Penelitian Tindakan Kelas "PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA MELAUI PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING"

 

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA MELAUI PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING

(PENELITIAN TINDAKAN KELAS DI SDN KEDUNGWARINGIN 03, 2020)

                                

Laporan Penelitian Tindakan Kelas

Untuk memenuhi tugas PPG dalam Jabatan

 

 

 

 

 

 

 

 


Disusun Oleh :

        Ela Moulilla Riany, S.Pd

                                           No. Peserta       : 2002220710031

                                           Bidang Studi    : Guru Kelas SD

 

 

 

 

 

PROGRAM PPG DALAM JABATAN-GURU KELAS SD

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

2020

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah sebuah mata pelajaran di tingkat sekolah dasar (SD/MI). IPA merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan manusia. Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga perkembangan Teknologi. Pembelajaran IPA diharapkan bisa menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta pengembangan lebih lanjut dalam penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam proses pembelajaran siswa sebagai subjek pendidikan di tuntut supaya aktif dalam belajar mencari informasi dan mengeksplorasi sendiri atau secara berkelompok. Guru hanya berperan sebagai fasilitator dan pembimbing kearah pengoptimalan pencapaian ilmu pengetahuan yang dipelajari. Diharapkan dalam proses pembelajaran siswa mau dan mampu mengemukakan pendapat sesuai dengan apa yang telah dipahami, dapat mengkonstruksikan pengetahuannya secara mandiri.

Namun hal ini berbanding terbalik dengan fakta yang terjadi dilapangan. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan oleh peneliti di SDN Kedungwaringin 03 khususnya di kelas V, proses belajar mengajar masih berpusat pada guru. Kegiatan pembelajaran IPA masih dilakukan secara konvensional, dengan guru lebih banyak menerangkan materi pembelajaran dan peserta didik hanya berperan sebagai penyimak. Pembelajaran IPA yang demikian belum memberi kesempatan maksimal kepada peserta didik untuk mengkonstruksikan pengetahuannya.

Proses pembelajaran yang berlangsung di kelas hanya diarahkan pada kemampuan peserta didik untuk menghafal, mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diperoleh untuk menghubungkannya dengan situasi dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran yang telah diberikan. Selain itu dalam proses belajar mengajar, guru hanya terpaku pada buku teks sebagai satu-satunya sumber pembelajaran.

Hal ini berdampak pada kurangnya pemahaman konsep peserta didik. Salah satunya ditandai dengan rendahnya  hasil belajar peserta didik. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti didapatkan hasil bahwa secara umum nilai rata-rata kelas pada muatan pembelajaran IPA pada  PTS (Penilaian Tengah Semester ) hanya mencapai 55 sedangkan nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) satuan pendidikan di SDN Kedungwaringin 03 yaitu 75. Presentase siswa yang menguasai materi IPA hanya ada sekitar 37 %, yaitu sebanyak 11 orang dapat mrenguasai IPA, sedangkan presentase yang belum menguasai IPA ada 63% atau sebanyak 21 orang. Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar peserta didik kurang menguasai dan memahami mata pelajaran IPA.

Dari pemaparan diatas, menunjukan  bahwa terdapat keterkaitan antara rendahnya pemahaman peserta didik dengan proses pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Model, teknik dan sumber belajar yang digunakan oleh guru selama kegiatan pembelajaran yang kurang cocok dengan mata pelajaran IPA yang tidak hanya menekankan pada penghafalan materi semata. Maka dari itu guru harus lebih kreatif dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang akan disampaikan. Sebagai guru yang baik dituntut untuk dapat menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inofatif sehingga dapat tercipta suasana pembelajaran yang kondusif . Hal ini dimaksudkan agar tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai.

Berpedoman pada fakta-fakta diatas, salah satu alternatif pemecahan masalah yang dapat diambil adalah dengan penerapan model Discovery Learning sebagai upaya meningkatan kegiatan pembelajaran IPA. Model Discovery Learning adalah salah satu model pembelajaran yang mengkondisikan peserta didik untuk terbiasa menemukan, mencari, dan mendikusikan sesuatu yang berkaitan dengan pengajaran. Model pembelajaran ini mengutamakan peran guru dalam menciptakan situasi belajar yang melibatkan peserta didik belajar secara aktif dan mandiri. Kegiatan pembelajaran ini menekankan agar peserta didik terlibat langsung dalam pembelajaran sehingga peserta didik dapat mengalami dan menemukan sendiri konsep-konsep yang harus ia kuasai. Model Discovery Learning akan membuat pembelajaran lebih bermakna karena akan mengubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif serta mengubah pembelajaran yang semula  teacher oriented  ke  student oriented. Dengan demikian diharapkan peserta didik lebih memahami materi pembelajaran yang disampaikan.

Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas, maka perlu diadakan penelitian tindakan kelas sebagai upaya perbaikan proses pembelajaran konsep dalam mata pelajaran IPA dengan melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran IPA Melalui Penerapan Model Discovery Learning

 

B.  Identifikasi Masalah

Berdasarkan hasil identifikasi pada pembelajaran yang saya lakukan di pembelajaran yang menyebabkan kurangnya hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA  kelas 5, diantaranya  :

1.        Peserta didik hanya menghafal, mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diperoleh untuk menghubungkannya dengan situasi dalam kehidupan sehari-hari.

2.        Rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran IPA yang telah diberikan.

3.        Dalam proses belajar mengajar, guru hanya terpaku pada buku teks sebagai satu-satunya sumber pembelajaran.

 

C. Analisis Masalah

Melalui diskusi dengan para mitra peneliti tentang pembelajaran IPA di kelas 5. Maka analisis masalah diantaranya adalah :

1.        Guru hanya menggunakan metode konvensional. Metode penjelasan seperti ceramah merupakan suatu cara penyajian bahan atau penyempaian bahan pelajaran secara lisan dari guru. Dalam penyampaian metode ceramah sangat sederhana dari mulai pemberian iinformasi,klarifikasi, ilustrasi dan menyimpulkan.

2.        Guru tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuannya secara mandiri. Materi ajar hanya diberikan untuk dihapal dan diingat. Hanya ada transfer materi dari guru kepada siswanya.

3.        Guru hanya menggunakan buku teks sebagai salah satu sumber belajar, tidak ada keberagaman sumber belajar.

 

D. Rumusan Masalah

    Berdasarkan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Kedungwaringin 03 pada pembelajaran IPA kelas 5 dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana penggunaan model Discovery Learning pada pembelajaran IPA di Kelas V SD Negeri Kedungwaringin 03?

2. Bagaimana peran dan minat siswa terhadap penggunakan model Discovery Learning pada pembelajaran IPA di Kelas V SD Negeri Kedungwaringin 03?

3.  Bagaimana hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Kedungwaringin 03 pada pembelajaran IPA setelah menggunakan model Discovery Learning?

 

E.  Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini secara umum adalah “Untuk Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran IPA dengan Menggunakan Model Discovery Learning pada Siswa Kelas V SD Negeri Kedungwaringin 03 Kecamatan Kedungwaringin Kabupaten Bekasi”. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah sebgai berikut:

1.    Meningkatkan keterampilan guru dengan model Discovery Learning pada  pembelajaran IPA  di  kelas V SD Negeri Kedungwaringin 03 Kabupaten Bekasi

2.    Meningkatkan aktivitas dan minat siswa melalui penerapan model Discovery Learning pada pembelajaran IPA di Kelas V SD Negeri Kedungwaringin 03 Kabupaten Bekasi.

3.    Meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan model Discovery Learning pada Pembelajaran IPA  di kelas V SD Negeri Kedungwaringin 03 Kabupaten Bekasi.

 

F.   Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diambil  dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat teoritis

Melalui kegiatan penelitian ini diharapkan diperoleh suatu model pembelajaran yang tepat dalam melaksanakan pembelajaran IPA di kelas V SD Negeri Kedungwaringin 03, Kabupaten Bekasi sebagai salah satu upaya meningkatkan hasil belajar yang nantinya dapat dijadikan sebagai refrensi bagi  peneliti selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

 a. Bagi Peserta didik

1)      Meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai materi IPA

2)      Mendorong peserta didik lebih aktif, kreatif, dan berani mengungkapkan pendapat

3)      Mampu mengkonstruksikan pengetahuannya secara mandiri

4)      Menjadikan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga peserta didik termotivasi dan merasa antusias dalam mengikuti pembelajaran.

b.  Bagi guru

1)      Meningkatnya kemampuan guru dalam mengatasi kendala pembelajaran IPA.

2)      Dapat memberikan inspirasi bagi guru untuk melakukan proses belajar pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang inovatif sehingga tercipta pembelajaran yang menyenangkan.

3)      Melatih keprofesionalan seorang guru dalam mengembangkan model pembelajaran yang  sesuai dengan karakteristik peserta didik

c.  Bagi sekolah

1)      Hasil penelitian dapat dijadikan acuan dalam upaya pengadaan inovasi pembelajaran bagi para guru lain dalam mengajarkan materi.

2)      Sebagai masukan dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara intensif dan menggunakan model pembelajaran yang lebih inovatif agar kualitas pembelajaran lebih efektif khususnya pada kualitas sekolah.

 


 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A.      Hasil Belajar

Menurut Rifa’i dan Anni (2011, 85) hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik setelah mengalami kegatan belajar. Hasil belajar menurut Gagne & Bringgs (dalam Suprihatiningrum, 2014: 37) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat perbuatan belajar dan dapat diamati melalui penampilan siswa.

Menurut Bloom (dalam Suprijono, 2012:6-7), hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut Bloom (dalam Basuki dan Hariyanto, 2014: 14) domain kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yaitu:

1. Mengingat (remembering)

Mampu mengingat bahan-bahan yang baru saja dipelajari.

2. Memahami (understanding)

Memahami makna, translasi, interpolasi, dan penafsiran bahan ajar dan masalah.

3. Menerapkan (applying)

Mampu menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dan lain-lain di dalam kondisi pembelajaran.

