu guru harus lebih
kreatif dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan
karakteristik mata pelajaran yang akan disampaikan. Sebagai guru yang baik
dituntut untuk dapat menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inofatif
sehingga dapat tercipta suasana pembelajaran yang kondusif . Hal ini
dimaksudkan agar tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai.
Berpedoman pada fakta-fakta
diatas, salah satu alternatif pemecahan masalah yang dapat diambil adalah
dengan penerapan model Discovery Learning
sebagai upaya meningkatan kegiatan pembelajaran IPA. Model Discovery Learning adalah salah satu
model pembelajaran yang mengkondisikan peserta didik untuk terbiasa menemukan,
mencari, dan mendikusikan sesuatu yang berkaitan dengan pengajaran. Model
pembelajaran ini mengutamakan peran guru dalam menciptakan situasi belajar yang
melibatkan peserta didik belajar secara aktif dan mandiri. Kegiatan
pembelajaran ini menekankan agar peserta didik
terlibat langsung dalam pembelajaran sehingga peserta didik dapat mengalami dan
menemukan sendiri konsep-konsep yang harus ia kuasai. Model Discovery Learning akan membuat
pembelajaran lebih bermakna karena akan mengubah kondisi belajar yang pasif
menjadi aktif dan kreatif serta mengubah pembelajaran yang semula teacher
oriented ke student
oriented. Dengan demikian diharapkan peserta didik lebih memahami materi
pembelajaran yang disampaikan.
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan
di atas, maka perlu diadakan penelitian tindakan kelas sebagai upaya perbaikan
proses pembelajaran konsep dalam mata pelajaran IPA dengan
melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar
Siswa pada Pembelajaran IPA Melalui Penerapan Model Discovery Learning”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan hasil identifikasi
pada pembelajaran yang saya lakukan di pembelajaran yang menyebabkan kurangnya
hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA kelas 5,
diantaranya :
1.
Peserta didik hanya menghafal, mengingat
dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang
diperoleh untuk menghubungkannya dengan situasi dalam kehidupan sehari-hari.
2.
Rendahnya tingkat penguasaan
siswa terhadap materi pembelajaran IPA yang
telah diberikan.
3.
Dalam proses belajar mengajar,
guru hanya terpaku pada buku teks sebagai satu-satunya sumber pembelajaran.
C. Analisis Masalah
Melalui
diskusi dengan para mitra peneliti tentang pembelajaran IPA di kelas 5. Maka
analisis masalah diantaranya adalah :
1.
Guru hanya menggunakan metode konvensional. Metode penjelasan seperti ceramah merupakan suatu cara penyajian bahan atau
penyempaian bahan pelajaran secara lisan dari guru. Dalam penyampaian metode ceramah sangat
sederhana dari mulai pemberian iinformasi,klarifikasi, ilustrasi dan
menyimpulkan.
2.
Guru tidak memberikan
kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuannya secara mandiri.
Materi ajar hanya diberikan untuk dihapal dan diingat. Hanya ada transfer
materi dari guru kepada siswanya.
3.
Guru hanya menggunakan buku teks sebagai salah satu sumber belajar, tidak ada
keberagaman sumber belajar.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil belajar siswa kelas V SD
Negeri Kedungwaringin 03 pada pembelajaran IPA kelas 5 dirumuskan masalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana penggunaan model Discovery Learning pada pembelajaran IPA
di Kelas V SD Negeri Kedungwaringin 03?
2. Bagaimana peran dan minat
siswa terhadap penggunakan model Discovery
Learning pada pembelajaran IPA di Kelas V SD Negeri Kedungwaringin 03?
3. Bagaimana hasil belajar siswa kelas V SD
Negeri Kedungwaringin 03 pada pembelajaran IPA setelah menggunakan model Discovery Learning?
E. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah
diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini secara umum adalah
“Untuk Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran IPA dengan Menggunakan Model Discovery Learning pada Siswa Kelas V SD
Negeri Kedungwaringin 03 Kecamatan Kedungwaringin Kabupaten Bekasi”. Secara
khusus tujuan penelitian ini adalah sebgai berikut:
1.
Meningkatkan keterampilan
guru dengan model Discovery Learning
pada pembelajaran IPA di kelas V SD Negeri Kedungwaringin 03 Kabupaten
Bekasi
2.
Meningkatkan aktivitas dan
minat siswa melalui penerapan model Discovery
Learning pada pembelajaran IPA di Kelas V SD Negeri Kedungwaringin 03
Kabupaten Bekasi.
3.
Meningkatkan hasil belajar siswa
melalui penerapan model Discovery
Learning pada Pembelajaran IPA di kelas
V SD Negeri Kedungwaringin 03 Kabupaten Bekasi.
F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat
diambil dari penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis
Melalui kegiatan penelitian ini diharapkan
diperoleh suatu model pembelajaran yang tepat dalam melaksanakan pembelajaran IPA di kelas V SD Negeri Kedungwaringin 03, Kabupaten Bekasi sebagai
salah satu upaya meningkatkan hasil belajar yang
nantinya dapat dijadikan sebagai refrensi bagi
peneliti selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi
Peserta didik
1)
Meningkatkan pemahaman peserta
didik mengenai materi IPA
2)
Mendorong peserta didik lebih
aktif, kreatif, dan berani mengungkapkan pendapat
3)
Mampu
mengkonstruksikan pengetahuannya secara mandiri
4)
Menjadikan suasana pembelajaran
yang menyenangkan sehingga peserta didik termotivasi dan merasa antusias dalam
mengikuti pembelajaran.
b. Bagi guru
1)
Meningkatnya kemampuan guru dalam
mengatasi kendala pembelajaran IPA.
2)
Dapat memberikan inspirasi bagi
guru untuk melakukan proses belajar pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
yang inovatif sehingga
tercipta pembelajaran yang menyenangkan.
3)
Melatih keprofesionalan seorang
guru dalam mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik
c. Bagi sekolah
1)
Hasil penelitian dapat dijadikan
acuan dalam upaya pengadaan inovasi pembelajaran bagi para guru lain dalam
mengajarkan materi.
2)
Sebagai masukan dalam memperbaiki
dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara intensif dan menggunakan model
pembelajaran yang lebih inovatif agar kualitas pembelajaran lebih efektif
khususnya pada kualitas sekolah.
BAB II
KAJIAN
PUSTAKA
A. Hasil Belajar
Menurut Rifa’i dan Anni (2011,
85) hasil belajar merupakan perubahan perilaku
yang diperoleh peserta didik setelah mengalami kegatan belajar. Hasil belajar menurut Gagne & Bringgs (dalam
Suprihatiningrum, 2014: 37) hasil belajar
adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat perbuatan belajar dan dapat diamati melalui
penampilan siswa.
Menurut Bloom (dalam Suprijono,
2012:6-7), hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut Bloom
(dalam Basuki dan Hariyanto, 2014: 14)
domain kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yaitu:
1. Mengingat (remembering)
Mampu mengingat bahan-bahan yang baru saja
dipelajari.
2. Memahami (understanding)
Memahami makna, translasi,
interpolasi, dan penafsiran bahan ajar dan masalah.
3. Menerapkan (applying)
Mampu menerapkan gagasan,
prosedur, metode, rumus, teori, dan lain-lain di dalam kondisi pembelajaran.
4. Menganalisis (Analysing)
Siswa mampu menganalisis informasi yang masuk dan
membagi-bagi atau menstrukturkan
informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta
membedakan faktor penyebab dan akibat
dari sebuah skenario yang rumit.
5. Menilai (evaluating)
Siswa mampu mmberikan penilaian terhadap solusi ,
gagasan, metodologi, prosedur
kerja dan lain-lain, dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektivitas
atau manfaatnya.
6. Menciptakan (creating)
Siswa menempatkan unsur-unsur
bersama-sama untuk membentuk suatu keseluruhan
yang koheren dan berfungsi mengorganisasikan kembali unsur-unsur menjadi suatu pola baru atau struktur baru melalui
membangkitkan, merencanakan,
atau menghasilkan sesuatu.
Domain afektif menurut Kratwohl,
Blom dan Masia meliputi tujuan belajar yang
berkenaan dengan minat, sikap, dan nilai serta pengembangan penghargaan dan penyesuaian diri. Domain afektif ini dibagi
menjadi lima tujuan sebagai berikut:
1. Penerimaan, meliputi kesadaran
akan adanya suatu sistem nilai, ingin menerima
nilai, dan memperhatikan nilai tersebut, misalnya siswa menerima sikap jujur sebagai sesuatu yang diperlukan.
2. Pemberian respon, meliputi
sikap ingin merespon terhadap sistem, puas dalam memberi respon, misalnya bersikap jujur dalam
setiap tindakan.
3. Pemberian nilai atau
penghargaan, penilaian meliputi penerimaan terhadap suatu objek nilai, memilih sistem nilai yang
disukai dan memberikan komitmen untuk
menggunakan sistem nilai tertentu.
4. Pengorganisasian, meliputi
memilah dan menghimpun sistem nilai yang akan digunakan..
5. Karakterisasi, karakteristik
meliputi perilaku secara terus menerus sesuai dengan sistem nilai yang telah diorganisasikan.
Domain psikomotor merupakan perilaku yang dimunculkan oleh hasil kerja fingsi tubuh manusia. Domain ini berbentuk gerakan
tubuh, antara lain seperti berlari,
melompat, melempar, berputar, memukul, menendang, dan lain lain. Ada lima tujuan pada domain psikomotor yaitu:
1. Meniru,
yaitu kemampuan mengamati suatu gerakan agar dapat merespos.
2. Menerapkan, yaitu kemampuan
mengikuti pengarahan, pemilihan gerakan dan pendukung dengan membayangkan gerakan orang lain.
3. Memantapkan, yaitu kemampuan
memberikan respons atau koreksi atau respons
dengan kesalahan kesalahan terbatas atau minimal.
4. Merangkai, yaitu koordinasi
merangkai gerak dengan membuat aturan yang tepat.
5. Naturalisasi, yaitu gerakan
yang dilakukan secara rutin dengan menggunakan energi fisik dan psikis yang minimal.
B. Pembelajaran
IPA
1. Pengertian Pembelajaran IPA
IPA merupakan singkatan
kata “Ilmu Pengetahuan Alam”. Kata IPA terjemahan dari “Natural Science”.
Natural artinya alamiah, dan Science artinya ilmu pengetahuan. Jadi Ilmu Pengetahuan
Alam ( IPA ) atau science secara harfiah dapat disebut sebagai ilmu tentang
alam. Ilmu Pengetahuan Alam adalah ilmu yang mempelajari peristiwa yang terjadi
di alam. IPA menawarkan cara-cara agar dapat memahami kejadian-kejadian di
alam.
IPA salah satu ilmu
pengetahuan yang menyuguhkan teori dengan melakukan observasi, eksperimentasi,
penyimpulan, penyusunan teori, dan
demikian seterusnya yang
saling berkaitan antara cara yang satu dengan cara yang lain, pendapat tersebut
selaras dengan Sutrisno, dkk. (2008: 1.19) yang menyatakan bahwa IPA merupakan
usaha manusia dalam memahami alam.nJadi, IPA adalah suatu kumpulan teori yang
sistematis, peranannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam, lahir dan
berkembang melalui metode ilmiah seperti observasi dan eksperimen serta
menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, terbuka dan jujur. IPA berkaitan
dengan fakta, konsep, prinsip dan juga proses penemuan itu sendiri.
Menurut Widi, dkk (2015) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan
rumpuan ilmu, memiliki karakteristik khusus yaitu mempelajari fenomena alam
yang faktual (factual), baik berupa
kenyataan (reality) atau kejadian (events) dan berhubungan dengan sebab
akibat. Cabang ilmu yang termasuk dalam rumpuan IPA saat ini antara lain
Biologi, Fisika, IPA, Astronomi/ Astrofisika dan Geologi. IPA merupakan ilmu
yang pada awalnya diperoleh dan dikembangkan berdasarkan percobaan (induktif)
namun perkembangannya selanjutnya IPA juga diperoleh dan dikembangkan
berdasarkan teori (deduktif).
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
juga merupakan ilmu pengetahuan
yang mempelajari tentang
alam beserta isinya serta segala gejala yang terjadi didalamnya. Ilmu
pengetahuan alam juga merupakan mata pelajaran di SD/MI yang dimaksudkan agar
peserta didik mempunyai pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisasi
tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses
ilmiah antara lain penyelidikan, penyususnan dan penyajian gagasan-gagasan.
IPA mengandung tiga unsur
yaitu: proses (usaha manusia memahami alam semesta), prosedur (cara yang
dilakukan memahami alam) dan produk (kesimpulan atau hasil dari belajar). Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) didefinisikan sebagai kumpulan pengetahuan yang tersusun
secara terbimbing. IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara
sistematis, sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa
fakta, konsep, atau prinsip saja tetapi merupakan suatu proses penemuan.
IPA dapat definisikan
sebagai ilmu pengetahuan tentang alam dengan segala isinya yang merupakan usaha
dan hasil dari temuan manusia yang diperoleh dari langkah-langkah ilmiah, yaitu
dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, dan
demikian seterusnya yang saling berkaitan antara cara yang satu dengan cara
yang lain untuk menemukan suatu kesempurnaan.
2. Hakikat IPA
IPA tidak hanya fakta tetapi juga proses, dalam memecahkan suatu
masalah ahli IPA sering berusaha mengambil sikap atau metode tertentu yang
memungkinkan usaha mencapai hasil yang
diharapkan. Sikap tersebut dikenal dengan nama sikap ilmiah. Sikap tersebut
dikenal dengan nama sikap ilmiah. Nokes (1941) juga menjelaskan bahwa IPA
merupakan pengetahuan teoritis yang diperoleh dengan metode khusus (Wasih
Djojosoediro, 2010: 4).
Pada Hakikatnya, IPA dapat
dipandang dari segi produk, proses, pengembangan sikap dan tekhnologi. Artinya
belajar IPA memiliki dimensi proses, dimensi hasil (produk), dimensi
pengembangan sikap ilmiah, dan IPA sebagai teknologi. Keempat dimensi tersebut
bersifat saling terkait. Sulistyorini (2007: 9-10) mengemukakan bahwa proses
belajar Mengajar IPA seharusnya mengandung tiga dimensi IPA yaitu:
a. IPA sebagai Produk
Merupakan akumulasi hasil upaya para perintis
IPA terdahulu dan umumnya telah tersusun secara lengkap dan sistematis dalam
bentuk buku teks. IPA sebagai produk juga merupakan hasil yang diperoleh dari
suatu pengumpulan data yang disusun secara lengkap dan sistematis. Contoh IPA
sebagai produk dalam penelitan ini adalah manfaat angin untuk menggerakkan
kincir angin dan menggerakkan perahu layar.
b. IPA sebagai Proses
IPA disusun dan diperoleh
melalui metode ilmiah. Jadi yang dimaksud oleh proses IPA tidak lain adalah
metode ilmiah. Untuk anak SD, metode ilmiah dikembangkan secara bertahap dan
berkesinambungan, dengan harapan bahwa pada akhirnya akan terbentuk paduan yang
lebih utuh sehingga anak SD dapat melakukan penelitian sederhana. Tahapan
pengembangan yang di sesuaikan dengan tahapan dari suatu proses penelitian
eksperimen yang meliputi observasi, klasifikasi, interprestasi hasil,
memprediksi, hipotesis awal, mengendalikan variabel yang direncanakan,
merencanakan dan melaksanakan penelitian, inferensi, aplikasi dan komunikasi.