4. Menganalisis (Analysing)

Siswa mampu menganalisis informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yang rumit.

5. Menilai (evaluating)

Siswa mampu mmberikan penilaian terhadap solusi , gagasan, metodologi, prosedur kerja dan lain-lain, dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya.

6. Menciptakan (creating)

Siswa menempatkan unsur-unsur bersama-sama untuk membentuk suatu keseluruhan yang koheren dan berfungsi mengorganisasikan kembali unsur-unsur menjadi suatu pola baru atau struktur baru melalui membangkitkan, merencanakan, atau menghasilkan sesuatu.

Domain afektif menurut Kratwohl, Blom dan Masia meliputi tujuan belajar yang berkenaan dengan minat, sikap, dan nilai serta pengembangan penghargaan dan penyesuaian diri. Domain afektif ini dibagi menjadi lima tujuan sebagai berikut:

1. Penerimaan, meliputi kesadaran akan adanya suatu sistem nilai, ingin menerima nilai, dan memperhatikan nilai tersebut, misalnya siswa menerima sikap jujur sebagai sesuatu yang diperlukan.

2. Pemberian respon, meliputi sikap ingin merespon terhadap sistem, puas dalam memberi respon, misalnya bersikap jujur dalam setiap tindakan.

3. Pemberian nilai atau penghargaan, penilaian meliputi penerimaan terhadap suatu objek nilai, memilih sistem nilai yang disukai dan memberikan komitmen untuk menggunakan sistem nilai tertentu.

4. Pengorganisasian, meliputi memilah dan menghimpun sistem nilai yang akan digunakan..

5. Karakterisasi, karakteristik meliputi perilaku secara terus menerus sesuai dengan sistem nilai yang telah diorganisasikan.

Domain psikomotor merupakan perilaku yang dimunculkan oleh hasil kerja fingsi tubuh manusia. Domain ini berbentuk gerakan tubuh, antara lain seperti berlari, melompat, melempar, berputar, memukul, menendang, dan lain lain. Ada lima tujuan pada domain psikomotor yaitu:

1.  Meniru, yaitu kemampuan mengamati suatu gerakan agar dapat merespos.

2. Menerapkan, yaitu kemampuan mengikuti pengarahan, pemilihan gerakan dan pendukung dengan membayangkan gerakan orang lain.

3. Memantapkan, yaitu kemampuan memberikan respons atau koreksi atau respons dengan kesalahan kesalahan terbatas atau minimal.

4. Merangkai, yaitu koordinasi merangkai gerak dengan membuat aturan yang tepat.

5. Naturalisasi, yaitu gerakan yang dilakukan secara rutin dengan menggunakan energi fisik dan psikis yang minimal.

 

B. Pembelajaran IPA

1. Pengertian Pembelajaran IPA

IPA merupakan singkatan kata “Ilmu Pengetahuan Alam”. Kata IPA terjemahan dari “Natural Science”. Natural artinya alamiah, dan Science artinya ilmu pengetahuan. Jadi Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) atau science secara harfiah dapat disebut sebagai ilmu tentang alam. Ilmu Pengetahuan Alam adalah ilmu yang mempelajari peristiwa yang terjadi di alam. IPA menawarkan cara-cara agar dapat memahami kejadian-kejadian di alam.

IPA salah satu ilmu pengetahuan yang menyuguhkan teori dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, dan

demikian seterusnya yang saling berkaitan antara cara yang satu dengan cara yang lain, pendapat tersebut selaras dengan Sutrisno, dkk. (2008: 1.19) yang menyatakan bahwa IPA merupakan usaha manusia dalam memahami alam.nJadi, IPA adalah suatu kumpulan teori yang sistematis, peranannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam, lahir dan berkembang melalui metode ilmiah seperti observasi dan eksperimen serta menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, terbuka dan jujur. IPA berkaitan dengan fakta, konsep, prinsip dan juga proses penemuan itu sendiri.

       Menurut Widi, dkk (2015) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan rumpuan ilmu, memiliki karakteristik khusus yaitu mempelajari fenomena alam yang faktual (factual), baik berupa kenyataan (reality) atau kejadian (events) dan berhubungan dengan sebab akibat. Cabang ilmu yang termasuk dalam rumpuan IPA saat ini antara lain Biologi, Fisika, IPA, Astronomi/ Astrofisika dan Geologi. IPA merupakan ilmu yang pada awalnya diperoleh dan dikembangkan berdasarkan percobaan (induktif) namun perkembangannya selanjutnya IPA juga diperoleh dan dikembangkan berdasarkan teori (deduktif).

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) juga merupakan ilmu pengetahuan

yang mempelajari tentang alam beserta isinya serta segala gejala yang terjadi didalamnya. Ilmu pengetahuan alam juga merupakan mata pelajaran di SD/MI yang dimaksudkan agar peserta didik mempunyai pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyususnan dan penyajian gagasan-gagasan.

IPA mengandung tiga unsur yaitu: proses (usaha manusia memahami alam semesta), prosedur (cara yang dilakukan memahami alam) dan produk (kesimpulan atau hasil dari belajar). Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) didefinisikan sebagai kumpulan pengetahuan yang tersusun secara terbimbing. IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja tetapi merupakan suatu proses penemuan.

IPA dapat definisikan sebagai ilmu pengetahuan tentang alam dengan segala isinya yang merupakan usaha dan hasil dari temuan manusia yang diperoleh dari langkah-langkah ilmiah, yaitu dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, dan demikian seterusnya yang saling berkaitan antara cara yang satu dengan cara yang lain untuk menemukan suatu kesempurnaan.

 

2.  Hakikat IPA

IPA tidak hanya fakta  tetapi juga proses, dalam memecahkan suatu masalah ahli IPA sering berusaha mengambil sikap atau metode tertentu yang memungkinkan usaha  mencapai hasil yang diharapkan. Sikap tersebut dikenal dengan nama sikap ilmiah. Sikap tersebut dikenal dengan nama sikap ilmiah. Nokes (1941) juga menjelaskan bahwa IPA merupakan pengetahuan teoritis yang diperoleh dengan metode khusus (Wasih Djojosoediro, 2010: 4).

Pada Hakikatnya, IPA dapat dipandang dari segi produk, proses, pengembangan sikap dan tekhnologi. Artinya belajar IPA memiliki dimensi proses, dimensi hasil (produk), dimensi pengembangan sikap ilmiah, dan IPA sebagai teknologi. Keempat dimensi tersebut bersifat saling terkait. Sulistyorini (2007: 9-10) mengemukakan bahwa proses belajar Mengajar IPA seharusnya mengandung tiga dimensi IPA yaitu:

a. IPA sebagai Produk

Merupakan akumulasi hasil upaya para perintis IPA terdahulu dan umumnya telah tersusun secara lengkap dan sistematis dalam bentuk buku teks. IPA sebagai produk juga merupakan hasil yang diperoleh dari suatu pengumpulan data yang disusun secara lengkap dan sistematis. Contoh IPA sebagai produk dalam penelitan ini adalah manfaat angin untuk menggerakkan kincir angin dan menggerakkan perahu layar.

b. IPA sebagai Proses

IPA disusun dan diperoleh melalui metode ilmiah. Jadi yang dimaksud oleh proses IPA tidak lain adalah metode ilmiah. Untuk anak SD, metode ilmiah dikembangkan secara bertahap dan berkesinambungan, dengan harapan bahwa pada akhirnya akan terbentuk paduan yang lebih utuh sehingga anak SD dapat melakukan penelitian sederhana. Tahapan pengembangan yang di sesuaikan dengan tahapan dari suatu proses penelitian eksperimen yang meliputi observasi, klasifikasi, interprestasi hasil, memprediksi, hipotesis awal, mengendalikan variabel yang direncanakan, merencanakan dan melaksanakan penelitian, inferensi, aplikasi dan komunikasi. Contoh IPA sebagai proses dalam penelitian ini adalah pada saat siswa melakukan percobaan, mengamati hasilnya, dan menuliskan hasil percobaan untuk mencari jawaban dari permasalahan yang dihadapi.

c. IPA Sebagai Pemupukan sikap

Sains sebagai sikap yaitu memotivasi siswa untuk mengembangkan pentingnya mencari jawaban dan penjelasan rasional tentang fenomena alam dan fisik serta melibatkan dalam aktivitas pembelajaran. Menurut Wynne Harlen dalam Hendro Darmodjo (1993), setidaknya ada sembilan aspek sikap dari ilmiah yang ada dan dapat dikembangkan pada anak usia SD, yaitu :

1)   Sikap ingin tahu;

2)   Sikap ingin mendapatkan sesuatu yang baru;

3)   Sikap tidak berprasangka sebelum mencoba;

4)   Sikap mawas diri;

5)   Sikap bertanggung jawab;

6)   Sikap kerja sama;

7)   Sikap tidak mudah putus asa;

8)   Sikap kedisiplinan diri;

9)   Sikap berfikir bebas.

Contoh IPA sebagai pemupukan sikap dalam penelitian ini adalah rasa ingin tahu, ingin mendapatkan sesuatu yang baru, bertanggung jawab, dan disiplin.

d. IPA sebagai teknologi

Hakikat IPA dari waktu ke waktu mengalami perkembangan. Tidak lepas dari perkembangan pelaksanaan metode ilmiah yang bergantung kepada kemajuan teknologi pada saat itu. Perkembangan teknologi yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dari belajar IPA. IPA bersifat praktis sebagai bekal yang berguna dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan observasi dan eksperimen banyak dipengaruhi oleh penggunaan peralatan atau instrumen yang digunakan, karena banyak fenomena alam yang tidak dapat secara langsung diamati oleh manusia dengan panca indera tanpa menggunakan bantuan teknologi. Contoh IPA sebagai teknologi dalam penelitian ini adalah pembuatan terasering pada tanah yang miring untuk mencegah terjadinya tanah longsor.

Belajar IPA tidak hanya terdiri dari satu konsep, belajar IPA terdiri dari empat konsep yaitu konsep IPA sebagai proses, IPA sebagai produk, IPA sebagai pemupukan sikap ilmiah dan IPA sebagai teknologi. Perpaduan dari keempat konsep inilah yang akan mengantarkan kita untuk bisa menggali lebih dalam lagi unsur-unsur yang terkandung di dalam pembelajaran IPA yang akan bermuara pada meningkatnya kualitas pembelajarn IPA, di mana guru akan berperan sebagai (fasilitator) yaitu memfasilitasi pembelajaran, (innovator) yaitu sebagai pembaharu, (transformator) yaitu sebagai penyalur ilmu, dan (evaluator) yaitu sebagai penilai yang akan mendukung siswa supaya lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai secara maksimal.

 

C. Teori Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar (SD)

Menurut Kerlinger, teori adalah konsep-konsep yang berhubungan satu sama lainnya yang mengandung suatu pandangan sistematis dari suatu fenomena. Belajar merupakan karakteristik yang membedakan manusia dengan makhluk yang lainnya dan merupakan aktivitas yang dilakukan sepanjang hayat untuk mendapatkan perubahan pada dirinya melalui pelatihan atau pengalaman. Terdapat beberapa teori dalam belajar yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli yang dapat dijadikan dasar dalam mengembangkan pembelajaran IPA. (Farida Nur Kumala. 2016. Pembelajaran IPA SD.)

 

Teori belajar tersebut diantaranya:

1. Teori belajar Behaviourisme

Pada teori ini dikembangkan oleh beberapa ilmuwan diantaranya Ivan Pavlov, Edward Lee throndike, Guthrie, Burrhus Frederic Skinner, dan Hull. Teori behavioristik menyatakan bahwa belajar merupakan bentuk yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Pembelajaran yang berpijak pada teori ini memandang bahwa pengetahuan adalah objektif, pasif, tetap, tidak berubah. Belajar merupakan  perolehan pengetahuan  dan mengajar dianggap memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar. Pelajar diharapkan memiliki pemahaman yang sama dengan terhadap pengetahuan yang diajarkan. Pelajar dianggap sebagai objek yang pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik dan dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas pada peserta didik untuk berkreasi, bereksperimen, dan mengeksplorasi kemampuan. Sebagai konsekuensi teori ini, para guru akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana sampai yang kompleks. Tujuan pembelajaran ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak.

Tidak setiap mata pelajaran bisa memakai metode ini, sehingga kejelian dan kepekaan guru pada situasi dan kondisi belajar sangat penting untuk menerapkan kondisi behavioristik. Behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membutuhkan praktek dan pembiasaan , cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.

2. Teori Perkembangan Kognitif

Teori ini lebih menekankan kepada proses belajar daripada hasil belajar, tidak hanya melibatkan hubungan antara stimulus dan respons bebih dari itu belajar adalah melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Menurut teori kognitivistik, ilmu pengetahuan dibangun didalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Belajar  dipandang sebagai usaha untuk mengerti sesuatu yang dilakukan secara aktif oleh siswa. Keaktifan itu dapat berupa mencari pengalaman, mencari informasi, mencermati lingkungan, mempraktekkan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Tokoh-tokoh dalam pengembangan teori Kognitif , yaitu :

a)      Teori Belajar Gagne

Menurut Gagne, Belajar itu merupakan suatu proses yang dapat dilakukan manusia, Belajar menyangkut interaksi antara pembelajar (orang yang belajar) dan lingkungannya dan Belajar telah berlangsung bila terjadi perubahan tingkah laku yang bertahap cukup lama selama kehidupan orang itu.

Menurut Gagne, ada 4 buah fase dalam proses belajar, yaitu:

1) Fase penerimaan (apprehending phase)

Pada fase ini, rangsang diterima oleh seseorang yang belajar. Ini ada beberapa langkah. Pertama timbulnya perhatian, kemudian penerimaan, dan terakhir adalah pencatatan (dicatat dalam jiwa tentang apa yang sudah diterimanya).

2)   Fase penguasaan (acquisition phase)

Pada tahap ini akan dapat dilihat apakah seseorang telah belajar atau belum. Orang yang telah belajar akan dapat dibuktikannya dengan memperlihatkan adanya perubahan pada kemampuan atau sikapnya.

3)  Fase pengendapan (Storage phase)

Sesuatu yang telah dimiliki akan disimpan agar tidak cepat hilang sehingga dapat digunakan bila diperlukan. Fase ini berhubungan dengan ingatan dan kenangan.

 

 

4)   Fase pengungkapan kembali (Retrieval phase)

Apa yang telah dipelajari, dimiliki, dan disimpan (dalam ingatan) dengan maksud untuk digunakan (memecahkan masalah) bila diperlukan. Jika kita akan menggunakan apa yang disimpan, maka kita harus mengeluarkannya dari tempat penyimpanan tersebut, dan inilah yang disebut dengan pengungkapan kembali. Fase ini meliputi penyadaran akan apa yang telah dipelajari dan dimiliki, serta mengungkapkannya dengan kata-kata (verbal) apa yang telah dimiliki tidak berubah-ubah.

Menurut Gagne, fase pertama dan kedua merupakan stimulus, dimana terjadinya proses belajar,sedangkan pada fase ketiga dan keempat merupakan hasil belajar. Mengajar adalah membimbing siswa untuk berinteraksi dengan lingkungan sehingga didapati proses belajar yang mengahasilkan perubahan tingkah laku yang melalui fase penerimaan, penguasaan, pengendapan, dan pengungkapn kembali.

Penerapan Teori Gagne Dalam Mengajarkan IPA di SD :

1)        Mengaktifkan motivasi (activating motivation)

2)        Memberi tahu pelajar tentang tujuan-tujuan belajar (instructional information)

3)        Mengarahkan perhatian (directing motivation)

4)        Merangsang ingatan (stimulating recall)

5)        Menyediakan bimbingan belajar (providing learning guidance)

6)        Meningkatkan retensi (enhancing retention)

7)        Membantu transfer belajar (helping transfer of learning)

8)        Mengeluarkan perbuatan (eliciting performance) dan memberi umpan balik (providing feedback)

 

b)      Teori Belajar Piaget

Belajar adalah suatu proses yang aktif, konstruktif, berorientasi pada tujuan, semuannya bergantung pada aktifitas mental peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan dari guru sesuai dengan perkembangan peserta didik. Mengajar adalah memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.

Menurut Piaget proses belajar sebenarnya terdiri atas tiga tahapan yaitu :

1)   Asimilasi : proses pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif  yang   sudah ada.

2)   Akomodasi : proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi baru.

3)   Equilibrasi : penyesuaian yang berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.

Piaget juga mengatakan  bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa. Oleh karena itu guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif anak didiknya serta memberikan isi, metode, media pembelajaran yang sesuai dengan tahapannya. Menurut Piaget, ada sedikitnya tiga hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam merancang pembelajaran di kelas, terutama dalam pembelajaran IPA. Ketiga hal tersebut adalah :

1)   Seluruh anak melewati tahapan yang sama secara berurutan ;

2)   Anak mempunyai tanggapan yang berbeda terhadap suatu benda atau kejadian

3)   Apabila hanya kegiatan fisik yang diberikan kepada anak, tidaklah cukup untuk menjamin perkembangan intelektual anak.

Cara Pembelajaran IPA di SD Berdasarkan Teori Piaget

1)        Mulailah dari hal-hal yang konkret yaitu kegiatan aktif mempergunakan pancaindra dengan benda nyata atau konkret.

2)        Penata awal, yaitu suatu informasi umum mengenai apa yang akan diajarkan, agar murid mempunyai kerangkakerja untuk mengasimilasikan informasi baru ke dalam struktur kognitifnya.

3)        Pergunakanlah kegiatan yang bervariasi karena murid mempunyai tingkat perkembangan kognitif yang berbeda dan gaya belajar yang berlainan

4)        Guru harus selalu memperhatikan pada setiap siswa apa yang mereka lakukan, apakah mereka melaksanakan dengan benar, apakah mereka tidak mendapatkan kesulitan.

5)        Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan sendiri jawabanya, sedangkan guru harus selalu siap dengan alternatif jawaban bila sewaktu-waktu dibutuhkan

6)        Pada akhir pembelajaran, guru mengulas kembali bagaimana siswa dapat menemukan jawaban yang diinginkan. .(Siti Nurjannah. 2016. Teori Belajar dalam Pembelajaran IPA SD (E-Learning)).

 

c)      Teori Belajar Ausubel

 Menurut Ausubel siswa akan belajar dengan baik jika isi pelajarannya didefinisikan dan kemudian dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa (advanced organizer), dengan demikian akan mempengaruhi pengaturan kemampuan belajar siswa. Advanced organizer adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi seluruh isi pelajaran yang akan dipelajari oleh siswa sehingga  membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah. Inti dari teori belajarnya adalah belajar bermakna. Belajar bermakna adalah suatu proses yang dikaitkan dengan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat pada struktur kognitif seseorang. Mengajar adalah mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar bermakna. Mereka yang berada pada tingkat pendidikan dasar, akan lebih bermanfaat jika siswa diajak beraktivitas, dilibatkan langsung dalam kegiatan pembelajaran. Sedangkan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi, akan lebih efektif jika menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram dan ilustrasi.

Dalam penerapannya di IPA SD, Ausubel membuat peta hirarki konsep-konsep dimana konsep- konsep yang bersifat umum berada di puncak hirarki dan semakin ke bawah konsep-konsep diurutkan lebih khusus. Hal tersebut didasarkan pada prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh Ausubel yaitu :

1)      Pengatur awal

Pengatur awal dapat digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep yang baru yang lebih tinggi maknanya.

2)      Prinsip Diferensiasi Progresif

Dalam diferensiasi progresif, konsep-konsep yang diajarkan dimulai dengan konsep-konsep yang umum menuju konsep-konsep yang lebih khusus.