Contoh IPA sebagai proses dalam penelitian ini adalah pada saat siswa melakukan
percobaan, mengamati hasilnya, dan menuliskan hasil percobaan untuk mencari
jawaban dari permasalahan yang dihadapi.
c. IPA Sebagai Pemupukan sikap
Sains sebagai sikap yaitu
memotivasi siswa untuk mengembangkan pentingnya mencari jawaban dan penjelasan
rasional tentang fenomena alam dan fisik serta melibatkan dalam aktivitas
pembelajaran. Menurut Wynne Harlen dalam Hendro Darmodjo (1993), setidaknya ada
sembilan aspek sikap dari ilmiah yang ada dan dapat dikembangkan pada anak usia
SD, yaitu :
1)
Sikap ingin tahu;
2)
Sikap ingin mendapatkan
sesuatu yang baru;
3)
Sikap tidak berprasangka sebelum
mencoba;
4)
Sikap mawas diri;
5)
Sikap bertanggung jawab;
6)
Sikap kerja sama;
7)
Sikap tidak mudah putus
asa;
8)
Sikap kedisiplinan diri;
9)
Sikap berfikir bebas.
Contoh IPA sebagai
pemupukan sikap dalam penelitian ini adalah rasa ingin tahu, ingin mendapatkan
sesuatu yang baru, bertanggung jawab, dan disiplin.
d. IPA sebagai teknologi
Hakikat IPA dari waktu ke
waktu mengalami perkembangan. Tidak lepas dari perkembangan pelaksanaan metode ilmiah
yang bergantung kepada kemajuan teknologi pada saat itu. Perkembangan teknologi
yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dari
belajar IPA. IPA bersifat praktis sebagai bekal yang berguna dalam kehidupan
sehari-hari. Kegiatan observasi dan eksperimen banyak dipengaruhi oleh
penggunaan peralatan atau instrumen yang digunakan, karena banyak fenomena alam
yang tidak dapat secara langsung diamati oleh manusia dengan panca indera tanpa
menggunakan bantuan teknologi. Contoh IPA sebagai teknologi dalam penelitian
ini adalah pembuatan terasering pada tanah yang miring untuk mencegah
terjadinya tanah longsor.
Belajar IPA tidak hanya
terdiri dari satu konsep, belajar IPA terdiri dari empat konsep yaitu konsep
IPA sebagai proses, IPA sebagai produk, IPA sebagai pemupukan sikap ilmiah dan
IPA sebagai teknologi. Perpaduan dari keempat konsep inilah yang akan
mengantarkan kita untuk bisa menggali lebih dalam lagi unsur-unsur yang
terkandung di dalam pembelajaran IPA yang akan bermuara pada meningkatnya
kualitas pembelajarn IPA, di mana guru akan berperan sebagai (fasilitator) yaitu memfasilitasi
pembelajaran, (innovator) yaitu
sebagai pembaharu, (transformator)
yaitu sebagai penyalur ilmu, dan (evaluator)
yaitu sebagai penilai yang akan mendukung siswa supaya lebih aktif dan kreatif
dalam pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai secara maksimal.
C. Teori Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar (SD)
Menurut Kerlinger, teori
adalah konsep-konsep yang berhubungan satu sama lainnya yang mengandung suatu
pandangan sistematis dari suatu fenomena. Belajar merupakan karakteristik yang
membedakan manusia dengan makhluk yang lainnya dan merupakan aktivitas yang
dilakukan sepanjang hayat untuk mendapatkan perubahan pada dirinya melalui pelatihan
atau pengalaman. Terdapat beberapa teori dalam belajar yang telah dikemukakan
oleh beberapa ahli yang dapat dijadikan dasar dalam mengembangkan pembelajaran
IPA. (Farida Nur Kumala. 2016. Pembelajaran IPA SD.)
Teori belajar tersebut
diantaranya:
1. Teori belajar Behaviourisme
Pada teori ini dikembangkan
oleh beberapa ilmuwan diantaranya Ivan Pavlov, Edward Lee throndike, Guthrie,
Burrhus Frederic Skinner, dan Hull. Teori behavioristik menyatakan bahwa
belajar merupakan bentuk yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk
bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus
dan respon. Pembelajaran yang berpijak pada teori ini memandang bahwa
pengetahuan adalah objektif, pasif, tetap, tidak berubah. Belajar
merupakan perolehan pengetahuan dan mengajar dianggap memindahkan pengetahuan
ke orang yang belajar. Pelajar diharapkan memiliki pemahaman yang sama dengan
terhadap pengetahuan yang diajarkan. Pelajar dianggap sebagai objek yang pasif
yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik dan dirasakan
kurang memberikan ruang gerak yang bebas pada peserta didik untuk berkreasi,
bereksperimen, dan mengeksplorasi kemampuan. Sebagai konsekuensi teori ini,
para guru akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga
tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh
guru. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti
contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran
disusun secara hierarki dari yang sederhana sampai yang kompleks. Tujuan
pembelajaran ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu.
Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan
harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang
diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori
behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku
yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai
mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku
yang tampak.
Tidak setiap mata pelajaran
bisa memakai metode ini, sehingga kejelian dan kepekaan guru pada situasi dan
kondisi belajar sangat penting untuk menerapkan kondisi behavioristik.
Behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membutuhkan
praktek dan pembiasaan , cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih
membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan,
suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi
permen atau pujian.
2. Teori Perkembangan Kognitif
Teori ini lebih menekankan
kepada proses belajar daripada hasil belajar, tidak hanya melibatkan hubungan
antara stimulus dan respons bebih dari itu belajar adalah melibatkan proses
berpikir yang sangat kompleks. Menurut teori kognitivistik, ilmu pengetahuan
dibangun didalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan
dengan lingkungan. Belajar dipandang
sebagai usaha untuk mengerti sesuatu yang dilakukan secara aktif oleh siswa.
Keaktifan itu dapat berupa mencari pengalaman, mencari informasi, mencermati
lingkungan, mempraktekkan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Tokoh-tokoh dalam pengembangan teori Kognitif
, yaitu :
a)
Teori Belajar Gagne
Menurut Gagne, Belajar itu
merupakan suatu proses yang dapat dilakukan manusia, Belajar menyangkut
interaksi antara pembelajar (orang yang belajar) dan lingkungannya dan Belajar
telah berlangsung bila terjadi perubahan tingkah laku yang bertahap cukup lama
selama kehidupan orang itu.
Menurut Gagne, ada 4 buah fase dalam proses belajar, yaitu:
1) Fase penerimaan (apprehending
phase)
Pada fase ini, rangsang diterima oleh
seseorang yang belajar. Ini ada beberapa langkah. Pertama timbulnya perhatian,
kemudian penerimaan, dan terakhir adalah pencatatan (dicatat dalam jiwa tentang
apa yang sudah diterimanya).
2)
Fase penguasaan (acquisition phase)
Pada tahap ini akan dapat dilihat apakah
seseorang telah belajar atau belum. Orang yang telah belajar akan dapat
dibuktikannya dengan memperlihatkan adanya perubahan pada kemampuan atau
sikapnya.
3) Fase pengendapan (Storage phase)
Sesuatu yang telah dimiliki akan disimpan agar tidak cepat hilang
sehingga dapat digunakan bila diperlukan. Fase ini berhubungan dengan ingatan
dan kenangan.
4) Fase pengungkapan kembali (Retrieval phase)
Apa yang telah dipelajari,
dimiliki, dan disimpan (dalam ingatan) dengan maksud untuk digunakan
(memecahkan masalah) bila diperlukan. Jika kita akan menggunakan apa yang
disimpan, maka kita harus mengeluarkannya dari tempat penyimpanan tersebut, dan
inilah yang disebut dengan pengungkapan kembali. Fase ini meliputi penyadaran
akan apa yang telah dipelajari dan dimiliki, serta mengungkapkannya dengan
kata-kata (verbal) apa yang telah dimiliki tidak berubah-ubah.
Menurut Gagne, fase pertama
dan kedua merupakan stimulus, dimana terjadinya proses belajar,sedangkan pada
fase ketiga dan keempat merupakan hasil belajar. Mengajar adalah membimbing
siswa untuk berinteraksi dengan lingkungan sehingga didapati proses belajar
yang mengahasilkan perubahan tingkah laku yang melalui fase penerimaan,
penguasaan, pengendapan, dan pengungkapn kembali.
Penerapan Teori Gagne Dalam Mengajarkan IPA di SD :
1)
Mengaktifkan motivasi (activating motivation)
2)
Memberi tahu pelajar
tentang tujuan-tujuan belajar (instructional
information)
3)
Mengarahkan perhatian (directing motivation)
4)
Merangsang ingatan (stimulating recall)
5)
Menyediakan bimbingan
belajar (providing learning guidance)
6)
Meningkatkan retensi (enhancing retention)
7)
Membantu transfer belajar (helping transfer of learning)
8)
Mengeluarkan perbuatan (eliciting performance) dan memberi umpan
balik (providing feedback)
b)
Teori Belajar Piaget
Belajar adalah suatu proses
yang aktif, konstruktif, berorientasi pada tujuan, semuannya bergantung pada
aktifitas mental peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk
melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan
teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan dari guru sesuai dengan perkembangan
peserta didik. Mengajar adalah memberikan rangsangan kepada peserta didik agar
mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai
hal dari lingkungan.
Menurut Piaget proses belajar sebenarnya
terdiri atas tiga tahapan yaitu :
1)
Asimilasi : proses
pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang
sudah ada.
2)
Akomodasi : proses
penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi baru.
3)
Equilibrasi : penyesuaian
yang berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
Piaget juga mengatakan bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan
tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa. Oleh karena itu guru seharusnya
memahami tahap-tahap perkembangan kognitif anak didiknya serta memberikan isi,
metode, media pembelajaran yang sesuai dengan tahapannya. Menurut Piaget, ada
sedikitnya tiga hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam merancang
pembelajaran di kelas, terutama dalam pembelajaran IPA. Ketiga hal tersebut
adalah :
1)
Seluruh anak melewati
tahapan yang sama secara berurutan ;
2)
Anak mempunyai tanggapan
yang berbeda terhadap suatu benda atau kejadian
3)
Apabila hanya kegiatan
fisik yang diberikan kepada anak, tidaklah cukup untuk menjamin perkembangan
intelektual anak.
Cara Pembelajaran IPA di SD Berdasarkan Teori Piaget
1)
Mulailah dari hal-hal yang
konkret yaitu kegiatan aktif mempergunakan pancaindra dengan benda nyata atau
konkret.
2)
Penata awal, yaitu suatu
informasi umum mengenai apa yang akan diajarkan, agar murid mempunyai
kerangkakerja untuk mengasimilasikan informasi baru ke dalam struktur
kognitifnya.
3)
Pergunakanlah kegiatan yang
bervariasi karena murid mempunyai tingkat perkembangan kognitif yang berbeda
dan gaya belajar yang berlainan
4)
Guru harus selalu memperhatikan
pada setiap siswa apa yang mereka lakukan, apakah mereka melaksanakan dengan
benar, apakah mereka tidak mendapatkan kesulitan.
5)
Guru memberikan kesempatan
kepada anak untuk menemukan sendiri jawabanya, sedangkan guru harus selalu siap
dengan alternatif jawaban bila sewaktu-waktu dibutuhkan
6)
Pada akhir pembelajaran,
guru mengulas kembali bagaimana siswa dapat menemukan jawaban yang diinginkan.
.(Siti Nurjannah. 2016. Teori Belajar dalam Pembelajaran IPA SD (E-Learning)).
c) Teori Belajar Ausubel
Menurut Ausubel siswa akan belajar dengan baik
jika isi pelajarannya didefinisikan dan kemudian dipresentasikan dengan baik
dan tepat kepada siswa (advanced organizer), dengan demikian akan mempengaruhi
pengaturan kemampuan belajar siswa. Advanced organizer adalah konsep atau
informasi umum yang mewadahi seluruh isi pelajaran yang akan dipelajari oleh
siswa sehingga membantu siswa untuk
memahami bahan belajar secara lebih mudah. Inti dari teori belajarnya adalah
belajar bermakna. Belajar bermakna adalah suatu proses yang dikaitkan dengan
informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat pada struktur kognitif
seseorang. Mengajar adalah mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses
belajar bermakna. Mereka yang berada pada tingkat pendidikan dasar, akan lebih
bermanfaat jika siswa diajak beraktivitas, dilibatkan langsung dalam kegiatan
pembelajaran. Sedangkan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi, akan lebih
efektif jika menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram dan ilustrasi.
Dalam penerapannya di IPA
SD, Ausubel membuat peta hirarki konsep-konsep dimana konsep- konsep yang
bersifat umum berada di puncak hirarki dan semakin ke bawah konsep-konsep
diurutkan lebih khusus. Hal tersebut didasarkan pada prinsip-prinsip yang
dikemukakan oleh Ausubel yaitu :
1)
Pengatur awal
Pengatur awal dapat digunakan untuk membantu
mengaitkan konsep yang lama dengan konsep yang baru yang lebih tinggi maknanya.
2)
Prinsip Diferensiasi Progresif
Dalam diferensiasi progresif, konsep-konsep
yang diajarkan dimulai dengan konsep-konsep yang umum menuju konsep-konsep yang
lebih khusus.
3)
Prinsip Rekonsiliasi integratif
Dalam rekonsiliasi integratif, konsep-konsep
atau gagasan-gagasan perlu diintegrasikan dan disesuaikan dengan konsep-konsep
yang telah dipelajari sebelumnya
Ada empat ciri peta konsep
Ausubel, yakni:
1)
Pemetaan konsep merupakan
suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan organisasi dalam suatu bidang
studi. Ini berlaku bukan hanya untuk bidang studi IPA
2)
Suatu peta konsep merupakan
suaatu gambaran/diagram dua dimensi daari suaatu disiplin atau suatu bagian
dari suatu disiplin.
3)
Dari setiap konsep, konsep
yang paling umum (inklusif) terdapat pada puncak konsep, makin kebawah
konsep-konsep menjadi lebih khusus sampai pada pemberian contoh-contoh.
4)
Suatu peta konsep memmuat
hierarki konsep-konsep. Makin tinggi suatu hierarki yang ditunjukkan maka makin
tinggi nilai peta konsep itu.
d)
Teori Belajar Bruner
Belajar merupakan kegiatan
perolehan informasi yang disebut sebagai belajar penemuan yang merupakan
berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang
menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Bruner
mengungkapkan bahwa dalam proses belajar, anak sebaiknya diberikan kesempatan
untuk memanipulasi objek atau benda-benda (alat peraga). Melalui alat peraga
itu, anak akan langsung melihat bagaimana keteraturan dan pola srtuktur dari
benda yang diperhatikannya tersebut. Keteraturan yang didapat anak melaui
pengamatan/keterlibatan secara langsung tersebut kemudian oleh anak dihubungkan
dengan keterangan instuitif yang melekat padanya.
Ada tiga tahap pembelajaran dikemukakan oleh Bruner, yaitu :
1). Tahap Enaktif
Anak
secara langsung terlibat dalam memanipulasi (mengotak-atik objek)
2). Tahap Ikonik
Kegiatan yang dilakukan anakberhubungan
dengan mental yang merupakan gambaran dari objek-objek yang memanipulasinya.
3)
Tahap Simbolik
Anak memanipulasi simbol-simbol atau lambang
objek tertentu. Anak tidak lagi terkait objek namun sudah mampu menggunakan
notasi tanpa tergantung objek riilnya. Anak yang memulai untuk secara simbolik
memproses informasi.
Menurut Bruner, dalam proses belajar siswa menempuh tiga tahap, yaitu:
1)
Tahap informasi (tahap penerimaan materi)
Dalam tahap ini, seorang siswa yang sedang
belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari.
2)
Tahap transformasi (tahap pengubahan materi)
Dalam tahap ini, informasi yang telah
diperoleh itu dianalisis, diubah atau ditransformasikan menjadi bentuk yang
abstrak atau konseptual.
3)
Tahap evaluasi
Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai
sendiri sampai sejauh mana informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat
dimanfaatkan untuk memahami gejala atau masalah yang dihadapi.
Dalam penerapannya dalam
proses pembelajaran di kelas, Bruner mengembangkan model pembelajaran penemuan.
Model ini pada prinsipnya memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh
informasi sendiri dengan bantuan guru dan biasanya menggunakan barang yang
nyata. Peranan guru dalam pembelajaran ini bukanlah sebagai seorang pemberi
informasi melainkan seorang penuntun untuk mendapatkan informasi.(Nurjannah,
Siti. 2016. Teori Belajar dalam Pembelajaran IPA SD (E-Learning)).
3. Teori Belajar Konstruktivisme
Teori konstruktivisme
merupakan teori yang menyatakan bahwa pengetahuan adalah hasil konstruksi dari
kegiataan atau tindakan seseorang. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang ada
diluar, tetapi ada dalam diri seseorang yang membentuknya berdasarkan dari
hasil pengalaman yang didapatkannya. Menurut Slavin dalam Trianto (2009)
menyatakan bahwa konstruktivisme merupakan suatu proses dimana anak secara
aktif membangun sistem arti dan pemahaman terhadap realita melalui pengalaman
dan interaksi mereka. Anak secara aktif membangun pengetahuan dengan cara terus
menerus mengasimilasi dan mengakomodasi informasi baru, dengan kata lain
konstruktivisme adalah teori perkembangan kognitif yang menekankan peran aktif
siswa dalam membangun pemahaman mereka tentang realita berdasarkan pengembangan
skemata siswa yang berasal dari proses asimilasi dan akomodasi. (Farida Nur
Kumala. 2016. Pembelajaran IPA SD.)
Aliran kosntruktivisme
menghendaki peserta didik untuk mencari sendiri berdasarkan pengalaman dari
indra yang dimilikinya sehingga didapatkan pengetahuan yang bermakna bagi
siswa. Belajar merupakan proses timbal balik antara individu dan individu,
individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok. Jadi belajar dapat
berasal dari diri sendiri maupun dari keterlibatan orang lain yang dapat
dijadikan siswa untuk mengevaluasi maupun memperbaiki pemahaman atau
pengetahuan siswa.
Implikasi teori
konstruktivisme dalam pembelajaran, diantaranya siswa dapat belajara melalui
pengamatan dan pemberian pengalaman kepada siswa, untuk mengkonstruksi
pengetahuan pada siswa maka pembelajaran lebih didasarkan pada permasalahan
sehari – hari, pemecahan masalah dapat dilakukan melalui pemikiran pribadi
siswa dan akan lebih baik berasal dari tukar pemikiran dengan orang lain untuk
memperkaya pengetahuan siswa.
Teori pembelajaran ini
tepat dikembangkan dalam pembelajaran IPA, sebab pembelajaran akan lebih
bermakna dan sesuai dengan karakteristik pembelajaran IPA yang lebih diarahkan
ke lingkungan siswa. Hal ini disebabkan siswa dapat mengkonstruksi sendiri
pengetahuannya didasarkan apa yang diketahui dilingkungannya. Pembelajaran yang
bermakna akan membuat siswa lebih paham tentang apa yang dipelajarinya. Teori
belajar konstruktivisme dianggap mampu mengembangkan kemampuan berpikir dan
kemandirian siswa, sebab siswa akan berusaha mencari dan berpikir cara untuk
mendapatkan hal yang diinginkan , siswa tidak hanya sebagai penerima pesan satu
arah dari guru. Siswa dapat melakukan diskusi dan ekperimentasi . Menurut
(Jensen, 2011) Salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa
dapat dilakukan melalui beberapa hal yaitu mengajukan pertanyaan bermutu
tinggi, menganalisa dan meramalkan informasi, dan mengembangkan keterampilan
berdiskusi.
Tokoh teori konstruktivisme
adalah piaget dan Vygotsky. Teori konstruktivisme dari Piaget lebih menekan
bahwa peserta didik belajar dari pengalamannya atau individu peserta didik
tersebut seperti halnya teori pekembangan kognitif yang telah disampaikan
sebelumnya.
a)
Teori Belajar Vygotsky
Vygotskt merupakan tokoh
konstruktivisme social, yang mana menyatakan bahwa siswa akan dapat lebih mudah
menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabalia mereka dapat saling
mendiskusikan masalah-masalah itu dengan temannya.(Farida Nur Kumala. 2016.
Pembelajaran IPA Sekolah Dasar.)
Belajar yaitu suatu proses
dimana seorang siswa belajar setahap demi setahap akan memperoleh keahlian
dalam interaksinya dengan orang lain. Pembelajaran terjadi apabila anak-anak
bekerja atau menangani tugas-tugas yang belum dipelajarinya namun tugas-tugas
tersebut masih dalam jangkuan kemampuannya.
Proses pembelajaran terjadi dua tahap yaitu :
1)
Terjadi saat anak beajar secara berkolaborasi dengan orang lain
2)
Dilakukan secara individual yang didalamnya terjadi proses internalisasi
Mengajar adalah membimbing
siswa untuk mengembangkan ide-ide baru dan berkolaborasi dengan orang lain
sehingga fungsi guru sebagai pembantu dan mediator pembelajaran siswa.
Penerapan Dalam Pembelajaran IPA SD:
1)
Pembelajaran kooperatif antar siswa tertata dengan baik
2) Pendekatannya dalam pembelajaran
menerapkan scfolding yaitu pemberian
sejumlah besar bantuan pada siswa pada awal bantuan pembelajaran sehingga siswa
semakin lama semakin bertanggung jawab terhadap pembelajarannya sendiri.
Kemudian secara perlahan bantuan tersebut dikurangi dengan memberikan
kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab setelah ia mampu
mengerjakan sendiri.
3) Prinsip-prinsip dalam pembelajaran IPA SD
adalah prinsip pemahaman kita tentang dunia di sekitar kita dimulai melalui
pengalaman
4) Dikehendaki setting kelas berbentuk
pembelajaran kooperatif antar siswa, sehingga siswa dapat berinteraksi
disekitar tugas-tugas dan saling memunculkan strategi pemecahan yang efektif
D. Discovery Learning
Model pembelajaran penemuan (discovery learning) diartikan sebagai
proses pembelajaran yang terjadi ketika siswa tidak disajikan informasi secara
langsung tetapi siswa dituntut untuk mengorganisasikan pemahaman mengenai
informasi tersebut secara mandiri. Siswa dilatih untuk terbiasa menjadi seorang
yang saintis (ilmuan). Mereka tidak hanya sebagai konsumen, tetapi diharapkan
pula bisa berperan aktif, bahkan sebagai pelaku dari pencipta ilmu pengetahuan.
1. Pengertian Discovery Learning
Menurut Kurniasih, dkk
(2014:64), Model discovery learning adalah proses pembelajaran yang terjadi
bila pelajaran tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya,tetapi
diharapkan siswa mengorganisasikan sendiri. Discovery adalah menemukan konsep melalui
serangkaian data atau informasi yang diperoleh melalui pengamatan atau
percobaan.
Menurut Ruseffendi
(2006:329), metode Discovery Learning adalah metode mengajar yang mengatur
pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang belum
diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya
ditemukan sendiri.
Menurut Hosnan (2014:282),
discovery learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar aktif
dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan
setia dan tahan lama dalam ingatan. Melalui belajar penemuan, siswa juga bisa
belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri masalah yang dihadapi.
2. Jenis dan Bentuk Discovery Learning
Menurut Suprihatiningrum
(2014:244), terdapat dua cara dalam pembelajaran penemuan (Discovery Learning),
yaitu:
a.
Pembelajaran penemuan bebas
(Free Discovery Learning) yakni
pembelajaran penemuan tanpa adanya petunjuk atau arahan.
b.
Pembelajaran penemuan
terbimbing (Guided Discovery Learning)
yakni pembelajaran yang membutuhkan peran guru sebagai fasilitator dalam proses
pembelajarannya.
Bentuk metode pembelajaran
Discovery Learning dapat dilaksanakan dalam komunikasi satu arah atau
komunikasi dua arah bergantung pada besarnya kelas, yang dijelaskan lebih
detail sebagai berikut (Oemar Hamalik, 2009:187):
a.
Sistem satu arah.
Pendekatan satu arah berdasarkan penyajian satu arah yang dilakukan guru.
Struktur penyajian dalam bentuk usaha merangsang siswa melakukan proses discovery di depan kelas. Guru
mengajukan suatu masalah, dan kemudian memecahkan masalah-masalah tersebut
melakukan langkah-langkah discovery.
b.
Sistem dua arah. Sistem dua
arah melibatkan siswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan guru. Siswa
melakukan discovery, sedangkan guru
membimbing mereka ke arah yang tepat atau benar.
3. Karakteristik dan Tujuan Discovery
Learning
Menurut Hosnan (2014), ciri atau karakteristik Discovery Learning adalah
(1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, mengabungkan, dan menggeneralisasi
pengetahuan; (2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan
pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.
Sedangkan menurut Bell, metode Discovery Learning meliliki tujuan
melatih siswa untuk mandiri dan kreatif, antara lain sebagai berikut (Hosnan,
2014):
a.
Dalam penemuan siswa
memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Kenyataan
menunjukan bahwa partisipasi banyak siswa dalam pembelajaran meningkat ketika
penemuan digunakan.
b.
Melalui pembelajaran dengan
penemuan, siswa belajar menemukan pola dalam situasi konkrit mauun abstrak,
juga siswa banyak meramalkan (extrapolate)
informasi tambahan yang diberikan.
c.
Siswa juga belajar
merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan menggunakan tanya jawab
untuk memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan.
d.
Pembelajaran dengan
penemuan membantu siswa membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling
membagi informasi, serta mendengar dan mneggunakan ide-ide orang lain.
e.
Terdapat beberapa fakta
yang menunjukan bahwa keterampilan-keterampilan, konsep-konsep dan
prinsip-prinsip yang dipelajari melalui penemuan lebih bermakna.
f.
Keterampilan yang
dipelajari dalam situasi belajar penemuan dalam beberapa kasus, lebih mudah
ditransfer untuk aktifitas baru dan diaplikasikan dalam situasi belajar yang
baru.
4. Langkah-langkah Discovery
Learning
Menurut Veerman (2003) langkah-langkah pembelajaran dalam model
discovery learning antara lain Orientation, Hypothesis Generation, Hypothesis
Testing, Conclusion dan Regulation, yang secara rinci dijelaskan sebagai
berikut:
a. Orientation
Guru
memberikan fenomena yang terkait dengan materi yang diajarkan untuk memfokuskan
siswa pada permasalahan yang dipelajari. Fenomena yang ditampilkan oleh guru
membuat guru mengetahui kemampuan awal siswa. Tahap orientation melibatkan
siswa untuk membaca pengantar dan atau informasi latar belakang,
mengidentifikasi masalah dalam fenomena, menghubungkan fenomena dengan
pengetahuan yang didapat sebelumnya. Sintaks orientation melatihkan kemampuan
interpretasi, analisis dan evaluasi pada aspek kemampuan berpikir kritis.
Produk dari tahapan orientation dapat digunakan untuk tahapan yang lainya
terutama tahapan hypothesis generation dan conclusion.
b. Hypothesis
Generation
Informasi
mengenai fenomena yang didapatkan pada tahapan orientation digunakan pada
tahapan hypothesis generation. Tahapan hypothesis generation membuat siswa
merumuskan hipotesis terkait permasalahan. Siswa merumuskan masalah dan mencari
tujuan dari proses pembelajaran. Sintaks hypothesis generation melatihkan
kemampuan interpretasi, analisis, evaluasi dan inferensi. Masalah yang telah
dirumuskan diuji pada tahapan hypothesis testing.
c. Hypothesis
Testing
Hipothesis
yang dihasilkan pada tahapan hypothesis generation tidak dijamin kebenaranya.
Pembuktian terhadap hipotesis yang dibuat oleh siswa dibuktikan pada tahapan
hypothesis testing. Tahapan pengujian hipotesis siswa harus merancang dan
melaksanakan eksperimen untuk membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan, mengumpulkan
data dan mengkomunikasikan hasil dari eksperimen. Sintaks hypothesis testing
melatihkan kemampuan regulasi diri, evaluasi, analisis, interpretasi dan
penjelasan.
d. Conclusion
Kegiatan
siswa pada tahapan conclusion adalah meninjau hipotesis yang telah dirumuskan
dengan fakta-fakta yang telah diperoleh dari pengujian hipotesis. Siswa
memutuskan fakta-fakta hasil pengujian hipotesis apakah sesuai dengan hipotesis
yang telah dirumuskan atau siswa mengidentifikasi ketidaksesuaian antara
hipotesis dengan fakta yang diperoleh dari pengujian hipotesis. Tahapan
conclusion membuat siswa merevisi hipotesis atau mengganti hipotesis dengan
hipotesis yang baru. Sintaks conclusion melatihkan kemampuan menyimpulkan,
analisis, interpretasi, evaluasi dan penjelasan.
e. Regulation
Tahapan
regulation berkaitan dengan proses perencanaan, monitoring dan evaluasi.
Perencanaan melibatkan proses menentukan tujuan dan cara untuk mencapai tujuan
tersebut. Monitoring merupakan sebuah proses untuk mengetahui kebenaran langkah-langkah
dan tindakan yang diambil oleh siswa terkait waktu pelaksanaan dan hasil
berdasarkan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Guru mengkonfirmasi
kesimpulan dan mengklarifikasi hasil-hasil yang tidak sesuai untuk menemukan
konsep sebagai produk dari proses pembelajaran. Sintaks regulation melatihkan
kemampuan evaluasi, regulasi diri, analisis, penjelasan, interpretasi dan
menyimpulkan.
5. Kelebihan dan Kekurangan Discovery
Learning
Suherman, dkk (2001:179)
menyebutkan terdapat beberapa kelebihan atau keunggulan metode Discovery Learning, yaitu:
a.
Siswa aktif dalam kegiatan
belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil
akhir.
b.
Siswa memahami benar bahan
pelajarannya, sebab mengalami sendiri proses menemukannya. Sesuatu yang
diperoleh dengan cara ini lebih lama untuk diingat.
c.
Menemukan sendiri bisa
menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorongnya untuk melakukan penemuan
lagi sehingga minat belajarnya meningkat.
d.
Siswa yang memperoleh
pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih mampu mentransfer pengetahuannya
ke berbagai konteks.
e.
Metode ini melatih siswa
untuk lebih banyak belajar sendiri.
Sedangkan menurut
Kurniasih, dkk (2014:64-65), metode Discovery
Learning juga memiliki beberapa kelemahan atau kekurangan, antara lain
sebagai berikut:
a.
Metode ini menimbulkan
asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Bagi siswa yang kurang pandai,
akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau mengungkapkan hubungan
antara konsep- konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga pada gilirannya akan
menimbulkan frustasi.
b.
Metode ini tidak efisien
untuk mengajar jumlah siswa yang banyak, karna membutuhkan waktu yang lama
untuk membantu mereka menemukan teori untuk pemecahan masalah lainnya.
c.
Harapan-harapan yang
terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru yang
telah terbiasa dengan cara- cara belajar yang lama.
d.
Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan
pemahaman, sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi secara
keseluruhan kurang mendapat perhatian.
e.
Pada beberapa disiplin
ilmu, misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur gagasan yang dikemukakan
oleh para siswa.
f.
Tidak menyediakan
kesempatan-kesempatan untuk berfikir yang akan ditemukan oleh siswa karena
telah dipilih terlebih dahulu oleh guru.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Penelitian Tindakan Kelas
1.
Pengertian Penelitian Tindakan
Kelas
Penelitian Tindakan Kelas
disingkat PTK atau Classroom Action
Research adalah bentuk penelitian yang terjadi di dalam kelas berupa
tindakan tertentu yang dilakukan untuk memperbaiki proses belajar mengajar guna
meningkatkan hasil belajar yang lebih baik dari sebelumnya.
Menurut Arikunto, dkk
(2006), penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan
belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam
sebuah kelas secara bersama.