3)      Prinsip Rekonsiliasi integratif

Dalam rekonsiliasi integratif, konsep-konsep atau gagasan-gagasan perlu diintegrasikan dan disesuaikan dengan konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya

Ada empat ciri peta konsep Ausubel, yakni:

1)   Pemetaan konsep merupakan suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan organisasi dalam suatu bidang studi. Ini berlaku bukan hanya untuk bidang studi IPA

2)   Suatu peta konsep merupakan suaatu gambaran/diagram dua dimensi daari suaatu disiplin atau suatu bagian dari suatu disiplin.

3)   Dari setiap konsep, konsep yang paling umum (inklusif) terdapat pada puncak konsep, makin kebawah konsep-konsep menjadi lebih khusus sampai pada pemberian contoh-contoh.

4)   Suatu peta konsep memmuat hierarki konsep-konsep. Makin tinggi suatu hierarki yang ditunjukkan maka makin tinggi nilai peta konsep itu.

 

d)      Teori Belajar Bruner

Belajar merupakan kegiatan perolehan informasi yang disebut sebagai belajar penemuan yang merupakan berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Bruner mengungkapkan bahwa dalam proses belajar, anak sebaiknya diberikan kesempatan untuk memanipulasi objek atau benda-benda (alat peraga). Melalui alat peraga itu, anak akan langsung melihat bagaimana keteraturan dan pola srtuktur dari benda yang diperhatikannya tersebut. Keteraturan yang didapat anak melaui pengamatan/keterlibatan secara langsung tersebut kemudian oleh anak dihubungkan dengan keterangan instuitif yang melekat padanya.

Ada tiga tahap pembelajaran dikemukakan oleh Bruner, yaitu :

1). Tahap Enaktif

Anak secara langsung terlibat dalam memanipulasi (mengotak-atik objek)

2). Tahap Ikonik

Kegiatan yang dilakukan anakberhubungan dengan mental yang merupakan gambaran dari objek-objek yang memanipulasinya.

3)      Tahap Simbolik

Anak memanipulasi simbol-simbol atau lambang objek tertentu. Anak tidak lagi terkait objek namun sudah mampu menggunakan notasi tanpa tergantung objek riilnya. Anak yang memulai untuk secara simbolik memproses informasi.

Menurut Bruner, dalam proses belajar siswa menempuh tiga tahap, yaitu:

1)      Tahap informasi (tahap penerimaan materi)

Dalam tahap ini, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari.

2)      Tahap transformasi (tahap pengubahan materi)

Dalam tahap ini, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual.

3)      Tahap evaluasi

Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala atau masalah yang dihadapi.

Dalam penerapannya dalam proses pembelajaran di kelas, Bruner mengembangkan model pembelajaran penemuan. Model ini pada prinsipnya memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh informasi sendiri dengan bantuan guru dan biasanya menggunakan barang yang nyata. Peranan guru dalam pembelajaran ini bukanlah sebagai seorang pemberi informasi melainkan seorang penuntun untuk mendapatkan informasi.(Nurjannah, Siti. 2016. Teori Belajar dalam Pembelajaran IPA SD (E-Learning)).

 

3. Teori Belajar Konstruktivisme

Teori konstruktivisme merupakan teori yang menyatakan bahwa pengetahuan adalah hasil konstruksi dari kegiataan atau tindakan seseorang. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang ada diluar, tetapi ada dalam diri seseorang yang membentuknya berdasarkan dari hasil pengalaman yang didapatkannya. Menurut Slavin dalam Trianto (2009) menyatakan bahwa konstruktivisme merupakan suatu proses dimana anak secara aktif membangun sistem arti dan pemahaman terhadap realita melalui pengalaman dan interaksi mereka. Anak secara aktif membangun pengetahuan dengan cara terus menerus mengasimilasi dan mengakomodasi informasi baru, dengan kata lain konstruktivisme adalah teori perkembangan kognitif yang menekankan peran aktif siswa dalam membangun pemahaman mereka tentang realita berdasarkan pengembangan skemata siswa yang berasal dari proses asimilasi dan akomodasi. (Farida Nur Kumala. 2016. Pembelajaran IPA SD.)

Aliran kosntruktivisme menghendaki peserta didik untuk mencari sendiri berdasarkan pengalaman dari indra yang dimilikinya sehingga didapatkan pengetahuan yang bermakna bagi siswa. Belajar merupakan proses timbal balik antara individu dan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok. Jadi belajar dapat berasal dari diri sendiri maupun dari keterlibatan orang lain yang dapat dijadikan siswa untuk mengevaluasi maupun memperbaiki pemahaman atau pengetahuan siswa.

Implikasi teori konstruktivisme dalam pembelajaran, diantaranya siswa dapat belajara melalui pengamatan dan pemberian pengalaman kepada siswa, untuk mengkonstruksi pengetahuan pada siswa maka pembelajaran lebih didasarkan pada permasalahan sehari – hari, pemecahan masalah dapat dilakukan melalui pemikiran pribadi siswa dan akan lebih baik berasal dari tukar pemikiran dengan orang lain untuk memperkaya pengetahuan siswa.

Teori pembelajaran ini tepat dikembangkan dalam pembelajaran IPA, sebab pembelajaran akan lebih bermakna dan sesuai dengan karakteristik pembelajaran IPA yang lebih diarahkan ke lingkungan siswa. Hal ini disebabkan siswa dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuannya didasarkan apa yang diketahui dilingkungannya. Pembelajaran yang bermakna akan membuat siswa lebih paham tentang apa yang dipelajarinya. Teori belajar konstruktivisme dianggap mampu mengembangkan kemampuan berpikir dan kemandirian siswa, sebab siswa akan berusaha mencari dan berpikir cara untuk mendapatkan hal yang diinginkan , siswa tidak hanya sebagai penerima pesan satu arah dari guru. Siswa dapat melakukan diskusi dan ekperimentasi . Menurut (Jensen, 2011) Salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa dapat dilakukan melalui beberapa hal yaitu mengajukan pertanyaan bermutu tinggi, menganalisa dan meramalkan informasi, dan mengembangkan keterampilan berdiskusi.

Tokoh teori konstruktivisme adalah piaget dan Vygotsky. Teori konstruktivisme dari Piaget lebih menekan bahwa peserta didik belajar dari pengalamannya atau individu peserta didik tersebut seperti halnya teori pekembangan kognitif yang telah disampaikan sebelumnya.

a)      Teori Belajar Vygotsky

Vygotskt merupakan tokoh konstruktivisme social, yang mana menyatakan bahwa siswa akan dapat lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabalia mereka dapat saling mendiskusikan masalah-masalah itu dengan temannya.(Farida Nur Kumala. 2016. Pembelajaran IPA Sekolah Dasar.)

Belajar yaitu suatu proses dimana seorang siswa belajar setahap demi setahap akan memperoleh keahlian dalam interaksinya dengan orang lain. Pembelajaran terjadi apabila anak-anak bekerja atau menangani tugas-tugas yang belum dipelajarinya namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkuan kemampuannya.

Proses pembelajaran terjadi dua tahap yaitu :

1)      Terjadi saat anak beajar secara berkolaborasi dengan orang lain

2)      Dilakukan secara individual yang didalamnya terjadi proses internalisasi

Mengajar adalah membimbing siswa untuk mengembangkan ide-ide baru dan berkolaborasi dengan orang lain sehingga fungsi guru sebagai pembantu dan mediator pembelajaran siswa.

Penerapan Dalam Pembelajaran IPA SD:

1)      Pembelajaran kooperatif antar siswa tertata dengan baik

2)      Pendekatannya dalam pembelajaran menerapkan scfolding yaitu pemberian sejumlah besar bantuan pada siswa pada awal bantuan pembelajaran sehingga siswa semakin lama semakin bertanggung jawab terhadap pembelajarannya sendiri. Kemudian secara perlahan bantuan tersebut dikurangi dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab setelah ia mampu mengerjakan sendiri.

3)      Prinsip-prinsip dalam pembelajaran IPA SD adalah prinsip pemahaman kita tentang dunia di sekitar kita dimulai melalui pengalaman

4)      Dikehendaki setting kelas berbentuk pembelajaran kooperatif antar siswa, sehingga siswa dapat berinteraksi disekitar tugas-tugas dan saling memunculkan strategi pemecahan yang efektif

 

D. Discovery Learning

Model pembelajaran penemuan (discovery learning) diartikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi ketika siswa tidak disajikan informasi secara langsung tetapi siswa dituntut untuk mengorganisasikan pemahaman mengenai informasi tersebut secara mandiri. Siswa dilatih untuk terbiasa menjadi seorang yang saintis (ilmuan). Mereka tidak hanya sebagai konsumen, tetapi diharapkan pula bisa berperan aktif, bahkan sebagai pelaku dari pencipta ilmu pengetahuan.

1. Pengertian Discovery Learning

Menurut Kurniasih, dkk (2014:64), Model discovery learning adalah proses pembelajaran yang terjadi bila pelajaran tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya,tetapi diharapkan siswa mengorganisasikan sendiri. Discovery adalah menemukan konsep melalui serangkaian data atau informasi yang diperoleh melalui pengamatan atau percobaan.

Menurut Ruseffendi (2006:329), metode Discovery Learning adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri.

Menurut Hosnan (2014:282), discovery learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan. Melalui belajar penemuan, siswa juga bisa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri masalah yang dihadapi.

2. Jenis dan Bentuk Discovery Learning

Menurut Suprihatiningrum (2014:244), terdapat dua cara dalam pembelajaran penemuan (Discovery Learning), yaitu:

a.         Pembelajaran penemuan bebas (Free Discovery Learning) yakni pembelajaran penemuan tanpa adanya petunjuk atau arahan.

b.        Pembelajaran penemuan terbimbing (Guided Discovery Learning) yakni pembelajaran yang membutuhkan peran guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajarannya.

Bentuk metode pembelajaran Discovery Learning dapat dilaksanakan dalam komunikasi satu arah atau komunikasi dua arah bergantung pada besarnya kelas, yang dijelaskan lebih detail sebagai berikut (Oemar Hamalik, 2009:187):

a.         Sistem satu arah. Pendekatan satu arah berdasarkan penyajian satu arah yang dilakukan guru. Struktur penyajian dalam bentuk usaha merangsang siswa melakukan proses discovery di depan kelas. Guru mengajukan suatu masalah, dan kemudian memecahkan masalah-masalah tersebut melakukan langkah-langkah discovery.

b.        Sistem dua arah. Sistem dua arah melibatkan siswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan guru. Siswa melakukan discovery, sedangkan guru membimbing mereka ke arah yang tepat atau benar.

3. Karakteristik dan Tujuan Discovery Learning

Menurut Hosnan (2014), ciri atau karakteristik Discovery Learning adalah (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, mengabungkan, dan menggeneralisasi pengetahuan; (2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.

Sedangkan menurut Bell, metode Discovery Learning meliliki tujuan melatih siswa untuk mandiri dan kreatif, antara lain sebagai berikut (Hosnan, 2014):

a.    Dalam penemuan siswa memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Kenyataan menunjukan bahwa partisipasi banyak siswa dalam pembelajaran meningkat ketika penemuan digunakan.

b.    Melalui pembelajaran dengan penemuan, siswa belajar menemukan pola dalam situasi konkrit mauun abstrak, juga siswa banyak meramalkan (extrapolate) informasi tambahan yang diberikan.

c.    Siswa juga belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan menggunakan tanya jawab untuk memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan.

d.   Pembelajaran dengan penemuan membantu siswa membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi, serta mendengar dan mneggunakan ide-ide orang lain.

e.    Terdapat beberapa fakta yang menunjukan bahwa keterampilan-keterampilan, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari melalui penemuan lebih bermakna.

f.     Keterampilan yang dipelajari dalam situasi belajar penemuan dalam beberapa kasus, lebih mudah ditransfer untuk aktifitas baru dan diaplikasikan dalam situasi belajar yang baru.

4. Langkah-langkah Discovery Learning

Menurut Veerman (2003) langkah-langkah pembelajaran dalam model discovery learning antara lain Orientation, Hypothesis Generation, Hypothesis Testing, Conclusion dan Regulation, yang secara rinci dijelaskan sebagai berikut:

a.  Orientation

Guru memberikan fenomena yang terkait dengan materi yang diajarkan untuk memfokuskan siswa pada permasalahan yang dipelajari. Fenomena yang ditampilkan oleh guru membuat guru mengetahui kemampuan awal siswa. Tahap orientation melibatkan siswa untuk membaca pengantar dan atau informasi latar belakang, mengidentifikasi masalah dalam fenomena, menghubungkan fenomena dengan pengetahuan yang didapat sebelumnya. Sintaks orientation melatihkan kemampuan interpretasi, analisis dan evaluasi pada aspek kemampuan berpikir kritis. Produk dari tahapan orientation dapat digunakan untuk tahapan yang lainya terutama tahapan hypothesis generation dan conclusion.

b.  Hypothesis Generation

Informasi mengenai fenomena yang didapatkan pada tahapan orientation digunakan pada tahapan hypothesis generation. Tahapan hypothesis generation membuat siswa merumuskan hipotesis terkait permasalahan. Siswa merumuskan masalah dan mencari tujuan dari proses pembelajaran. Sintaks hypothesis generation melatihkan kemampuan interpretasi, analisis, evaluasi dan inferensi. Masalah yang telah dirumuskan diuji pada tahapan hypothesis testing.

 

c.  Hypothesis Testing

Hipothesis yang dihasilkan pada tahapan hypothesis generation tidak dijamin kebenaranya. Pembuktian terhadap hipotesis yang dibuat oleh siswa dibuktikan pada tahapan hypothesis testing. Tahapan pengujian hipotesis siswa harus merancang dan melaksanakan eksperimen untuk membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan, mengumpulkan data dan mengkomunikasikan hasil dari eksperimen. Sintaks hypothesis testing melatihkan kemampuan regulasi diri, evaluasi, analisis, interpretasi dan penjelasan.

d. Conclusion

Kegiatan siswa pada tahapan conclusion adalah meninjau hipotesis yang telah dirumuskan dengan fakta-fakta yang telah diperoleh dari pengujian hipotesis. Siswa memutuskan fakta-fakta hasil pengujian hipotesis apakah sesuai dengan hipotesis yang telah dirumuskan atau siswa mengidentifikasi ketidaksesuaian antara hipotesis dengan fakta yang diperoleh dari pengujian hipotesis. Tahapan conclusion membuat siswa merevisi hipotesis atau mengganti hipotesis dengan hipotesis yang baru. Sintaks conclusion melatihkan kemampuan menyimpulkan, analisis, interpretasi, evaluasi dan penjelasan.

e.  Regulation

Tahapan regulation berkaitan dengan proses perencanaan, monitoring dan evaluasi. Perencanaan melibatkan proses menentukan tujuan dan cara untuk mencapai tujuan tersebut. Monitoring merupakan sebuah proses untuk mengetahui kebenaran langkah-langkah dan tindakan yang diambil oleh siswa terkait waktu pelaksanaan dan hasil berdasarkan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Guru mengkonfirmasi kesimpulan dan mengklarifikasi hasil-hasil yang tidak sesuai untuk menemukan konsep sebagai produk dari proses pembelajaran. Sintaks regulation melatihkan kemampuan evaluasi, regulasi diri, analisis, penjelasan, interpretasi dan menyimpulkan.

 

 

5. Kelebihan dan Kekurangan Discovery Learning

Suherman, dkk (2001:179) menyebutkan terdapat beberapa kelebihan atau keunggulan metode Discovery Learning, yaitu:

a.         Siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir.

b.        Siswa memahami benar bahan pelajarannya, sebab mengalami sendiri proses menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama untuk diingat.

c.         Menemukan sendiri bisa menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorongnya untuk melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat.

d.        Siswa yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks.

e.         Metode ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar sendiri.

Sedangkan menurut Kurniasih, dkk (2014:64-65), metode Discovery Learning juga memiliki beberapa kelemahan atau kekurangan, antara lain sebagai berikut:

a.    Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Bagi siswa yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep- konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi.

b.    Metode ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak, karna membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori untuk pemecahan masalah lainnya.

c.    Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara- cara belajar yang lama.

d.   Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian.

e.    Pada beberapa disiplin ilmu, misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur gagasan yang dikemukakan oleh para siswa.

f.     Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berfikir yang akan ditemukan oleh siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru.


 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

A. Penelitian Tindakan Kelas

1.    Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas disingkat PTK atau Classroom Action Research adalah bentuk penelitian yang terjadi di dalam kelas berupa tindakan tertentu yang dilakukan untuk memperbaiki proses belajar mengajar guna meningkatkan hasil belajar yang lebih baik dari sebelumnya.

Menurut Arikunto, dkk (2006), penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.

Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu proses tindakan mengubah perilaku mengajar seorang guru, perilaku siswa di kelas, serta mengubah strategi dan metode pembelajaran untuk peningkatan dan perbaikan praktik pembelajaran di kelas sehingga terjadi proses perbaikan layanan profesional guru dalam proses pembelajaran.

2.    Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas

Menurut Hopkins (1993), penelitian tindakan kelas diawali dengan perencanaan tindakan (Planning), penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (Observation and evaluation). Sedangkan prosedur kerja dalam penelitian tindakan kelas terdiri atas empat komponen, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting), dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai (kriteria keberhasilan). Gambar dan penjelasan langkah-langkah penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut:

Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas

a.         Perencanaan (Planning), yaitu persiapan yang dilakukan untuk pelaksanaan Penellitian Tindakan Kelas, seperti: menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan pembuatan media pembelajaran.

b.        Pelaksanaan Tindakan (Acting), yaitu deskripsi tindakan yang akan dilakukan, skenario kerja tindakan perbaikan yang akan dikerjakan serta prosedur tindakan yang akan diterapkan.

c.         Observasi (Observe), Observasi ini dilakukan untuk melihat pelaksanaan semua rencana yang telah dibuat dengan baik, tidak ada penyimpangan-penyimpangan yang dapat memberikan hasil yang kurang maksimal dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Kegiatan observasi dapat dilakukan dengan cara memberikan lembar observasi atau dengan cara lain yang sesuai dengan data yang dibutuhkan.

d.        Refleksi (Reflecting), yaitu kegiatan evaluasi tentang perubahan yang terjadi atau hasil yang diperoleh atas yang terhimpun sebagai bentuk dampak tindakan yang telah dirancang. Berdasarkan langkah ini akan diketahui perubahan yang terjadi. Bagaimana dan sejauh mana tindakan yang ditetapkan mampu mencapai perubahan atau mengatasi masalah secara signifikan. Bertolak dari refleksi ini pula suatu perbaikan tindakan dalam bentuk replanning dapat dilakukan.

B. Subjek Penelitian, Tempat dan Waktu Pelaksanaan

1.      Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas V SDN Kedungwaringin 03 Kabupaten Bekasi tahun pelajaran 2020/2021 dengan jumlah 30 siswa yang terdiri 12 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan.

2.      Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Penelitian Tindakan Kelas yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu di kelas V semester ganjil pada tahun ajaran 2020/2021 di SDN Kedungwaringin 03. SDN Kedungwaringin 03 ini beralamat di Kampung Kedung Gede, Desa Kedungwaringin, Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi. Lokasi SDN Kedungwaringin 03 berada di lokasi yang strategis karena berada di pusat Kecamatan Kedungwaringin. SDN Kedungwaringin 03 ini dipilih menjadi tempat penelitian karena SDN Kedungwaringin 03 tersebut merupakan sekolah tempat bertugas peneliti dan adanya kesediaan untuk bekerjasama dari kepala sekolah dan guru kelas yang bersangkutan, selain itu karena SDN Kedungwaringin 03 memerlukan pengembangan model pembelajaran yang akan meningkatkan prestasi kinerja guru dan aktivitas siswa, dengan demikian tujuan pembelajaran akan tercapai dengan optimal.