Penelitian Tindakan Kelas
merupakan suatu proses tindakan mengubah perilaku mengajar seorang guru,
perilaku siswa di kelas, serta mengubah strategi dan metode pembelajaran untuk
peningkatan dan perbaikan praktik pembelajaran di kelas sehingga terjadi proses
perbaikan layanan profesional guru dalam proses pembelajaran.
2.
Langkah-langkah Penelitian
Tindakan Kelas
Menurut Hopkins (1993),
penelitian tindakan kelas diawali dengan perencanaan tindakan (Planning), penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi
proses dan hasil tindakan (Observation
and evaluation). Sedangkan prosedur kerja dalam penelitian tindakan kelas
terdiri atas empat komponen, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (acting),
pengamatan (observing), dan refleksi
(reflecting), dan seterusnya sampai
perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai (kriteria keberhasilan).
Gambar dan penjelasan langkah-langkah penelitian tindakan kelas adalah sebagai
berikut:
Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas
a.
Perencanaan (Planning), yaitu persiapan yang dilakukan untuk pelaksanaan
Penellitian Tindakan Kelas, seperti: menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
dan pembuatan media pembelajaran.
b.
Pelaksanaan Tindakan (Acting), yaitu deskripsi tindakan yang
akan dilakukan, skenario kerja tindakan perbaikan yang akan dikerjakan serta
prosedur tindakan yang akan diterapkan.
c.
Observasi (Observe), Observasi ini dilakukan untuk melihat pelaksanaan semua
rencana yang telah dibuat dengan baik, tidak ada penyimpangan-penyimpangan yang
dapat memberikan hasil yang kurang maksimal dalam meningkatkan hasil belajar
siswa. Kegiatan observasi dapat dilakukan dengan cara memberikan lembar
observasi atau dengan cara lain yang sesuai dengan data yang dibutuhkan.
d.
Refleksi (Reflecting), yaitu kegiatan evaluasi tentang perubahan yang terjadi
atau hasil yang diperoleh atas yang terhimpun sebagai bentuk dampak tindakan
yang telah dirancang. Berdasarkan langkah ini akan diketahui perubahan yang
terjadi. Bagaimana dan sejauh mana tindakan yang ditetapkan mampu mencapai
perubahan atau mengatasi masalah secara signifikan. Bertolak dari refleksi ini
pula suatu perbaikan tindakan dalam bentuk replanning dapat dilakukan.
B. Subjek Penelitian, Tempat dan Waktu Pelaksanaan
1.
Subjek Penelitian
Subjek
penelitian ini adalah guru dan siswa kelas V SDN Kedungwaringin
03 Kabupaten Bekasi tahun pelajaran 2020/2021 dengan
jumlah 30 siswa yang terdiri 12 siswa
laki-laki dan 18 siswa perempuan.
2.
Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Penelitian
Tindakan Kelas yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu di kelas V semester ganjil pada tahun ajaran
2020/2021 di SDN Kedungwaringin 03. SDN Kedungwaringin
03 ini beralamat di Kampung Kedung Gede, Desa Kedungwaringin, Kecamatan
Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi. Lokasi SDN Kedungwaringin 03 berada di lokasi
yang strategis karena berada di pusat Kecamatan Kedungwaringin. SDN Kedungwaringin 03 ini dipilih menjadi tempat
penelitian karena
SDN Kedungwaringin 03 tersebut merupakan sekolah
tempat bertugas peneliti dan adanya kesediaan
untuk bekerjasama dari kepala sekolah dan guru kelas yang bersangkutan, selain
itu karena SDN Kedungwaringin 03 memerlukan pengembangan model
pembelajaran yang akan meningkatkan
prestasi kinerja guru dan aktivitas siswa, dengan demikian tujuan pembelajaran akan tercapai dengan optimal.
Waktu pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini
dilaksanakan pada tanggal 19 Oktober -
C. Prosedur Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan di
salah satu SD Negeri di Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi ini
bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada muatan mata pelajaran
IPA. Peneliti melakukan langkah-langkah kegitan sebagai berikut :
1. Tahap Persiapan
a. Observasi/ Sit in
Observasi atau sit in dilakukan
kurang lebih satu minggu di kelas V SDN Kedungwaringin 03 untuk mendapatkan gambaran awal
yang terjadi di kelas tersebut.
b. Mengidentifikasi Masalah
Setelah melakukan observasi/ sit
in, peneliti melakukan identifikasi terhadap
masalah-masalah yang ditemukan di kelas. Dari identifikasi ini, peneliti menentukan masalah yang paling krusial untuk
diberikan tindakan. Ternyata siswa di
kelas yang peneliti jadikan subjek penelitian hasil
belajarnya masih redah terutama untuk muatan IPA.
c. Mengajukan Proposal Penelitian
Setelah peneliti mengidentifikasi
masalah di kelas tempat subjek penelitian, peneliti membuat proposal penelitian dan mengajukan
kepada dosen pembimbing lapangan
untuk dikonsultasikan mengenai gambaran masalah yang ditemukan di kelas dan meminta persetujuan untuk melakukan
penelitian.
d. Mengurus Surat Izin Permohonan Penelitian
Selanjutnya
peneliti mengurus surat izin
permohonan penelitian untuk Kepala Sekolah SDN
Kedungwaringin 03 untuk melakukan penelitian sebagai pemenuhan tugas PPG dalam
jabatan.
e.
Menyerahkan Surat Permohonan Izin Penelitian kepada Kepala Sekolah
Setelah surat permohonan izin
mengadakan penelitian didapatkan oleh peneliti,
maka peneliti menyerahkan surat permohonan izin tersebut kepada pihak sekolah dengan melampirkan proposal penelitian.
2. Tahap Tindakan
Berdasarkan model PTK yang
digunakan dalam penelitian ini adalah model
spiral dari Kemmis dan Mc Taggart, dimana terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.
a. Siklus 1
Sebelum melaksanakan pembelajaran
siklus I dengan menerapkan model Discovery Learning, tahap
pertama yang dilakukan peneliti adalah melaksanakan
perencanaan pembelajaran meliputi:
1). Perencanaan
Menyusun instumen pembelajaran Instrumen pembelajaran diantaranya membuat RPP dan
bahan ajar, media, LKPD, dan evaluasi yang sesuai dengan
pembelajaran daring. Penyusunan RPP menggunakan model Discovery Learning.
2) Membuat LKPD
LKPD yang digunakan merujuk pada
langkah-langkah Guided Discovery Learning, dan
pelaksanaan tahapnya runtut dimulai dari tahap 1 Stimulation
(pemberian rangsangan), tahap 2 Problem
statement (identifikasi masalah),
tahap 3 Data collecting (pengumpulan
data), tahap 4 Data processing (pengolahan data), tahap ke 5 Verification (pembuktian) , dan tahap 6 atau tahap terakhir yaitu Generalization
(menarik kesimpulan).
3) Menyusun instrumen pengungkap data
Instrumen pengungkap data yang
digunakan yaitu Lembar Observasi dan instrumen
tes. Lembar observasi yang digunakan adalah lembar observasi terbuka sehingga observer bisa menuliskan deskripsinya
selama pelaksanaan siklus.
4) Mengkonsultasikan instrumen pembelajaran dan
pengungkap data
Setelah seluruh instrumen
pembelajaran dan pengungkap data selesai dipersiapkan
peneliti selalu mengkonsultasikan dan melakukan bimbingan kepada dosen pembimbing agar dalam pelaksanaannya lancar
dan hasil bisa maksimal.
5) Menyiapkan media pembelajaran
Media yang pertama dibuat oleh
peneliti yaitu video pembelajaran.
6) Menyiapkan alat dokumentasi
Alat dokumentasi digunakan untuk mengabadikan
setiap tahap dalam pelaksanaan
pembelajaran agar seluruh tahap teramati. Dokumentasi yang dimaksud berupa video ketika kegiatan berlangsung.
b. Pelaksanaan
Siklus I dilaksanakan pada hari Rabu, 21 Oktober 2020, dimulai
pada pukul 08.00.
c. Pengamatan
Pada pelaksanaannya, dilaksanakan observasi dan tes
formatif (evaluasi) pada akhir pembelajaran.
d. Refleksi
Setelah selesai siklus, peneliti dan para observer
yang telah membantu peneliti berdiskusi
mengenai pembelajaran yang telah dilaksanakan. Tidak lupa peneliti meminta saran dan kritik serta komentar
terhadap pelaksanaan pembelajaran
yang telah peneliti laksanakan. Kegiatan diskusi ini sangat membantu peneliti untuk memperbaiki kekurangan
peneliti di siklus I ini agar di siklus
selanjutnya peneliti bisa lebih baik lagi. Berdasarkan hasil refleksi diatas, peneliti
merekomendasikan pelaksanaan pembelajaran
muatan IPA dengan menerapkan model Discovery Learning untuk
siklus II sebagai berikut:
1)
Memberikan bahan ajar atau media
ajar yang bisa dipelajari secara asinkronus.
2)
Memberikan kegiatan pembelajaran
yang lebih menarik untuk siswa.
3)
Memberi penguatan terhadap
jawaban siswa.
4)
Dalam siklus selanjutnya
diharapkan peneliti melaksanakan seluruh aktivitas yang telah disusun sebelumnya agar seluruh
aktivitas terlaksana.
b. Siklus
II
Sebelum melaksanakan pembelajaran siklus II dengan menerapkan
model Discovery Learning, tahap pertama
yang dilakukan peneliti adalah melaksanakan
perencanaan pembelajaran yang sesuai dengan refleksi di tahap I, meliputi:
1). Perencanaan
Menyusun
instumen pembelajaran Instrumen pembelajaran diantaranya membuat RPP dan bahan
ajar, media, LKPD, dan evaluasi yang sesuai dengan pembelajaran daring.
Penyusunan RPP menggunakan model Discovery Learning
2)
Membuat LKPD
LKPD yang digunakan merujuk pada langkah-langkah Discovery Learning, dan pelaksanaan tahapnya runtut dimulai dari tahap 1
Stimulation (pemberian rangsangan),
tahap 2 Problem statement
(identifikasi masalah), tahap 3 Data
collecting (pengumpulan data), tahap 4 Data
processing (pengolahan data), tahap ke 5 Verification (pembuktian) , dan tahap 6 atau tahap terakhir yaitu Generalization (menarik kesimpulan).
3)
Menyusun instrumen pengungkap data
Instrumen pengungkap data yang digunakan yaitu
Lembar Observasi dan instrumen
tes. Lembar observasi yang digunakan adalah lembar observasi terbuka sehingga
observer bisa menuliskan deskripsinya selama pelaksanaan siklus.
4)
Mengkonsultasikan instrumen pembelajaran dan pengungkap data
Setelah seluruh instrumen pembelajaran dan
pengungkap data selesai dipersiapkan peneliti selalu mengkonsultasikan dan
melakukan bimbingan kepada dosen pembimbing agar dalam pelaksanaannya lancar
dan hasil bisa maksimal.
5) Menyiapkan media pembelajaran
Media
yang pertama dibuat oleh peneliti yaitu video pembelajaran.
6) Menyiapkan alat dokumentasi
Alat dokumentasi digunakan untuk mengabadikan
setiap tahap dalam pelaksanaan pembelajaran agar seluruh tahap teramati.
Dokumentasi yang dimaksud berupa video ketika kegiatan berlangsung.
b. Pelaksanaan
Siklus II
dilaksanakan pada hari Senin, 2 Nopember 2020, dimulai pada pukul 08.00.
c.
Pengamatan
Pada pelaksanaannya, dilaksanakan observasi dan tes
formatif (evaluasi) pada akhir pembelajaran.
d. Refleksi
Setelah selesai siklus, peneliti dan para observer
yang telah membantu peneliti berdiskusi mengenai pembelajaran yang telah
dilaksanakan. Tidak lupa peneliti meminta saran dan kritik serta komentar
terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah peneliti laksanakan. Kegiatan
diskusi ini sangat membantu peneliti untuk memperbaiki kekurangan peneliti di
siklus I ini agar di siklus selanjutnya peneliti bisa lebih baik lagi.
Berdasarkan hasil refleksi diatas, peneliti merefleksikan pelaksanaan
pembelajaran muatan IPA dengan menerapkan model Discovery Learning pada siklus
II sebagai berikut:
1)
Hasil pengamatan guru tentang
hasil belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran
discovery learning yang dicapai pada siklus II dan perbandingannya dengan siklus I
2)
Hasil pengamatan peneliti
terhadap aktifitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan model discovery learning yang diperoleh dari
siklus II.
3)
Dari beberapa hasil pengamatan
selama penelitian di siklus II,
peneliti menyimpulkan bahwa pelaksanaan tindakan selama siklus II tuntas atau berlanjut pad siklus berikutnya.
D. Pengolahan Data dan Analisis
Data
Data-data yang diperoleh dari lapangan selama
penelitian dikumpulkan untuk
diolah dan dianalisis sehingga mendapatkan kesimpulan yang utuh. Data yang diperoleh kemudian di analisis secara
kualitatif dan kuantitatif.
1. Data
Kualitatif
Data diperoleh dari sumber data berupa hasil
observasi yang berguna untuk
membangun dan mengarahkan perbaikan pendidikan yang mendalam. Dalam pengolahan data kualitatif, digunakan
analisis data deskriptif berdasarkan data yang telah diperoleh dari data hasil lembar
observasi penerapan model Discovery Learning untuk peningkatan hasil belajar IPA. Adapun rangkaian aktivitas
pengumpulan data yang
peneliti gunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:
a. Data Reduction (Reduksi Data)
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal
pokok memfokuskan pada
hal-hal penting, dicari tema dan polanya. Peneliti merangkum data dari lembar observasi yang telah dideskripsikan oleh 2
observer untuk menjadi satu kesimpulan
akhir yang sama dan diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih jelas.
b. Data Display (Penyajian Data)
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya
yang dilakukan peneliti adalah
menyajikan data (data display). Penyajian data yang peneliti gunakan yaitu dilakukan dalam bentuk tabel. Melalui penyajian
data tersebut, maka data terorganisasikan
dan tersusun sehingga akan semakin mudah dipahami.
c. Conclusion Drawing/Verification
(Kesimpulan/Verifikasi)
Langkah terakhir dalam analisis data adalah
penarikan kesimpulan dan verifikasi.
Dengan penarikan kesimpulan ini dimaksudkan untuk mencari makna yang sesungguhnya dari data yang telah dikumpulkan
dilapangan, sehingga peneliti
berharap mendapatkan penemuan-penemuan baru yang sebelumnya belum pernah ada.
2. Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah informasi yang dapat
ditampilkan dalam bentuk angka
atau bilangan, baik yang diperoleh dari hasil pengukuran maupun diperoleh dengan cara mengubah data kualitatif menjadi data
kuantitatif. Data ini diperoleh dari tes
pemahaman konsep mengenai bangun ruang kubus dan balok yang dilakukan pada akhir setiap siklus. Data
kuantitatif tersebut di peroleh dari:
a.
Penskoran Tes Hasil Belajar Siswa
Setiap lembar jawaban siswa akan dinilai, maka
terlebih dahulu peneliti menetapkan
standar penilaian skor dengan maksud untuk menghindari unsur subjektifitas. Penskoran disesuaikan dengan jumlah
soal yang diberikan kepada siswa
agar jumlah skor yang diberikan tepat perhitungannya.
|
Nilai akhir siswa = Jumlah skor yang diperoleh
siswa x 100 Jumlah skor maksimal |
Kriteria penilaian hasil tes pemahaman konsep siswa
dikelompokkan seperti
pada tabel dibawah ini:
Tabel Kriteria Penilaian Tes Hasil Belajar Siswa
|
Presentase Jawaban |
Kriteria Penilaian |
|
85 % - 100 % |
Sangat Baik |
|
70 % - 84 % |
Baik |
|
55 % - 69 % |
Cukup Baik |
|
40 % -54 % |
Kurang Baik |
|
0 – 39 % |
Tidak Baik |
b.