Waktu pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada tanggal 19 Oktober -   

 

C. Prosedur Penelitian

Penelitian yang dilaksanakan di salah satu SD Negeri di Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada muatan mata pelajaran IPA. Peneliti melakukan langkah-langkah kegitan sebagai berikut :

1. Tahap Persiapan

a. Observasi/ Sit in

Observasi atau sit in dilakukan kurang lebih satu minggu di kelas V SDN Kedungwaringin 03 untuk mendapatkan gambaran awal yang terjadi di kelas tersebut.

b. Mengidentifikasi Masalah

Setelah melakukan observasi/ sit in, peneliti melakukan identifikasi terhadap masalah-masalah yang ditemukan di kelas. Dari identifikasi ini, peneliti menentukan masalah yang paling krusial untuk diberikan tindakan. Ternyata siswa di kelas yang peneliti jadikan subjek penelitian hasil belajarnya masih redah terutama untuk muatan IPA.

c. Mengajukan Proposal Penelitian

Setelah peneliti mengidentifikasi masalah di kelas tempat subjek penelitian, peneliti membuat proposal penelitian dan mengajukan kepada dosen pembimbing lapangan untuk dikonsultasikan mengenai gambaran masalah yang ditemukan di kelas dan meminta persetujuan untuk melakukan penelitian.

d. Mengurus Surat Izin Permohonan Penelitian

Selanjutnya peneliti mengurus surat izin permohonan penelitian untuk Kepala Sekolah SDN Kedungwaringin 03 untuk melakukan penelitian sebagai pemenuhan tugas PPG dalam jabatan.

e. Menyerahkan Surat Permohonan Izin Penelitian kepada Kepala Sekolah

Setelah surat permohonan izin mengadakan penelitian didapatkan oleh peneliti, maka peneliti menyerahkan surat permohonan izin tersebut kepada pihak sekolah dengan melampirkan proposal penelitian.

2. Tahap Tindakan

Berdasarkan model PTK yang digunakan dalam penelitian ini adalah model spiral dari Kemmis dan Mc Taggart, dimana terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.

a. Siklus 1

Sebelum melaksanakan pembelajaran siklus I dengan menerapkan model Discovery Learning, tahap pertama yang dilakukan peneliti adalah melaksanakan perencanaan pembelajaran meliputi:

1). Perencanaan

Menyusun instumen pembelajaran Instrumen pembelajaran diantaranya membuat RPP dan bahan ajar, media, LKPD, dan evaluasi yang sesuai dengan pembelajaran daring. Penyusunan RPP menggunakan model Discovery Learning.


 

2) Membuat LKPD

LKPD yang digunakan merujuk pada langkah-langkah Guided Discovery Learning, dan pelaksanaan tahapnya runtut dimulai dari tahap 1 Stimulation (pemberian rangsangan), tahap 2 Problem statement (identifikasi masalah), tahap 3 Data collecting (pengumpulan data), tahap 4 Data processing (pengolahan data), tahap ke 5 Verification (pembuktian) , dan tahap 6 atau tahap terakhir yaitu Generalization (menarik kesimpulan).

3) Menyusun instrumen pengungkap data

Instrumen pengungkap data yang digunakan yaitu Lembar Observasi dan instrumen tes. Lembar observasi yang digunakan adalah lembar observasi terbuka sehingga observer bisa menuliskan deskripsinya selama pelaksanaan siklus.

4) Mengkonsultasikan instrumen pembelajaran dan pengungkap data

Setelah seluruh instrumen pembelajaran dan pengungkap data selesai dipersiapkan peneliti selalu mengkonsultasikan dan melakukan bimbingan kepada dosen pembimbing agar dalam pelaksanaannya lancar dan hasil bisa maksimal.

5) Menyiapkan media pembelajaran

Media yang pertama dibuat oleh peneliti yaitu video pembelajaran.

6) Menyiapkan alat dokumentasi

Alat dokumentasi digunakan untuk mengabadikan setiap tahap dalam pelaksanaan pembelajaran agar seluruh tahap teramati. Dokumentasi yang dimaksud berupa video ketika kegiatan berlangsung.

b. Pelaksanaan

Siklus I dilaksanakan pada hari Rabu, 21 Oktober 2020, dimulai pada pukul 08.00.

 c. Pengamatan

Pada pelaksanaannya, dilaksanakan observasi dan tes formatif (evaluasi) pada akhir pembelajaran.

d. Refleksi

Setelah selesai siklus, peneliti dan para observer yang telah membantu peneliti berdiskusi mengenai pembelajaran yang telah dilaksanakan. Tidak lupa peneliti meminta saran dan kritik serta komentar terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah peneliti laksanakan. Kegiatan diskusi ini sangat membantu peneliti untuk memperbaiki kekurangan peneliti di siklus I ini agar di siklus selanjutnya peneliti bisa lebih baik lagi. Berdasarkan hasil refleksi diatas, peneliti merekomendasikan pelaksanaan pembelajaran muatan IPA dengan menerapkan model Discovery Learning untuk siklus II sebagai berikut:

1)      Memberikan bahan ajar atau media ajar yang bisa dipelajari secara asinkronus.

2)      Memberikan kegiatan pembelajaran yang lebih menarik untuk siswa.

3)      Memberi penguatan terhadap jawaban siswa.

4)      Dalam siklus selanjutnya diharapkan peneliti melaksanakan seluruh aktivitas yang telah disusun sebelumnya agar seluruh aktivitas terlaksana.

b. Siklus II

Sebelum melaksanakan pembelajaran siklus II dengan menerapkan model Discovery Learning, tahap pertama yang dilakukan peneliti adalah melaksanakan perencanaan pembelajaran yang sesuai dengan refleksi di tahap I, meliputi:

1). Perencanaan

Menyusun instumen pembelajaran Instrumen pembelajaran diantaranya membuat RPP dan bahan ajar, media, LKPD, dan evaluasi yang sesuai dengan pembelajaran daring. Penyusunan RPP menggunakan model Discovery Learning

2) Membuat LKPD

LKPD yang digunakan merujuk pada langkah-langkah Discovery Learning, dan pelaksanaan tahapnya runtut dimulai dari tahap 1 Stimulation (pemberian rangsangan), tahap 2 Problem statement (identifikasi masalah), tahap 3 Data collecting (pengumpulan data), tahap 4 Data processing (pengolahan data), tahap ke 5 Verification (pembuktian) , dan tahap 6 atau tahap terakhir yaitu Generalization (menarik kesimpulan).

3) Menyusun instrumen pengungkap data

Instrumen pengungkap data yang digunakan yaitu Lembar Observasi dan instrumen tes. Lembar observasi yang digunakan adalah lembar observasi terbuka sehingga observer bisa menuliskan deskripsinya selama pelaksanaan siklus.

4) Mengkonsultasikan instrumen pembelajaran dan pengungkap data

Setelah seluruh instrumen pembelajaran dan pengungkap data selesai dipersiapkan peneliti selalu mengkonsultasikan dan melakukan bimbingan kepada dosen pembimbing agar dalam pelaksanaannya lancar dan hasil bisa maksimal.

5) Menyiapkan media pembelajaran

Media yang pertama dibuat oleh peneliti yaitu video pembelajaran.

6) Menyiapkan alat dokumentasi

Alat dokumentasi digunakan untuk mengabadikan setiap tahap dalam pelaksanaan pembelajaran agar seluruh tahap teramati. Dokumentasi yang dimaksud berupa video ketika kegiatan berlangsung.

b. Pelaksanaan

Siklus II dilaksanakan pada hari Senin, 2 Nopember 2020, dimulai pada pukul 08.00.

 c. Pengamatan

Pada pelaksanaannya, dilaksanakan observasi dan tes formatif (evaluasi) pada akhir pembelajaran.

d. Refleksi

Setelah selesai siklus, peneliti dan para observer yang telah membantu peneliti berdiskusi mengenai pembelajaran yang telah dilaksanakan. Tidak lupa peneliti meminta saran dan kritik serta komentar terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah peneliti laksanakan. Kegiatan diskusi ini sangat membantu peneliti untuk memperbaiki kekurangan peneliti di siklus I ini agar di siklus selanjutnya peneliti bisa lebih baik lagi. Berdasarkan hasil refleksi diatas, peneliti merefleksikan pelaksanaan pembelajaran muatan IPA dengan menerapkan model Discovery Learning pada siklus II sebagai berikut:

1)        Hasil pengamatan guru tentang hasil belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran discovery learning yang dicapai pada siklus II dan perbandingannya dengan siklus I

2)        Hasil pengamatan peneliti terhadap aktifitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan model discovery learning yang diperoleh dari siklus II.

3)        Dari beberapa hasil pengamatan selama penelitian di siklus II, peneliti menyimpulkan bahwa pelaksanaan tindakan selama siklus II tuntas atau berlanjut pad siklus berikutnya.

D. Pengolahan Data dan Analisis Data

Data-data yang diperoleh dari lapangan selama penelitian dikumpulkan untuk diolah dan dianalisis sehingga mendapatkan kesimpulan yang utuh. Data yang diperoleh kemudian di analisis secara kualitatif dan kuantitatif.