Menghitung Nilai Rata-Rata
Peneliti menjumlahkan nilai yang diperoleh siswa,
selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa kelas tersebut sehingga diperoleh nilai
rata-rata. Sudjana (2011,
hlm. 109), skor rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
|
X = Ʃ n |
Keterangan:
X = nilai rata-rata
Ʃx = jumlah semua nilai siswa
n = jumlah siswa
c.
Menghitung Persentase Jumlah Siswa Tuntas
Ketuntasan belajar secara individual mengacu pada
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang
telah di tetapkan untuk kelas V pada mata pelajaran matematika yaitu 75. Kriteria ketuntasan belajar
siswa dikelompokkan ke dalam dua
kategori yaitu tuntas dan belum tuntas, siswa dikatakan mencapai ketuntasan belajar bila sudah mencapai nilai KKM, siswa
dikatakan belum tuntas apabila nilai
yang diperoleh siswa belum mencapai KKM. Dalam
persentase rata-rata ketuntasan belajar siswa digunakan rumus sebagai berikut:
|
PTB = Ʃ N x 100 N |
Keterangan:
PTB = ketuntasan belajar siswa %
Ʃ N = jumlah siswa yang mendapat nilai diatas KKM
N = jumlah keseluruhan siswa
Tabel
Kategori Ketuntasan Belajar Anak
|
No |
Interval (%) |
Kategori |
|
1 |
81 - 100 |
Sangat Tinggi |
|
2 |
61 - 80 |
Tinggi |
|
3 |
41- 60 |
Cukup |
|
4 |
21 -40 |
Rendah |
|
5 |
0-20 |
Sangat Rendah |
BAB IV
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Pada bab ini dipaparkan hasil
penelitian tindakan kelas “Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran
IPA Melalui Penerapan Model Discovery
Learning”. Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas di SDN Kedungwaringin 03 dilakukan
pada tanggal 19 Oktober 2020 sampai 4 Nopember 2020, dengan jadwal rincian
sebagai berikut:
a. Tanggal 21 Oktober 2020 mata
pelajaran IPA untuk siklus pertama
b. Tanggal 2 Nopember 2020 mata
pelajaran IPA untuk siklus kedua
Data
penelitian yang diperoleh berupa hasil tes formatif pada setiap siklus dan
observasi aktivitas siswa dan guru saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Data lembar observasi diambil dari dua pengamatan yaitu data pengamatan
Aktivitas siswa saat pembelajaran berlangsung dan aktivitas guru dalam
mengelola pembelajaran dengan penerapan model discovery learning untuk mengetahui bagaimana penerapan model
pembelajaran discovery learning dalam
meningkatkan hasil belajar siswa.
Data tes
formatif guna mengetahui ketuntasan belajar minimal, serta untuk mengetahui
tingkat keberhasilan belajar siswa setelah diterapkan model discovery learning.
Adapun
tahapan – tahapan yang dilakukan dalam pelaksanaan model discovery learning ini
yaitu :
1. Siklus I
a. Tahap
Perencanaan
Pelaksanaan
siklus I ini dilaksanakan 1 kali pertemuan yaitu pada tanggal 21 Oktober 2020 dengan muatan pembelajaran
IPA dengan model discovery learning. Pada tahap awal ini peneliti mengobservasi
tentang permasalahan yang ada di kelas V SDN Kedungwaringin 03. Setelah
peneliti mengetahui permasalahan yang ada, peneliti berusaha menerapkan model
discovery learning untuk dapat meningkatkan hasil belajar.
Adapaun
hal – hal yang dipersiapkan oleh peneliti yaitu mempersiapkan perangkat
pembelajaran yang terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan
ajar, media, LKPD, soal tes formatif dan instrument observasi aktivitas siswa
serta alat –alat yang diperlukan.
b. Tahap
Pelaksanaan
Pada
tahap pelaksanaan siklus I ini peneliti bertindak sebagai guru dan dibantu oleh
guru mata pelajaran IPA. Adapun kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan
meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
Pada
kegiatan awal ini guru mengkondisikan siswa untuk siap menerima pelajaran,
berdoa bersama-sama, kemudian dilanjutkan dengan apersepsi yaitu menggali
pemahaman siswa tentang pembelajaran sebelumnya dan mengaitkan dengan
pembelajaran yang akan dipelajari saat siklus I yaitu tentang cara menjaga
kesehatan peredaran darah manusia. Setelah itu guru menyampaikan tujuan
pembelajaran yang akan dicapai dan menyampaikan metode pembelajaran yang akan
digunakan. Selanjutnya kegiatan inti di mulai dengan guru memberikan sebuah
video pembelajaran untuk diamati siswa, setelah itu siswa menganalisis dan
mengasosiasi permasalahan yang relevan dengan stimulus yang disajikan guru
berupa pertanyaan, guru dan siswa melakukan tanya jawab. Setelah itu siswa
mengumpulkan data dan informasi dari internet tentang nama-nama penyakit yang
mengganggu peredaran darah manusia dan cara mencegahnya. Siswa mencoba
menemukan jawaban dari pertanyaan dan menuliskan data-data yang diperoleh
melalui LKPD yang guru bagikan di grup WhatsApp.
Guru memverifikasi hasil pengumpulan data siswa dan diberi penguatan oleh guru.
Kemudian siswa menyimpulkan dan menyebutkan cara-cara memelihara kesehatan
peredaran darah manusia. Setelah itu, siswa menjawab evaluasi yang diberikan
guru melalui google forms.
Kegiatan
penutup di lakukan dengan memberikan kesmpatan kepada siswa untuk bertanya
tentang hal-hal yang belum dimengerti, merefleksi tentang apa yang dipelajari,
hal yang disukai dari pembelajaran, dan hal yang belum dimengerti, diakhiri
dengan penutup doa.
Dengan
demikian proses kegiatan pembelajaran selesai, peneliti merefleksikan
kegiatan pelaksanaan siklus I.
c. Tahap Observasi atau Pengamatan
Dalam
tahapan ini guru melakukan tes formatif dan observasi.
1). Hasil Tes Formatif
Dari
hasil penelitian dari siklus 1 diperoleh data tes formatif sebagai berikut :
DATA
HASIL BELAJAR SISWA SDN KEDUNGWARINGIN 03 PADA SIKLUS I
|
No |
Nama
Siswa |
KKM |
Nilai |
Keterangan |
|
|
Tuntas |
Tidak
Tuntas |
||||
|
1 |
M. A.R |
75 |
80 |
√ |
|
|
2 |
M. S. R |
75 |
100 |
√ |
|
|
3 |
N. A. M |
75 |
80 |
√ |
|
|
4 |
N.P. S |
75 |
80 |
√ |
|
|
5 |
N.P |
75 |
80 |
√ |
|
|
6 |
N.F.N |
75 |
60 |
|
√ |
|
7 |
R. A |
75 |
60 |
|
√ |
|
8 |
R. L |
75 |
80 |
√ |
|
|
9 |
R. N |
75 |
80 |
√ |
|
|
10 |
R. T.A |
75 |
60 |
|
√ |
|
11 |
R. A |
75 |
40 |
|
√ |
|
12 |
R.A.P |
75 |
80 |
√ |
|
|
13 |
R. F |
75 |
80 |
√ |
|
|
14 |
R.T.R |
75 |
60 |
|
√ |
|
15 |
S.H. A |
75 |
40 |
|
√ |
|
16 |
S.S |
75 |
60 |
|
√ |
|
17 |
S.M |
75 |
40 |
|
√ |
|
18 |
S.A. S |
75 |
40 |
|
√ |
|
19 |
S.J. E. T. T |
75 |
80 |
√ |
|
|
20 |
S. S |
75 |
100 |
√ |
|
|
21 |
S. P.H |
75 |
100 |
√ |
|
|
22 |
T.R |
75 |
60 |
|
√ |
|
23 |
V.Y. H |
75 |
100 |
√ |
|
|
24 |
Y. Y |
75 |
100 |
√ |
|
|
25 |
Y. A |
75 |
60 |
|
√ |
|
26 |
Y |
75 |
100 |
√ |
|
|
27 |
Z.S.Q |
75 |
80 |
√ |
|
|
28 |
K.R. H |
75 |
60 |
|
√ |
|
29 |
L.P.S |
75 |
40 |
|
√ |
|
30 |
F. V |
75 |
60 |
|
√ |
|
Jumlah |
2140 |
16 |
14 |
||
|
Rata-Rata |
71 |
|
|
||
|
Persentase |
|
53% |
47% |
||
Berdasarkan data di
atas maka tingkat keberhasilan belajar siswa pada siklus I disajikan dalam
tabel berikut :
Tingkat Keberhasilan Belajar Siswa pada Siklus I
|
Nilai |
Jumlah
Siswa |
Nilai % |
Keterangan |
|
>75 |
16 |
53% |
Tuntas |
|
<75 |
14 |
47% |
Tidak
Tuntas |
Dari data di atas, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan belajar siswa
pada siklus I mencapai presentase ketuntasan sebanyak 53% dengan jumlah 16
siswa. Sedangkan presentase ketidak tuntasan sebanyak 47 % dengan jumlah 14 siswa.
Berdasarkan tabel tingkat keberhasilan belajar siswa pada siklus I,
terlihat bahwa terdapat peningkatan 16 % dibandingkan rata-rata nilai pada saat
pra tindakan yang sebanyak 37 %.
Hal ini menunjukkan bahwa pada siklus I ada peningkatan namun prosentase
ketuntasan masih lebih kecil dari prosentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu
85 %. Hal ini disebabkan karena terjadi gangguan jaringan sinyal menyebabkan
penyampaian materi melalui media pembelajaran video tidak dapat dipahami siswa
secara utuh. Ada beberapa siswa yang terganggu konsentrasinya oleh orang-orang
di sekitarnya saat melaksanakan pembelajaran daring. Ada siswa yang masih belum
bisa fokus saat pembelajaran daring berlangsung. Ada beberapa siswa yang tidak
bisa menjadi aktif dalam kegiatan tanya jawab karena tidak bisa menggunakan
platform zoom secara mandiri disebabkan karena tidak ada pendampingan. Ada
beberapa siswa yang belum percaya diri untuk mengungkapkan hal-hal yang
ditanyakan oleh guru.
2).
Hasil Observasi
Hasil observasi aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan
penerapan model discovery learning
pada siklus 1
LEMBAR OBSERVASI
AKTIVITAS SISWA KELAS V DALAM
PEMBELAJARAN ( SIKLUS 1)
SDN
KEDUNGWARINGIN 03 KECAMATAN KEDUNGWARINGIN KABUPATEN BEKASI
|
No |
ASPEK
YANG DIAMATI |
SKALA
PENILAIAN |
JUMLAH |
|||
|
<10 (1) |
11-20 (2) |
21-30 (3) |
31-40 (4) |
|||
|
1.
KEGIATAN AWAL |
||||||
|
|
1. Kesiapan siswa untuk memulai pembelajaran |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
2. Berdoa sebelum melakukan kegiatan
belajar-mengajar. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
3. Siswa merespon salam dan pertanyaan dari
guru berhubungan dengan kondisi dan pembelajaran sebelumnya. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
4. Siswa menerima informasi ten-tang
keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan
dilaksanakan. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
5. Siswa menyimak penjelasan guru tentang
informasi, kompetensi, materi, tujuan, manfaat, dan lang-kah pembelajaran
yang akan dilaksanakan. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
II |
KEGIATAN
INTI |
|||||
|
|
6. Siswa memperhatikan materi pelajaran yang
disampaikan oleh guru. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
7. Siswa menulis materi yang diberikan oleh
guru. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
8. Siswa berpikir kreatif dan aktif pada saat
pembelajaran. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
9. Siswa berdiskusi tentang wacana tentang
cara menjaga kesehatan peredaran darah yang telah dibaca dan diamati |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
10.
Siswa aktif bertanya dan memberikan pendapat saat pembelajaran berlangsung |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
11.
Siswa mengerjakan tugas sesuai dengan perintah guru. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
12.
Siswa mampu berkomunikasi secara lisan di platform pembelajaran dariing atau
membacakan hasil penulisan |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
13.
Siswa merasa senang, bersema- ngat dan antusias pada saat mengikuti pelajaran
di kelas. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
III |
KEGIATAN
PENUTUP |
|||||
|
|
14.
Siswa mampu membuat refleksi dan menyimpulkan materi yang telah dipelajari |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
15.
Siswa mampu merencanakan tindak lanjut pembelajaran dengan guru untuk pertemuan
selanjutnya. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
Jumlah Nilai Aspek |
0 |
2 |
30 |
16 |
48 |
|
|
Rata-rata |
|
|
|
|
3,2 |
|
|
Keterangan : Skor maksimum 60 |
Nilai
= Skor Perolehan x 100 %
Skor maksimum
Nilai = 48 x 100
% = 80 %
60
Prosentase
Keatifan Siswa
|
Prosentase Keaktifan Siswa |
Taraf Keaktifan Siswa |
Nilai (Angka) |
|
85-100 |
Sangat Baik |
5 |
|
70-84 |
Baik |
4 |
|
60-69 |
Cukup |
3 |
|
50-59 |
Kurang |
2 |
|
0-49 |
Sangat Kurang |
1 |
Hasil aktivitas siswa dalam proses kegiatan pembelajaran dengan model discovery learning pada siklus I, jumlah
skor yang diperoleh 48 dan skor maksimumnya adalah 60. Dengan demikian
prosentase skornya adalah 80 % dan termasuk kategori baik.
d.
Refleksi
Adapun hasil diskusi yang diperoleh dari siklus I adalah sebagai berikut.
Keberhasilan dan kegagalan yang terjadi pada siklus I adalah :
1) Hasil pengamatan guru tentang hasil belajar
siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran discovery learning mencapai presentase
ketuntasan sebanyak 53% dengan jumlah 16 siswa. Sedangkan presentase ketidak
tuntasan sebanyak 47 % dengan jumlah 14 siswa. Terdapat peningkatan 16 %
dibandingkan rata-rata nilai pada saat pra tindakan yang sebanyak 37 %. Namun
prosentase ketuntasan masih lebih kecil dari prosentase ketuntasan yang
dikehendaki yaitu 85 %.
2) Hasil pengamatan peneliti terhadap aktifitas
siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan model discovery learning diperoleh skor 48 dengan skor maksimumnya adalah
60. Dengan demikian prosentase skornya adalah 80 % dan termasuk kategori baik.
3) Dari beberapa hasil pengamatan selama
penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa pelaksanaan tindakan selama siklus I
belum berhasil dengan baik, untuk itu perlu ditingkatkan dan diulang pada
tindakan siklus II.
4) Untuk memperbaiki kelemahan dan mempertahankan
keberhasilan yang telah dicapai pada siklus I, maka pada pelaksanaan siklus II
dapat dibuat perencanaan sebagi berikut :
a). Memberikan
bahan ajar atau media ajar yang bisa dipelajari secara asinkronus.
b). Memberikan kegiatan pembelajaran yang lebih menarik untuk siswa.
c). Memberi penguatan terhadap jawaban siswa.
d) Dalam siklus selanjutnya diharapkan peneliti
melaksanakan seluruh aktivitas yang telah disusun sebelumnya agar seluruh
aktivitas terlaksana.
2.
Siklus II
Pada pelaksanaan siklus II ini dilaksanakan 1 kali pertemuan yaitu
pada tanggal 2 Nopember 2020. Sebagai acuan pelaksanaan tindakan ini, guru
perpedoman dari hasil refleksi siklus I.
a.
Tahap Perencanaan
Pada tahap perencanaan siklus II ini didasarkan pada perencanaan yang
terdapat pada siklus I. Pada siklus II ini peneliti lebih meningkatkan kegiatan
pembelajaran. Adapan persiapan – persiapan yang dilakukan oleh peneliti yaitu
mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan
ajar, media pembelajar, LKPD, dan evaluasi tes formatif dan instrument
observasi aktivitas siswa serta alat – alat yang diperlukan.
b.
Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan siklus II ini peneliti dibantu oleh guru mata
pelajaran IPA. Proses pembelajarannya mengacu pada rencana pelaksanaan
pembelajaran siklus I, sehingga pada siklus
II
ini bisa lebih baik dari siklus I. Adapun kegiatan pembelajaran yang
dilaksanakan meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
Pada
kegiatan awal ini di awali dengan memberi salam, berdoa, kemudian dilanjutkan
dengan apersepsi yaitu tanya jawab dari materi yang sudah dipelajari dan
mengaitkannya dengan materi yang akan disampaikan. Kemudian guru menyampaikan
tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Kegiatan inti di mulai dengan siswa mengamati video yang guru berikan,
kemudian guru memberikan stimulus yang disajikan berupa TTS (teka-teki silang)
interaktif, siswa bersama guru melakukan
tanya jawab, siswa mengumpulkan data dan informasi dari internet tentang
nama-nama penyakit yang menggagu peredaran darah dan cara mencegahnya, siswa
mencoba menemukan jawaban dari pertanyaan yang disajikan guru, Setelah itu
siswa menuliskan dan mengumpulkan data yang diperoleh pada LKPD. Siswa bersama
guru memverifikasi hasil pengumpulan data dan guru memberi penguatan.
Kegiatan penutup di lakukan dengan memberikan kesmpatan kepada siswa
untuk bertanya tentang hal-hal yang belum dimengerti, merefleksi tentang apa
yang dipelajari, hal yang disukai dari pembelajaran, dan hal yang belum dimengerti,
diakhiri dengan penutup doa.
Dengan demikian proses kegiatan pembelajaran selesai, peneliti merefleksikan
kegiatan pelaksanaan siklus II.
c. Tahap Observasi atau Pengamatan
Dalam tahapan ini guru melakukan
tes formatif dan observasi.
1). Hasil Tes Formatif
Dari
hasil penelitian dari siklus II diperoleh data tes formatif sebagai berikut :
DATA
HASIL BELAJAR SISWA SDN KEDUNGWARINGIN 03 PADA SIKLUS II
|
No |
Nama
Siswa |
KKM |
Nilai |
Keterangan |
|
|
Tuntas |
Tidak
Tuntas |
||||
|
1 |
M. A.R |
75 |
90 |
√ |
|
|
2 |
M. S. R |
75 |
100 |
√ |
|
|
3 |
N. A. M |
75 |
80 |
√ |
|
|
4 |
N.P. S |
75 |
100 |
√ |
|
|
5 |
N.P |
75 |
100 |
√ |
|
|
6 |
N.F.N |
75 |
70 |
|
√ |
|
7 |
R. A |
75 |
80 |
√ |
|
|
8 |
R. L |
75 |
90 |
√ |
|
|
9 |
R. N |
75 |
100 |
√ |
|
|
10 |
R. T.A |
75 |
80 |
√ |
|
|
11 |
R. A |
75 |
80 |
√ |
|
|
12 |
R.A.P |
75 |
100 |
√ |
|
|
13 |
R. F |
75 |
90 |
√ |
|
|
14 |
R.T.R |
75 |
100 |
√ |
|
|
15 |
S.H. A |
75 |
80 |
√ |
|
|
16 |
S.S |
75 |
100 |
√ |
|
|
17 |
S.M |
75 |
100 |
|
√ |
|
18 |
S.A. S |
75 |
70 |
|
√ |
|
19 |
S.J. E. T. T |
75 |
80 |
√ |
|
|
20 |
S. S |
75 |
90 |
√ |
|
|
21 |
S. P.H |
75 |
100 |
√ |
|
|
22 |
T.R |
75 |
80 |
√ |
|
|
23 |
V.Y. H |
75 |
100 |
√ |
|
|
24 |
Y. Y |
75 |
100 |
√ |
|
|
25 |
Y. A |
75 |
90 |
√ |
|
|
26 |
Y |
75 |
100 |
√ |
|
|
27 |
Z.S.Q |
75 |
100 |
√ |
|
|
28 |
K.R. H |
75 |
80 |
√ |
|
|
29 |
L.P.S |
75 |
70 |
|
√ |
|
30 |
F. V |
75 |
80 |
√ |
|
|
Jumlah |
2639 |
26 |
4 |
||
|
Rata-Rata |
88 |
|
|
||
|
Persentase |
|
87 % |
13 % |
||
Berdasarkan data di
atas maka tingkat keberhasilan belajar siswa pada siklus II disajikan dalam
tabel berikut :
Tingkat Keberhasilan Belajar Siswa pada Siklus I
|
Nilai |
Jumlah
Siswa |
Nilai % |
Keterangan |
|
>75 |
16 |
53% |
Tuntas |
|
<75 |
14 |
47% |
Tidak
Tuntas |
Dari data di atas, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan belajar siswa
pada siklus II mencapai presentase ketuntasan sebanyak 87% dengan jumlah 26
siswa. Sedangkan presentase ketidak tuntasan sebanyak 13 % dengan jumlah 4 siswa.
Berdasarkan tabel tingkat keberhasilan belajar siswa pada siklus II,
terlihat bahwa terdapat peningkatan 34 % dibandingkan rata-rata nilai pada saat
siklus I yang sebanyak 53 %.
Perbandingan
Tingkat Keberhasilan Belajar Siswa antara Siklus I dan II
|
KRITERIA |
SIKLUS I |
SIKLUS II |
|
Presentase
Ketuntasan |
53 % |
87 % |
|
Presentase
Ketidak Tuntasan |
47 % |
13 % |
|
Banyak
Siswa yang Tuntas |
16 |
26 |
|
Banyak
Siswa yang Tidak Tuntas |
14 |
4 |
Hal ini menunjukkan bahwa pada siklus II ada peningkatan hingga 87 %.
Penelitian ini melebihi target presentase keberhasilan penelitian tindakan kelas yang sebesar 85 %. Jadi dapat
disimpulkan bahwa penelitian ini mencapai ketuntasannya atau keberhasilan.
2).
Hasil Observasi
Hasil observasi aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan
penerapan model discovery learning
pada siklus II.
LEMBAR OBSERVASI
AKTIVITAS SISWA KELAS V DALAM
PEMBELAJARAN ( SIKLUS II)
SDN
KEDUNGWARINGIN 03 KECAMATAN KEDUNGWARINGIN KABUPATEN BEKASI
|
No |
ASPEK
YANG DIAMATI |
SKALA
PENILAIAN |
JUMLAH |
|||
|
<10 (1) |
11-20 (2) |
21-30 (3) |
31-40 (4) |
|||
|
1.
KEGIATAN AWAL |
||||||
|
|
1. Kesiapan siswa untuk memulai pembelajaran |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
2. Berdoa sebelum melakukan kegiatan
belajar-mengajar. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
3. Siswa merespon salam dan pertanyaan dari
guru berhubungan dengan kondisi dan pembelajaran sebelumnya. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
4. Siswa menerima informasi ten-tang
keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan
dilaksanakan. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
5. Siswa menyimak penjelasan guru tentang
informasi, kompetensi, materi, tujuan, manfaat, dan lang-kah pembelajaran
yang akan dilaksanakan. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
II |
KEGIATAN
INTI |
|||||
|
|
6. Siswa memperhatikan materi pelajaran yang
disampaikan oleh guru. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
7. Siswa menulis materi yang diberikan oleh
guru. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
8. Siswa berpikir kreatif dan aktif pada saat
pembelajaran. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
9. Siswa berdiskusi tentang wacana tentang
cara menjaga kesehatan peredaran darah yang telah dibaca dan diamati |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
10.
Siswa aktif bertanya dan memberikan pendapat saat pembelajaran berlangsung |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
11.
Siswa mengerjakan tugas sesuai dengan perintah guru. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
12.
Siswa mampu berkomunikasi secara lisan di platform pembelajaran dariing atau
membacakan hasil penulisan |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
13.
Siswa merasa senang, bersema- ngat dan antusias pada saat mengikuti pelajaran
di kelas. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
III |
KEGIATAN
PENUTUP |
|||||
|
|
14.
Siswa mampu membuat refleksi dan menyimpulkan materi yang telah dipelajari |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
|
15.
Siswa mampu merencanakan tindak lanjut pembelajaran dengan guru untuk
pertemuan selanjutnya. |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
Jumlah Nilai Aspek |
0 |
|
15 |
40 |
55 |
|
|
Rata-rata |
|
|
|
|
3,7 |
|
|
Keterangan : Skor maksimum 60 |
Nilai
= Skor Perolehan x 100 %
Skor maksimum
Nilai = 55 x 100
% = 92 %
60
Prosentase
Keatifan Siswa
|
Prosentase Keaktifan Siswa |
Taraf Keaktifan Siswa |
Nilai (Angka) |
|
85-100 |
Sangat Baik |
5 |
|
70-84 |
Baik |
4 |
|
60-69 |
Cukup |
3 |
|
50-59 |
Kurang |
2 |
|
0-49 |
Sangat Kurang |
1 |
Hasil aktivitas siswa dalam proses kegiatan pembelajaran dengan model discovery learning pada siklus II,
jumlah skor yang diperoleh 55 dan skor maksimumnya adalah 60. Dengan demikian
prosentase skornya adalah 92 % dan termasuk kategori sangat baik.
d.
Refleksi
Adapun hasil diskusi yang diperoleh dari siklus II adalah sebagai berikut.
Keberhasilan dan kegagalan yang terjadi pada siklus II adalah :
1) Hasil pengamatan guru tentang hasil belajar
siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran discovery learning mencapai presentase
ketuntasan sebanyak 87 % dengan jumlah 26 siswa. Sedangkan presentase ketidak
tuntasan sebanyak 13 % dengan jumlah 4 siswa. Terdapat peningkatan 34 %
dibandingkan rata-rata nilai pada saat siklus I yang sebanyak 53 %. Berdasarkan
hal tersebut maka penelitian ini dianggap tuntas dan berhasil karena melebih
target pencapaiannya yang sebesar 85 %.
2) Hasil pengamatan peneliti terhadap aktifitas
siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan model discovery learning diperoleh skor 55 dengan skor maksimumnya adalah
60. Dengan demikian prosentase skornya adalah 92 % dan termasuk kategori sangat
baik.
3) Dari beberapa hasil pengamatan selama
penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa pelaksanaan tindakan selama siklus II sudah berhasil dengan baik, untuk itu tidak
diperlukan lagi suatu tindakan pada siklus selanjutnya.
Dari hasil temuan penelitian di atas menunjukkan bahwa ada pengaruh
yang signifikan terhadap hasil belajar siswa pada muatan pelajaran IPA di kelas
V di SDN Kedungwaringin 03 setelah dilakukan interverensi dengan menggunakan
model discovery learning.
BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan
Penerapan metode Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar IPA
.
Peningkatan kompetensi
tersebut diketahui dari tiga aspek, yaitu peningkatan hasil belajar dan keaktifan siswa.
1. Penerapan
model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar siswa terlihat dari
hasil tes yang dilakukan disetiap akhir siklus. Siklus I persentase ketuntasan
belajar siswa sebesar 53 % meningkat
pada Siklus II menjadi 87 %.
2.
Penerapan model pembelajaran Discovery
Learning dapat meningkatkan keaktifitas siswa.
Diperoleh presentase keaktifan siswa pada siklus I sebesar 80 % atau
berkategori baik, sedangkan pada siklus II presentase keaktifan siswa sebesar
90 %, berkategori sangat baik.
B. Implikasi
Penelitian ini dapat memberikan dampak positif bagi
beberapa pihak, antara
lain sebagai berikut.
1. Siswa
Siswa memiliki motivasi untuk lebih giat belajar
dan meningkatkan hasil belajar siswa dengan
menggunakan model discovery learning
yang diterapkan oleh peneliti dalam muatan pelajaran IPA.
2. Guru
Guru memperoleh pengalaman dalam penggunaan model pembelajaran discovery learning sehingga
dapat memilih metode pelajaran yang tepat dalam
proses pembelajaran.
3.
Sekolah
Sekolah dapat menerapkan model pembelajaran discovery
learning disemua
mata pelajaran untuk meningkatkan hasil
belajar siswa.
C. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki keterbatasan yang turut
mempengaruhi proses kegiatan
pembelajaran. Keterbatasan penelitian tersebut adalah sebagai berikut.
1. Peneliti ini tidak melibatkan tentang faktor
internal siswa yang meliputi minat dan bakat
dari siswa yang kemungkinan faktor-faktor ini mempengaruhi peningkatan kompetensi siswa dalam kegiatan
pembelajaran.
2.
Peneliti ini tidak melibatkan tentang faktor eksternal siswa yang meliputi lingkungan sosial seperti kondisi lingkungan
fisik/alam, lingkungan sosial dan lingkungan
non sosial seperti gedung dan tata letaknya, fasilitas belajar dan tempat belajar yang kemungkinan faktor-faktor ini
mempengaruhi peningkatan
kompetensi siswa dalam kegiatan pembelajaran.
D. Saran
Berdasarkan
hasil penelitian yang diperoleh, peneliti mempunyai saran sebagai berikut.
1. Bagi
Peneliti Selanjutnya
Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan metode discovery learning ini masih terdapat beberapa keterbatasan. Penggunaan
media pembelajaran daring yang masih
sederhana dan terbatas. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat
menambahkan penggunaan
media yang lebih interaktif agar proses pembelajaran dapat berjalan lebih efektif.
2. Siswa
Siswa dapat menggunakan pengalaman yang telah
dilakukan dalam mengikuti
pembelajaran dengan metode Discovery Learning sebagai acuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA.
3. Guru
Guru menyajikan pembelajaran yang dapat membuat keaktifan siswa dalam menemukan
materi-materi pembelajaran, mengungkapkan pendapat, dan meningkatkan hasil
belajar dengan menerapkan metode discovery learning.
4.
Sekolah
Sekolah menyediakan sarana pembelajaran yang merata
pada setiap kelas agar
pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan lebih efektif dan agar siswa termotivasi untuk giat belajar sehingga kompetensi
siswa meningkat dan menciptakan
lulusan yang mampu bersaing
DAFTAR
PUSTAKA
Arikunto,
Suhardjono dan Supardi. 2006. Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara
Baharuddin,
Dkk.2010. Teori Belajar Dan Pembelajaran.
Jogjakarta: Ar-ruzz
Media.
Basuki,
Ismet dan Hariyanto. 2014. Asesmen
Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Hamalik,
Omar. 2009. Pendekatan Baru Strategi
Belajar mengajar Berdasarkan CBSA. Bandung: Sinar Baru Algensindo
Hopkins,
David. 1993. A Teacher's Guide to
Classroom Research. Philadelphia: Open University Press.
Hosnan,
M. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual
dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia.
Kurniasih,
Imas dan Berlin Sani. 2014. Implementasi
Kurikulum 2013 Konsep dan Penerapan. Surabaya: Kata Pena.
Rifa’i,
Achmad dan Catharina Tri Anni. 2011. Psikologi
Pendidikan. Semarang: Universitas
Negeri Semarang.
Ruseffendi.
2006. Pengantar Kepada Membantu Guru
Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran MaIPAa. Bandung: Tarsito.
Suprihatiningrum,
Jamil. 2014. Strategi Pembelajaran: Teori
& Aplikasi. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Suherman,
Erman dkk. 2001. Strategi Pembelajaran MaIPAa
Kontemporer. Bandung: Jica.
Sutrisno,
Leo. Dkk. 2008. Pengembangan Pembelajaran
IPA SD. Jakarta. Departemen
Pendidikan Nasional.
Samatowa,
Usman. 2011.Pembelajaran IPA di Sekolah
Dasar. Jakarta: PT
Indeks.
Veerman,
k. 2003. Intelligent Support for
Discovery Learning. Twente: Twente University Press.
Widi,
Asih dan Eka Sulistyowati. 2015. Metodologi Pembelajaran IPA, Jakarta: Bumi Aksara
LAMPIRAN
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan : SDN KEDUNGWARINGIN 03
Kelas / Semester :
5 /1
Tema : Sehat itu Penting (Tema
4)
Sub Tema : Cara Memelihara Kesehatan
Organ Peredaran Darah Manusia (Sub
Tema 3)
Pembelajaran ke :
1
Alokasi waktu : 1 Hari
Muatan Terpadu : IPA, Bahasa Indonesia
A.
KOMPETENSI INTI
1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran
agama yang dianutnya.
2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, santun,
percaya diri, peduli, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi dengan keluarga,
teman, guru dan tetangga, dan negara.
3. Memahami pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif pada tingkat dasar dengan cara mengamati, menanya,
dan mencoba berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan
dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan
tempat bermain.
4. Menunjukkan keterampilan berfikir dan
bertindak kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, dan komunikatif.
Dalam bahasa yang jelas, sistematis, logis dan kritis, dalam karya yang
estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan tindakan yang
mencerminkan perilaku anak sesuai dengan tahap perkembangannya.
B.
KOMPETENSI DASAR
IPA
|
KOMPETENSI DASAR |
INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI |
|
3.4 Memahami organ peredaran
darah dan fungsinya pada hewan dan manusia serta cara memelihara kesehatan
organ peredaran darah. |
3.4.1 Menganalisis (c4) berbagai
macam penyakit
yang mempengaruhi organ
peredaran darah manusia dan cara memelihara kesehatan organ peredaran darah |
|
4.4 Menyajikan karya tentang
organ peredaran darah pada manusia. |
4.4.1 Mengumpulkan (p1) data dan
informasi tentang nama penyakit gangguan peredaran darah dan cara mencegahnya
dalam bentuk tabel. |
Bahasa Indonesia
|
KOMPETENSI DASAR |
INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI |
|
3.6 Menggali isi dan amanat pantun yang
disajikan secara lisan dan tulis dengan tujuan untuk kesenangan. |
3.6.1 Menyimpulkan (c4) isi pantun yang disajikan
secara lisan dan runtut. 3.6.2 Menegaskan (c4) isi pantun yang disajikan
secara tertulis |
|
4.6 Melisankan pantun hasil karya pribadi
dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat sebagai bentuk ungkapan diri. |
4.6.1 Menunjukkan (p3) cara
membaca pantun yang dibuatnya dengan lafal dan intonasi yang tepat |
C. TUJUAN
PEMBELAJARAN
1.
Dipandu melalui zoom,
Dengan kegiatan mencari tahu tentang berbagai penyakit yang mempengaruhi organ
peredaran darah dan cara pencegahannya di internet, siswa dapat menganalisis (c4)
berbagai macam penyakit yang mempengaruhi organ peredaran darah manusia dan
cara memelihara kesehatan organ peredaran darah dengan benar.
2.
Dengan kegiatan mencari tahu tentang berbagai
penyakit yang mempengaruhi organ peredaran darah di internet, siswa dapat
mengumpulkan (p1) data dan informasi tentang nama penyakit gangguan peredaran
darah dan cara mencegahnya dalam bentuk tabel dengan benar.
3.
Dengan kegiatan mengamati pembacaan pantun yang ada
pada powerpoint, siswa dapat
menyimpulkan (c4) isi pantun yang disajikan secara lisan dan runtut
dengan benar.
4.
Dengan kegiatan menulis pantun pada E-LKPD, siswa dapat menegaskan (c4) isi
pantun yang disajikan secara tertulis dengan benar.
5.
Dengan kegiatan mencoba menulis pantun dengan tema
menjaga kesehatan tubuh di E-LKPD,
siswa dapat menunjukkan (p3) cara membaca pantun yang dibuatnya dengan lafal dan
intonasi yang tepat.
C.
MATERI PEMBELAJARAN
IPA
: Gangguan
Peredaran Darah pada Manusia dan Cara Mencegahnya
1. Jantung koroner, cara mencegahnya yaitu melakukan olahraga,
istirahat yang cukup, menjaga pola makan sehari-hari, menghindari minuman
beralkohol, dan menghindari kebiasaan merokok.
2. Penyakit stroke, cara mencegahnya yaitu menjaga pola makan
sehari-hari, menghindari minuman beralkohol, melakukan olahraga, dan istirahat
yang cukup.
3. Penyakit varises, cara mencegahnya yaitu menghindari berdiri atau
duduk terlalu lama, dan usahakan bergerak tiap 30 menit, hindari menggunakan
sepatu hak tinggi untuk jangka waktu yang lama, mengkonsumsi makanan tinggi
gizi dan rendah garam, berolahraga secara rutin
4. Penyakit anemia cara mencegahnya yaitu makan makanan yang
mengandung zat besi, istirahat teratur, makan makanan mengandung vitamin b12,
makan makanan mengandung asam folat, mengonsumsi makanan mengandung vitamin c,
menghindari minuman beralkohol.
5. Hipertensi cara mencegahnya yaitu menghindari mengkonsumsi minuman
beralkohol, menghindari makanan berlemak yang mengandung kolestrol tinggi,
berolahraga teratur, menghindari kebiasaan merokok, dan menghindari hal yang
bisa memicu stres
Bahasa
Indonesia : Pantun
Pantun adalah puisi melayu asli yang sudah mengakar lama di budaya
masyarakat. Pantun merupakan salah satu jenis karya sastra lama.
Ciri-ciri
pantun
•
Tiap bait terdiri dari 4 baris
•
Terdiri dari 8-12 suku kata di tiap baris
•
Baris ke 1 dan ke 2 disebut sampiran
•
Baris ke 3 dan ke 4 disebut isi
•
Bersajak a-b-a-b
Berdasarkan kelompok usia, pantun dibedakan menjadi :
1. Pantun anak-anak
2. Pantun remaja
3. Pantun orang tua
Berdasarkan isinya, pantun dibedakan menjadi :
1. Pantun nasihat
2. Pantun Jenaka
3. Pantun Teka-teki
4. Pantun kiasan
D.
METODE PEMBELAJARAN
Pendekatan : Saintifik
Model : Discovery Learning
Metode : Tanya jawab,
diskusi, dan penugasan
E.
KEGIATAN PEMBELAJARAN
|
Kegiatan |
Deskripsi Kegiatan |
Alokasi Waktu |
|
Pendahuluan |
1. Melakukan Pembukaan dengan Salam dan Dilanjutkan Dengan
Membaca Doa dipandu melalui aplikasi Zoom (Orientasi, Religius/PPK) 2.
Melakukan absensi
melalui google form yang guru
bagikan melalui WhatsApp Grup https://forms.gle/dkytAWhbz6A2o16U9 3. Menyanyikan
lagu wajib “Satu Nusa Satu Bangsa” (Nasionalisme/PPK) 4. Mengaitkan
Materi Sebelumnya dengan Materi yang akan dipelajari dan diharapkan dikaitkan
dengan pengalaman peserta didik. (Apersepsi) 5. Memberikan
gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari dalam
kehidupan sehari-hari. (Motivasi) |
15 menit |
|
Sintak Discovery
Learning |
||
|
Inti |
1.
Siswa
mengamati bacaan tentang manfaat bersepeda
yang ada di video dan powerpoint yang guru tampilkan pada aplikasi
zoom (Rasa ingin tahu/PPK,critical
thingking/keterampilan abad 21) https://www.youtube.com/watch?v=89E1XCJ-YxQ (Pemberian stimulus/ sintak discovery learning) 2.
Siswa
menganalisis dan mengasosiasi permasalahan yang relevan dengan stimulus yang
disajikan guru berupa pertanyaan “Bagaimana cara memelihara kesehatan
peredaran darah selain bersepedah?”
(Critical
thingking/keterampilan abad 21) (Identifikasi masalah / sintak discovery learning) 3.
Siswa
melakukan tanya jawab tentang cara lain menjaga kesehatan peredaran darah
selain bersepedah. (Critical thinking,
Comunication/ Keterampilan abad 21) 4.
Siswa mengumpulkan
data dan informasi dari internet tentang nama-nama penyakit yang dapat
mengganggu peredaran darah dalam tubuh dan cara pencegahannya (Tanggung jawab/PPK, Critical
thinking/Keterampilan abad 21) (Pengumpulan data/ sintak discovery learning) 5. Siswa
menganalisis dan mengumpulkan data dan informasi dari internet tentang
nama-nama penyakit yang dapat mengganggu peredaran darah dalam tubuh dan cara
pencegahannya. (Tanggung jawab/PPK,
Critical thinking/Keterampilan abad 21) 6. Siswa
mencoba menemukan jawaban dari pertanyaan yang disajikan oleh guru. (Critical thingking/keterampilan abad
21) 7.
Siswa menuliskan
data-data yang diperoleh melalui LKPD yang guru bagikan. https://www.liveworksheets.com/yi1213294rl (Tanggung jawab/PPK) 8.
Siswa bersama guru
memverifikasikan hasil pengumpulan data siswa dan diberi penguatan oleh guru.
(Collaboration / Keterampilan abad 21) (Pembuktian/ sintak discovery learning) 9.
Siswa menyimpulkan
dan menyebutkan cara-cara memelihara kesehatan peredaran darah dalam tubuh
yang sudah di tulis pada LKPD. (Communication/Keterampilan
abad 21) (Penarikan simpulan/ sintak discovery learning) 10.
Siswa membacakan
pantun yang ada pada powerpoint
dengan sebelumnya diberi contoh oleh guru (Communication/ Keterampilan abad 21) 11. Selesai
membaca, siswa mengamati pantun dengan seksama. (Critical thingking/keterampilan abad 21) (Pemberian stimulus/ sintak discovery learning) 12.
Siswa menganalisis
ciri-ciri pantun setelah diberi stimulus pertanyaan “Bagaimanakah isi dan
ciri-ciri pantun?’ (Critical
thinking/ Keterampilan abad 21) (Identifikasi masalah / sintak discovery learning) 13.
Siswa
melakukan tanya jawab tentang isi pantun dan ciri-cirinya. (Critical thinking, Comunication/ Keterampilan
abad 21) 14.
Siswa mengumpulkan
data tentang isi pantun dan ciri-ciri pantun. (Tanggung jawab/ PPK, Critical thinking/ Keterampilan abad 21). (Pengumpulan data/ sintak discovery learning) 15.
Siswa mencoba
menjawab pertanyaan tentang pantun pada LKPD (Tanggung jawab/PPK, Critical Thinking dan memberikan penguatan ) 16.
Siswa mencoba
menuliskan pantun buatannya yang dituliskan pada LKPD. (Creativity/ Keterampilan abad 21) 17.
Siswa memverifikasi
hasil kerja siswa pada LKPD dan penguatan oleh guru (Collabration/ Keterampilan
abad 21). (Pembuktian/ sintak discovery learning) 18. Siswa
membacakan pantun buatannya (Percaya
diri/PPK, Communication/Keterampilan abad 21) 19.
Siswa menyimpulkan
dan menyebutkan isi dan ciri-ciri pantun yang sudah dituliskan pada LKPD (Critical thinking/ Keterampilan abad
21) (Penarikan simpulan/ sintak discovery learning) 20.
Siswa menjawab soal
evaluasi yang diberikan oleh guru melalui google
form (Tanggung jawab/ PPK) |
140 menit |
|
Penutup |
Kerja Sama dengan Orang Tua • Dengan bimbingan dan pengawasan orang tua, siswa
membuat jadwal olah raga untuk menjaga kesehatan peredaran darah dalam tubuh
manusia. • Siswa menerapkan secara disiplin jadwal dan kekuatan
olah raga untuk menjaga kesehatan peredaran darah dalam tubuh manusia. |
15 menit |
|
Refleksi dan Konfirmasi |
||
|
Refleksi pencapaian siswa/formatif asesmen, dan
refleksi guru untuk mengetahui ketercapaian proses pembelajaran dan
perbaikan. |
||
|
ASSESMENT (Penilaian) |
||
|
Penilaian
Sikap, Pengetahuan dan Keterampilan (Lihat Lampiran) |
||
C. LEMBAR
PENILAIAN
1. Aspek Pengetahuan
Bentuk soal : PG
Jumlah soal 10
Nilai = jumlah
soal yang benar x 100
10
2. Aspek Sikap
|
No |
Tanggal |
Nama Siswa |
Catatan |
Tindakan Lanjut |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3. Aspek Keterampilan
a. IPA
|
Aspek |
Sangat
Baik |
Baik |
Cukup |
Perlu
Bimbingan |
|
4 |
3 |
2 |
1 |
|
|
Menggunakan |
Menyajikan |
Menyajikan |
Menyajikan |
Belum dapat |
|
Mengetahui
berbagai penyakit yang |
Menjelaskan |
Menjelaskan |
Menjelaskan |
Belum dapat |
Dalam hal siswa mengidentifikasi berbagai macam penyakit yang
mempengaruhi organ peredaran darah manusia dan cara memelihara kesehatan organ
peredaran darah, diperiksa menggunakan rublik berikut.
b. Bahasa Indonesia
Laporan hasil membuat pantu nasihat diperiksa menggunakan
rublik
|
Aspek |
Baik Sekali |
Baik |
Cukup |
Perlu Bimbingan |
|
|
4 |
3 |
2 |
1 |
|
Isi
dan pengetahuan: Hasil
yang dibuat oleh siswa |
Sesuai dengan
ciri-ciri pantun, yaitu: • Pantun bersajak a-ba-b. • Satu bait terdiri atas empat baris. • Tiap baris terdiri atas 8 sampai 12 suku
kata. • Terdapat
sampiran pada dua baris pertama dan isi pada dua baris berikutnya |
Memenuhi 3 |
Memenuhi 2 |
Memenuhi 1 |
|
Penggunaan |
Penggunaan |
Penggunaan
Bahasa Indonesia yang
baik dan benar digunakan dengan sangat efisien
dalam sebagian besar penulisan
pantun |
Penggunaan
Bahasa Indonesia yang
baik dan benar digunakan dengan
sangat efisien dalam sebagian kecil penulisan
pantun |
Tidak ada penggunaan Bahasa |
D. REMEDIAL DAN PENGAYAAN
1. Remedial
Bagi siswa
yang belum berhasil menulis pantun, akan membuat lagi dengan pendampingan guru.
2. Pengayaan
Siswa
memperkuat kembali pemahaman tentang ciri-ciri pantun
E. SUMBER BELAJAR
1. Buku Pedoman
Guru Tema 4 Kelas 5 dan Buku Siswa Tema 4 Kelas 5 (IPA Terpadu Kurikulum 2013,
Jakarta. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017)
2. Bahan ajar
tentang materi berbagai penyakit yang mempengaruhi peredaran darah dan cara
mencegahnya
3. Bahan ajar materi
tentang pantun
4. LKPD
|
Mengetahui, Kepala Sekolah SDN Kedungwaringin 03 HJ. MARYANI, S.Pd.SD NIP. 196105061983052001 |
Kedungwaringin,
............... Guru Kelas 5 , ELA MOULILLA RIANY, S.Pd NIP. 198708212019032009 |
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan : SDN KEDUNGWARINGIN 03
Kelas / Semester :
5 /1
Tema : Sehat itu Penting (Tema
4)
Sub Tema : Cara Memelihara Kesehatan
Organ Peredaran Darah Manusia (Sub Tema 3)
Pembelajaran ke :
2 (siklus 2)
Alokasi waktu : 1 Hari
Muatan Terpadu : IPA, Bahasa Indonesia
F.
KOMPETENSI INTI
1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, santun, percaya diri, peduli,
dan bertanggung jawab dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru dan
tetangga, dan negara.
3. Memahami pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif
pada tingkat dasar dengan cara mengamati, menanya, dan mencoba berdasarkan rasa
ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan
benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan tempat bermain.