1. Data Kualitatif

Data diperoleh dari sumber data berupa hasil observasi yang berguna untuk membangun dan mengarahkan perbaikan pendidikan yang mendalam. Dalam pengolahan data kualitatif, digunakan analisis data deskriptif berdasarkan data yang telah diperoleh dari data hasil lembar observasi penerapan model Discovery Learning untuk peningkatan hasil belajar IPA. Adapun rangkaian aktivitas pengumpulan data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:

a. Data Reduction (Reduksi Data)

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok memfokuskan pada hal-hal penting, dicari tema dan polanya. Peneliti merangkum data dari lembar observasi yang telah dideskripsikan oleh 2 observer untuk menjadi satu kesimpulan akhir yang sama dan diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih jelas.

b. Data Display (Penyajian Data)

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya yang dilakukan peneliti adalah menyajikan data (data display). Penyajian data yang peneliti gunakan yaitu dilakukan dalam bentuk tabel. Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan dan tersusun sehingga akan semakin mudah dipahami.

c. Conclusion Drawing/Verification (Kesimpulan/Verifikasi)

Langkah terakhir dalam analisis data adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Dengan penarikan kesimpulan ini dimaksudkan untuk mencari makna yang sesungguhnya dari data yang telah dikumpulkan dilapangan, sehingga peneliti berharap mendapatkan penemuan-penemuan baru yang sebelumnya belum pernah ada.

2. Data Kuantitatif

Data kuantitatif adalah informasi yang dapat ditampilkan dalam bentuk angka atau bilangan, baik yang diperoleh dari hasil pengukuran maupun diperoleh dengan cara mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif. Data ini diperoleh dari tes pemahaman konsep mengenai bangun ruang kubus dan balok yang dilakukan pada akhir setiap siklus. Data kuantitatif tersebut di peroleh dari:

a. Penskoran Tes Hasil Belajar Siswa

Setiap lembar jawaban siswa akan dinilai, maka terlebih dahulu peneliti menetapkan standar penilaian skor dengan maksud untuk menghindari unsur subjektifitas. Penskoran disesuaikan dengan jumlah soal yang diberikan kepada siswa agar jumlah skor yang diberikan tepat perhitungannya.

Nilai akhir siswa = Jumlah skor yang diperoleh siswa   x 100

Jumlah skor maksimal

 

Kriteria penilaian hasil tes pemahaman konsep siswa dikelompokkan seperti pada tabel dibawah ini:

Tabel Kriteria Penilaian Tes Hasil Belajar Siswa

Presentase Jawaban

Kriteria Penilaian

85 % - 100 %

Sangat Baik

70 % - 84 %

Baik

55 % - 69 %

Cukup Baik

40 % -54 %

Kurang Baik

0 – 39 %

Tidak Baik

 

b. Menghitung Nilai Rata-Rata

Peneliti menjumlahkan nilai yang diperoleh siswa, selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa kelas tersebut sehingga diperoleh nilai rata-rata. Sudjana (2011, hlm. 109), skor rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

X =  Ʃ

          n

Keterangan:

X = nilai rata-rata

Ʃx = jumlah semua nilai siswa

n = jumlah siswa

 

c. Menghitung Persentase Jumlah Siswa Tuntas

Ketuntasan belajar secara individual mengacu pada Kriteria Ketuntasan Minimal  (KKM) yang telah di tetapkan untuk kelas V pada mata pelajaran matematika yaitu 75. Kriteria ketuntasan belajar siswa dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu tuntas dan belum tuntas, siswa dikatakan mencapai ketuntasan belajar bila sudah mencapai nilai KKM, siswa dikatakan belum tuntas apabila nilai yang diperoleh siswa belum mencapai KKM. Dalam persentase rata-rata ketuntasan belajar siswa digunakan rumus sebagai berikut:

PTB = Ʃ N x 100

N

 

Keterangan:

PTB = ketuntasan belajar siswa %

Ʃ N = jumlah siswa yang mendapat nilai diatas KKM

N = jumlah keseluruhan siswa

 

Tabel Kategori Ketuntasan Belajar Anak

No

Interval (%)

Kategori

1

81 - 100

Sangat Tinggi

2

61  - 80

Tinggi

3

41- 60

Cukup

4

21 -40

Rendah

5

0-20

Sangat Rendah

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

A. Hasil Penelitian

Pada bab ini dipaparkan hasil penelitian tindakan kelas “Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran IPA Melalui Penerapan Model Discovery Learning”. Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas di SDN Kedungwaringin 03 dilakukan pada tanggal 19 Oktober 2020 sampai 4 Nopember 2020, dengan jadwal rincian sebagai berikut:

a. Tanggal 21 Oktober 2020 mata pelajaran IPA untuk siklus pertama

b. Tanggal 2 Nopember 2020 mata pelajaran IPA untuk siklus kedua

Data penelitian yang diperoleh berupa hasil tes formatif pada setiap siklus dan observasi aktivitas siswa dan guru saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Data lembar observasi diambil dari dua pengamatan yaitu data pengamatan Aktivitas siswa saat pembelajaran berlangsung dan aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran dengan penerapan model discovery learning untuk mengetahui bagaimana penerapan model pembelajaran discovery learning dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

Data tes formatif guna mengetahui ketuntasan belajar minimal, serta untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar siswa setelah diterapkan model discovery learning.

Adapun tahapan – tahapan yang dilakukan dalam pelaksanaan model discovery learning ini yaitu :

1. Siklus I

a. Tahap Perencanaan

Pelaksanaan siklus I ini dilaksanakan 1 kali pertemuan yaitu pada tanggal  21 Oktober 2020 dengan muatan pembelajaran IPA dengan model discovery learning. Pada tahap awal ini peneliti mengobservasi tentang permasalahan yang ada di kelas V SDN Kedungwaringin 03. Setelah peneliti mengetahui permasalahan yang ada, peneliti berusaha menerapkan model discovery learning untuk dapat meningkatkan hasil belajar.

Adapaun hal – hal yang dipersiapkan oleh peneliti yaitu mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan ajar, media, LKPD, soal tes formatif dan instrument observasi aktivitas siswa serta alat –alat yang diperlukan.

b. Tahap Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan siklus I ini peneliti bertindak sebagai guru dan dibantu oleh guru mata pelajaran IPA. Adapun kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

Pada kegiatan awal ini guru mengkondisikan siswa untuk siap menerima pelajaran, berdoa bersama-sama, kemudian dilanjutkan dengan apersepsi yaitu menggali pemahaman siswa tentang pembelajaran sebelumnya dan mengaitkan dengan pembelajaran yang akan dipelajari saat siklus I yaitu tentang cara menjaga kesehatan peredaran darah manusia. Setelah itu guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan menyampaikan metode pembelajaran yang akan digunakan. Selanjutnya kegiatan inti di mulai dengan guru memberikan sebuah video pembelajaran untuk diamati siswa, setelah itu siswa menganalisis dan mengasosiasi permasalahan yang relevan dengan stimulus yang disajikan guru berupa pertanyaan, guru dan siswa melakukan tanya jawab. Setelah itu siswa mengumpulkan data dan informasi dari internet tentang nama-nama penyakit yang mengganggu peredaran darah manusia dan cara mencegahnya. Siswa mencoba menemukan jawaban dari pertanyaan dan menuliskan data-data yang diperoleh melalui LKPD yang guru bagikan di grup WhatsApp. Guru memverifikasi hasil pengumpulan data siswa dan diberi penguatan oleh guru. Kemudian siswa menyimpulkan dan menyebutkan cara-cara memelihara kesehatan peredaran darah manusia. Setelah itu, siswa menjawab evaluasi yang diberikan guru melalui google forms.

Kegiatan penutup di lakukan dengan memberikan kesmpatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang belum dimengerti, merefleksi tentang apa yang dipelajari, hal yang disukai dari pembelajaran, dan hal yang belum dimengerti, diakhiri dengan penutup doa.

Dengan demikian proses kegiatan pembelajaran selesai, peneliti merefleksikan kegiatan  pelaksanaan siklus I.

c. Tahap Observasi atau Pengamatan

Dalam tahapan ini guru melakukan tes formatif dan observasi.

1). Hasil Tes Formatif

Dari hasil penelitian dari siklus 1 diperoleh data tes formatif sebagai berikut :

DATA HASIL BELAJAR SISWA SDN KEDUNGWARINGIN 03 PADA SIKLUS I

 

No

Nama Siswa

KKM

Nilai

Keterangan

Tuntas

Tidak Tuntas

1

M. A.R

75

80

 

2

M. S. R

75

100

 

3

N. A. M

75

80

 

4

N.P. S

75

80

 

5

N.P

75

80

 

6

N.F.N

75

60

 

7

R. A

75

60

 

8

R. L

75

80

 

9

R. N

75

80

 

10

R. T.A

75

60

 

11

R. A

75

40

 

12

R.A.P

75

80

 

13

R. F

75

80

 

14

R.T.R

75

60

 

15

S.H. A

75

40

 

16

S.S

75

60

 

17

S.M

75

40

 

18

S.A. S

75

40

 

19

S.J. E. T. T

75

80

 

20

S. S

75

100

 

21

S. P.H

75

100

 

22

T.R

75

60

 

23

V.Y. H

75

100

 

24

Y. Y

75

100

 

25

Y. A

75

60

 

26

Y

75

100

 

27

Z.S.Q

75

80

 

28

K.R. H

75

60

 

29

L.P.S

75

40

 

30

F. V

75

60

 

Jumlah

2140

16

14

Rata-Rata

71

 

 

Persentase

 

53%

47%

 

Berdasarkan data di atas maka tingkat keberhasilan belajar siswa pada siklus I disajikan dalam tabel berikut :

 

Tingkat Keberhasilan Belajar Siswa pada Siklus I

Nilai

Jumlah Siswa

Nilai %

Keterangan

  >75

16

53%

Tuntas

<75

14

47%

Tidak Tuntas

 

Dari data di atas, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan belajar siswa pada siklus I mencapai presentase ketuntasan sebanyak 53% dengan jumlah 16 siswa. Sedangkan presentase ketidak tuntasan sebanyak 47 % dengan jumlah 14 siswa.

 

Berdasarkan tabel tingkat keberhasilan belajar siswa pada siklus I, terlihat bahwa terdapat peningkatan 16 % dibandingkan rata-rata nilai pada saat pra tindakan yang sebanyak 37 %.