4. Menunjukkan keterampilan berfikir dan bertindak kreatif, produktif, kritis,
mandiri, kolaboratif, dan komunikatif. Dalam bahasa yang jelas, sistematis,
logis dan kritis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan
anak sehat, dan tindakan yang mencerminkan perilaku anak sesuai dengan tahap
perkembangannya.
G.
KOMPETENSI DASAR
IPA
|
KOMPETENSI DASAR |
INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI |
|
3.4 Memahami organ peredaran
darah dan fungsinya pada hewan dan manusia serta cara memelihara kesehatan
organ peredaran darah. |
3.4.1 Menganalisis (c4)
berbagai macam penyakit yang mempengaruhi organ
peredaran darah manusia dan cara memelihara kesehatan organ peredaran darah |
|
4.4 Menyajikan karya tentang
organ peredaran darah pada manusia. |
4.4.1 Mengumpulkan (p1)
data dan informasi tentang nama
penyakit gangguan peredaran darah dan cara mencegahnya dalam bentuk tabel. |
Bahasa Indonesia
|
KOMPETENSI DASAR |
INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI |
|
3.6 Menggali isi dan amanat pantun yang
disajikan secara lisan dan tulis dengan tujuan untuk kesenangan. |
3.6.1 Menyimpulkan (c4) isi pantun yang
disajikan secara lisan dan runtut. 3.6.2 Menegaskan (c4) isi pantun yang
disajikan secara tertulis |
|
4.6 Melisankan pantun hasil karya pribadi
dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat sebagai bentuk ungkapan diri. |
4.6.1 Menunjukkan (p3)
cara membaca pantun yang dibuatnya dengan lafal dan intonasi yang tepat |
H.
TUJUAN PEMBELAJARAN
6. Dipandu melalui WhatsApp, Dengan kegiatan mencari tahu
tentang berbagai penyakit yang mempengaruhi organ peredaran darah dan cara
pencegahannya di internet, siswa dapat menganalisis (c4) berbagai macam
penyakit yang mempengaruhi organ peredaran darah manusia dan cara memelihara kesehatan
organ peredaran darah dengan benar.
7. Dengan kegiatan mencari tahu
tentang berbagai penyakit yang mempengaruhi organ peredaran darah di internet,
siswa dapat mengumpulkan (p1) data dan informasi tentang nama penyakit
gangguan peredaran darah dan cara mencegahnya dalam bentuk tabel dengan benar.
8. Dengan kegiatan mengamati
pembacaan pantun yang ada pada powerpoint,
siswa dapat menyimpulkan (c4) isi pantun yang disajikan secara lisan dan
runtut dengan benar.
9. Dengan kegiatan menulis pantun
pada E-LKPD, siswa dapat menegaskan (c4)
isi pantun yang disajikan secara tertulis dengan benar.
10. Dengan kegiatan mencoba menulis
pantun dengan tema menjaga kesehatan tubuh di E-LKPD, siswa dapat menunjukkan (p3) cara membaca pantun
yang dibuatnya dengan lafal dan intonasi yang tepat.
I.
MATERI PEMBELAJARAN
IPA : Gangguan Peredaran Darah pada Manusia dan Cara
Mencegahnya
1. Jantung koroner, cara
mencegahnya yaitu melakukan olahraga, istirahat yang cukup, menjaga pola makan
sehari-hari, menghindari minuman beralkohol, dan menghindari kebiasaan merokok.
2. Penyakit stroke, cara
mencegahnya yaitu menjaga pola makan sehari-hari, menghindari minuman
beralkohol, melakukan olahraga, dan istirahat yang cukup.
3. Penyakit varises, cara
mencegahnya yaitu menghindari berdiri atau duduk terlalu lama, dan usahakan
bergerak tiap 30 menit, hindari menggunakan sepatu hak tinggi untuk jangka waktu
yang lama, mengkonsumsi makanan tinggi gizi dan rendah garam, berolahraga
secara rutin
4. Penyakit anemia cara
mencegahnya yaitu makan makanan yang mengandung zat besi, istirahat teratur, makan
makanan mengandung vitamin b12, makan makanan mengandung asam folat, mengonsumsi makanan mengandung vitamin c, menghindari
minuman beralkohol.
5. Hipertensi cara mencegahnya
yaitu menghindari mengkonsumsi minuman beralkohol, menghindari makanan berlemak
yang mengandung kolestrol tinggi, berolahraga teratur, menghindari kebiasaan
merokok, dan menghindari hal yang bisa memicu stres.
6. Hipotensi cara mencegahnya
yaitu menghindari konsumsi minuman berkafein pada malam hari dan menghindari
konsumsi alkohol, makan dalam porsi kecil namun sering, dan tidak langsung
berdiri setelah makan, memposisikan kepala lebih tinggi ketika tidur (sekitar
15 cm), berdiri secara perlahan dari posisi duduk atau berbaring, tidak
membungkuk atau mengubah posisi tubuh secara tiba-tiba, dan menghindari
mengangkat beban berat.
7. Leukemia cara mencegahnya
berhenti merokok, menjaga berat badan seimbang atau normal, menghindari dari
paparan zat kimia radon dan benzena berbahaya, menghindarkan diri dari paparan
radiasi, melaksanakan dan menerapkan pola hidup sehat, dan melaksanakan pemeriksaan
darah secara berkala.
Bahasa Indonesia : Pantun
Pantun adalah puisi melayu asli yang sudah mengakar lama di budaya
masyarakat. Pantun merupakan salah satu jenis karya sastra lama.
Ciri-ciri pantun
•
Tiap bait terdiri dari 4 baris
•
Terdiri dari 8-12 suku kata di tiap baris
•
Baris ke 1 dan ke 2 disebut sampiran
•
Baris ke 3 dan ke 4 disebut isi
•
Bersajak a-b-a-b
Berdasarkan kelompok usia,
pantun dibedakan menjadi :
1. Pantun anak-anak
2. Pantun remaja
3. Pantun orang tua
Berdasarkan isinya, pantun dibedakan
menjadi :
1. Pantun nasihat
2. Pantun Jenaka
3. Pantun Teka-teki
4. Pantun kiasan
Contoh pantun nasihat dengan
tema menjaga kesehatan:
Contoh 1:
Jalan-jalan sore bersama teman
Ternyata hujan turun rintik-rintik
Jangan lupa cuci tangan
Pakai sabun, gosok 20 detik
Contoh 2 :
Di atas pohon ada sarang lebah
Lebahnya berdengung saat lewat
Ayo, makan sayur dan buah
Agar kekebalan tubuh jadi kuat
J.
METODE PEMBELAJARAN
Pendekatan : Saintifik
Model : Discovery Learning
Metode : Tanya jawab, diskusi,
dan penugasan
K.
KEGIATAN
PEMBELAJARAN
|
Kegiatan |
Deskripsi
Kegiatan |
Alokasi Waktu |
|
|
Pendahuluan |
6. Melakukan Pembukaan dengan Salam dan Dilanjutkan Dengan
Membaca Doa dipandu melalui aplikasi WhatsApp (Orientasi, Religius/PPK) 7.
Melakukan absensi
melalui google form yang guru
bagikan melalui WhatsApp Grup https://forms.gle/dkytAWhbz6A2o16U9 8. Menyanyikan
lagu wajib “Satu Nusa Satu Bangsa” (Nasionalisme/PPK) 9. Mengaitkan
Materi Sebelumnya dengan Materi yang akan dipelajari dan diharapkan dikaitkan
dengan pengalaman peserta didik. (Apersepsi) Memberikan
gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari dalam
kehidupan sehari-hari. (Motivasi) |
15 menit |
|
|
Sintak Discovery
Learning |
|||
|
Inti |
21. Siswa mengamati bacaan tentang manfaat bersepeda yang ada di video
dan powerpoint yang guru tampilkan pada aplikasi
zoom (Rasa ingin tahu/PPK,critical thingking/keterampilan abad 21) (Pemberian stimulus/
sintak discovery learning) 22. Siswa menganalisis dan mengasosiasi
permasalahan yang relevan dengan stimulus yang disajikan guru berupa TTS
interaktif yang guru bagikan link nya di WhatsApp Grup. https://wordwall.net/play/5915/836/887 (Critical thingking/keterampilan abad
21) (Identifikasi masalah / sintak discovery learning) 23.
Siswa melakukan tanya
jawab tentang cara lain menjaga kesehatan peredaran darah. (Critical thinking, Comunication/
Keterampilan abad 21) 24.
Siswa mengumpulkan
data dan informasi dari internet tentang nama-nama penyakit yang dapat
mengganggu peredaran darah dalam tubuh dan cara pencegahannya (Tanggung jawab/PPK, Critical
thinking/Keterampilan abad 21) (Pengumpulan data/ sintak discovery learning) 25. Siswa
menganalisis dan mengumpulkan data dan informasi dari internet tentang
nama-nama penyakit yang dapat mengganggu peredaran darah dalam tubuh dan cara
pencegahannya. (Tanggung jawab/PPK,
Critical thinking/Keterampilan abad 21) 26. Siswa
mencoba menemukan jawaban dari pertanyaan yang disajikan oleh guru. (Critical thingking/keterampilan abad
21) 27.
Siswa menuliskan
data-data yang diperoleh melalui LKPD yang guru bagikan. https://www.liveworksheets.com/pd1287527ui (Tanggung jawab/PPK) 28.
Siswa bersama guru
memverifikasikan hasil pengumpulan data siswa dan diberi penguatan oleh guru.
(Collaboration / Keterampilan abad 21) (Pembuktian/ sintak discovery
learning) 29.
Siswa menyimpulkan
dan menyebutkan cara-cara memelihara kesehatan peredaran darah dalam tubuh
yang sudah di tulis pada LKPD. (Communication/
Keterampilan abad 21) (Penarikan simpulan/ sintak discovery learning) 30.
Siswa membacakan
pantun yang ada pada powerpoint dengan
sebelumnya diberi contoh oleh guru (Communication/
Keterampilan abad 21) 31. Selesai
membaca, siswa mengamati pantun dengan seksama. (Critical thingking/keterampilan abad 21) (Pemberian stimulus/ sintak discovery learning) 32.
Siswa menganalisis
ciri-ciri pantun setelah diberi stimulus pertanyaan “Bagaimanakah isi dan
ciri-ciri pantun?’ (Critical thinking/
Keterampilan abad 21) (Identifikasi masalah / sintak discovery learning) 33.
Siswa melakukan tanya
jawab tentang isi pantun dan ciri-cirinya. (Critical thinking, Comunication/ Keterampilan
abad 21) 34.
Siswa mengumpulkan
data tentang isi pantun dan ciri-ciri pantun. (Tanggung jawab/ PPK, Critical thinking/ Keterampilan abad 21). (Pengumpulan data/ sintak discovery learning) 35.
Siswa mencoba
menjawab pertanyaan tentang pantun pada LKPD (Tanggung jawab/PPK, Critical Thinking dan memberikan penguatan ) 36.
Siswa mencoba
menuliskan pantun buatannya yang dituliskan pada LKPD. (Creativity/ Keterampilan abad 21) 37.
Siswa memverifikasi
hasil kerja siswa pada LKPD dan penguatan oleh guru (Collabration/ Keterampilan abad 21). (Pembuktian/ sintak discovery
learning) 38. Siswa
membacakan pantun buatannya (Percaya
diri/PPK, Communication/Keterampilan abad 21) 39.
Siswa menyimpulkan
dan menyebutkan isi dan ciri-ciri pantun yang sudah dituliskan pada LKPD (Critical thinking/ Keterampilan abad
21) (Penarikan simpulan/ sintak discovery learning) 40.
Siswa menjawab soal
evaluasi yang diberikan oleh guru melalui google
form (Tanggung jawab/ PPK) https://forms.gle/JbCJXkbo2bwQopTC8 (IPA)
https://forms.gle/ve7iA98UybfNJjtm8 (B.INDO) |
140 menit |
|
|
Penutup |
21. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya bagi yang
masih merasa belum memahami materi. (Communication/
Keterampilan abad 21) 22. Sebelum pelajaran diakhiri, guru meminta siswa
untuk melakukan refleksi kesimpulan kegiatan ini. (Critical thingking/ keterampilan abad 21) a) Apa yang kamu pelajari hari ini? b) Apa yang kalian sukai dari pembelajaran ini? c) Materi apa yang belum kalian pahami? 23. Kegiatan belajar ditutup dengan doa (Religius/PPK) |
15 menit |
|
|
Refleksi
dan Konfirmasi |
|||
|
Refleksi pencapaian siswa/formatif asesmen, dan
refleksi guru untuk mengetahui ketercapaian proses pembelajaran dan
perbaikan. |
|||
|
ASSESMENT (Penilaian) |
|||
|
Penilaian Sikap, Pengetahuan dan Keterampilan (Lihat
Lampiran) |
|||
C. LEMBAR PENILAIAN
1.
Aspek Pengetahuan
Muatan IPA
Bentuk soal : PG
Jumlah soal 10
Nilai = jumlah soal yang benar x 100
10
Muatan Bahasa Indonesia
Bentuk soal : PG
Jumlah soal 5
Nilai = jumlah soal yang benar x 20
2. Aspek Sikap
|
No |
Tanggal |
Nama
Siswa |
Catatan |
Tindakan
Lanjut |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3. Aspek Keterampilan
a. IPA
Dalam hal siswa mengidentifikasi
berbagai macam penyakit yang mempengaruhi organ peredaran darah manusia dan
cara memelihara kesehatan organ peredaran darah, diperiksa menggunakan rublik
berikut:
|
Aspek |
Sangat
Baik |
Baik |
Cukup |
Perlu
Bimbingan |
|
4 |
3 |
2 |
1 |
|
|
Menggunakan |
Menyajikan |
Menyajikan |
Menyajikan |
Belum
dapat |
|
Mengetahui
berbagai penyakit yang |
Menjelaskan |
Menjelaskan |
Menjelaskan |
Belum
dapat |
b. Bahasa Indonesia
Laporan hasil membuat pantun nasihat diperiksa
menggunakan rublik
|
Aspek |
Baik Sekali |
Baik |
Cukup |
Perlu Bimbingan |
|
|
4 |
3 |
2 |
1 |
|
Isi dan Pengetahuan: Hasil yang dibuat oleh siswa |
Sesuai dengan ciri-ciri pantun, yaitu: • Pantun bersajak a-ba-b. • Satu bait terdiri atas empat baris. • Tiap baris terdiri atas 8 sampai 12 suku kata. • Terdapat sampiran pada dua baris pertama dan isi pada
dua baris berikutnya |
Memenuhi 3 |
Memenuhi 2 |
Memenuhi 1 |
|
Penggunaan |
Penggunaan |
Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar digunakan dengan sangat efisien dalam sebagian besar penulisan pantun |
Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar digunakan dengan sangat efisien dalam sebagian kecil penulisan pantun |
Tidak ada
penggunaan Bahasa |
D. REMEDIAL DAN PENGAYAAN
1. Remedial
Bagi siswa yang belum berhasil
menulis pantun, akan membuat lagi dengan pendampingan guru.
2. Pengayaan
Siswa memperkuat kembali
pemahaman tentang ciri-ciri pantun
E. SUMBER BELAJAR
1. Buku Pedoman Guru Tema 4 Kelas 5 dan Buku Siswa Tema 4
Kelas 5 (Tematik Terpadu Kurikulum 2013, Jakarta. Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan, 2017)
2. Bahan ajar tentang materi berbagai penyakit yang
mempengaruhi peredaran darah dan cara mencegahnya
3. Bahan ajar materi tentang pantun
4. LKPD
|
Mengetahui Kepala Sekolah
SDN Kedungwaringin 03 HJ. MARYANI, S.Pd.SD NIP. 196105061983052001 |
Kedungwaringin, ............... Guru Kelas 5 , ELA MOULILLA RIANY, S.Pd NIP.
198708212019032009 |
Komentar
Posting Komentar