 

Hal ini menunjukkan bahwa pada siklus I ada peningkatan namun prosentase ketuntasan masih lebih kecil dari prosentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu 85 %. Hal ini disebabkan karena terjadi gangguan jaringan sinyal menyebabkan penyampaian materi melalui media pembelajaran video tidak dapat dipahami siswa secara utuh. Ada beberapa siswa yang terganggu konsentrasinya oleh orang-orang di sekitarnya saat melaksanakan pembelajaran daring. Ada siswa yang masih belum bisa fokus saat pembelajaran daring berlangsung. Ada beberapa siswa yang tidak bisa menjadi aktif dalam kegiatan tanya jawab karena tidak bisa menggunakan platform zoom secara mandiri disebabkan karena tidak ada pendampingan. Ada beberapa siswa yang belum percaya diri untuk mengungkapkan hal-hal yang ditanyakan oleh guru.

 

2). Hasil Observasi

Hasil observasi aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan penerapan model discovery learning pada siklus 1

 

LEMBAR OBSERVASI  AKTIVITAS SISWA KELAS V  DALAM PEMBELAJARAN ( SIKLUS 1)

SDN KEDUNGWARINGIN 03 KECAMATAN KEDUNGWARINGIN KABUPATEN BEKASI

No

ASPEK YANG DIAMATI

SKALA PENILAIAN

JUMLAH

<10

(1)

11-20

(2)

21-30

(3)

31-40

(4)

1. KEGIATAN AWAL

 

1.   Kesiapan siswa untuk memulai pembelajaran

1

2

3

4

 

 

2.   Berdoa sebelum melakukan kegiatan belajar-mengajar.

1

2

3

4

 

 

3.   Siswa merespon salam dan pertanyaan dari guru berhubungan dengan kondisi dan pembelajaran sebelumnya.

1

2

3

4

 

 

4.  Siswa menerima informasi ten-tang keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.

1

2

3

4

 

 

5.  Siswa menyimak penjelasan guru tentang informasi, kompetensi, materi, tujuan, manfaat, dan lang-kah pembelajaran yang akan dilaksanakan.

1

2

3

4

 

II

KEGIATAN INTI

 

6.  Siswa memperhatikan materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.

1

2

3

4

 

 

7.  Siswa menulis materi yang diberikan oleh guru.

1

2

3

4

 

 

8.  Siswa berpikir kreatif dan aktif pada saat pembelajaran.

1

2

3

4

 

 

9.  Siswa berdiskusi tentang wacana tentang cara menjaga kesehatan peredaran darah yang telah dibaca dan diamati

1

2

3

4

 

 

10. Siswa aktif bertanya dan memberikan pendapat saat pembelajaran berlangsung

1

2

3

4

 

 

11. Siswa mengerjakan tugas sesuai dengan perintah guru.

1

2

3

4

 

 

12. Siswa mampu berkomunikasi secara lisan di platform pembelajaran dariing atau membacakan hasil penulisan

1

2

3

4

 

 

13. Siswa merasa senang, bersema- ngat dan antusias pada saat mengikuti pelajaran di kelas.

1

2

3

4

 

III

KEGIATAN PENUTUP

 

14. Siswa mampu membuat refleksi dan menyimpulkan materi yang telah dipelajari

1

2

3

4

 

 

15. Siswa mampu merencanakan tindak lanjut pembelajaran dengan guru untuk pertemuan selanjutnya.

1

2

3

4

 

Jumlah Nilai Aspek

0

2

30

16

48

Rata-rata

 

 

 

 

3,2

 

Keterangan : Skor maksimum 60

 

Nilai = Skor Perolehan    x 100 %

             Skor maksimum

 

Nilai =   48   x   100 % = 80 %

               60

Prosentase Keatifan Siswa

Prosentase Keaktifan Siswa

Taraf Keaktifan Siswa

Nilai (Angka)

85-100

Sangat Baik

5

70-84

Baik

4

60-69

Cukup

3

50-59

Kurang

2

0-49

Sangat Kurang

1

 

Hasil aktivitas siswa dalam proses kegiatan pembelajaran dengan model discovery learning pada siklus I, jumlah skor yang diperoleh 48 dan skor maksimumnya adalah 60. Dengan demikian prosentase skornya adalah 80 % dan termasuk kategori baik.

d. Refleksi

Adapun hasil diskusi yang diperoleh dari siklus I adalah sebagai berikut. Keberhasilan dan kegagalan yang terjadi pada siklus I adalah :

1)    Hasil pengamatan guru tentang hasil belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran discovery learning mencapai presentase ketuntasan sebanyak 53% dengan jumlah 16 siswa. Sedangkan presentase ketidak tuntasan sebanyak 47 % dengan jumlah 14 siswa. Terdapat peningkatan 16 % dibandingkan rata-rata nilai pada saat pra tindakan yang sebanyak 37 %. Namun prosentase ketuntasan masih lebih kecil dari prosentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu 85 %.

2)    Hasil pengamatan peneliti terhadap aktifitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan model discovery learning diperoleh skor 48 dengan skor maksimumnya adalah 60. Dengan demikian prosentase skornya adalah 80 % dan termasuk kategori baik.

3)    Dari beberapa hasil pengamatan selama penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa pelaksanaan tindakan selama siklus I belum berhasil dengan baik, untuk itu perlu ditingkatkan dan diulang pada tindakan siklus II.

4)   Untuk memperbaiki kelemahan dan mempertahankan keberhasilan yang telah dicapai pada siklus I, maka pada pelaksanaan siklus II dapat dibuat perencanaan sebagi berikut :

a). Memberikan bahan ajar atau media ajar yang bisa dipelajari secara asinkronus.

b). Memberikan kegiatan pembelajaran yang lebih menarik untuk siswa.

c). Memberi penguatan terhadap jawaban siswa.

d) Dalam siklus selanjutnya diharapkan peneliti melaksanakan seluruh aktivitas yang telah disusun sebelumnya agar seluruh aktivitas terlaksana.

 

2. Siklus II

Pada pelaksanaan siklus II ini dilaksanakan 1 kali pertemuan yaitu pada tanggal 2 Nopember 2020. Sebagai acuan pelaksanaan tindakan ini, guru perpedoman dari hasil refleksi siklus I.

a. Tahap Perencanaan

Pada tahap perencanaan siklus II ini didasarkan pada perencanaan yang terdapat pada siklus I. Pada siklus II ini peneliti lebih meningkatkan kegiatan pembelajaran. Adapan persiapan – persiapan yang dilakukan oleh peneliti yaitu mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan ajar, media pembelajar, LKPD, dan evaluasi tes formatif dan instrument observasi aktivitas siswa serta alat – alat yang diperlukan.

b. Tahap Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan siklus II ini peneliti dibantu oleh guru mata pelajaran IPA. Proses pembelajarannya mengacu pada rencana pelaksanaan pembelajaran siklus I, sehingga pada siklus

II ini bisa lebih baik dari siklus I. Adapun kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

Pada kegiatan awal ini di awali dengan memberi salam, berdoa, kemudian dilanjutkan dengan apersepsi yaitu tanya jawab dari materi yang sudah dipelajari dan mengaitkannya dengan materi yang akan disampaikan. Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

Kegiatan inti di mulai dengan siswa mengamati video yang guru berikan, kemudian guru memberikan stimulus yang disajikan berupa TTS (teka-teki silang) interaktif,  siswa bersama guru melakukan tanya jawab, siswa mengumpulkan data dan informasi dari internet tentang nama-nama penyakit yang menggagu peredaran darah dan cara mencegahnya, siswa mencoba menemukan jawaban dari pertanyaan yang disajikan guru, Setelah itu siswa menuliskan dan mengumpulkan data yang diperoleh pada LKPD. Siswa bersama guru memverifikasi hasil pengumpulan data dan guru memberi penguatan.

Kegiatan penutup di lakukan dengan memberikan kesmpatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang belum dimengerti, merefleksi tentang apa yang dipelajari, hal yang disukai dari pembelajaran, dan hal yang belum dimengerti, diakhiri dengan penutup doa.

Dengan demikian proses kegiatan pembelajaran selesai, peneliti merefleksikan kegiatan  pelaksanaan siklus II.

 

c. Tahap Observasi atau Pengamatan

Dalam tahapan ini guru melakukan tes formatif dan observasi.

1). Hasil Tes Formatif

Dari hasil penelitian dari siklus II diperoleh data tes formatif sebagai berikut :

DATA HASIL BELAJAR SISWA SDN KEDUNGWARINGIN 03 PADA SIKLUS II

 

No

Nama Siswa

KKM

Nilai

Keterangan

Tuntas

Tidak Tuntas

1

M. A.R

75

90

 

2

M. S. R

75

100

 

3

N. A. M

75

80

 

4

N.P. S

75

100

 

5

N.P

75

100

 

6

N.F.N

75

70

 

7

R. A

75

80

 

8

R. L

75

90

 

9

R. N

75

100

 

10

R. T.A

75

80

 

11

R. A

75

80

 

12

R.A.P

75

100

 

13

R. F

75

90

 

14

R.T.R

75

100

 

15

S.H. A

75

80

 

16

S.S

75

100

 

17

S.M

75

100

 

18

S.A. S

75

70

 

19

S.J. E. T. T

75

80

 

20

S. S

75

90

 

21

S. P.H

75

100

 

22

T.R

75

80

 

23

V.Y. H

75

100

 

24

Y. Y

75

100

 

25

Y. A

75

90

 

26

Y

75

100

 

27

Z.S.Q

75

100

 

28

K.R. H

75

80

 

29

L.P.S

75

70

 

30

F. V

75

80

 

Jumlah

2639

26

4

Rata-Rata

88

 

 

Persentase

 

87 %

13 %

 

Berdasarkan data di atas maka tingkat keberhasilan belajar siswa pada siklus II disajikan dalam tabel berikut :

 

Tingkat Keberhasilan Belajar Siswa pada Siklus I

Nilai

Jumlah Siswa

Nilai %

Keterangan

  >75

16

53%

Tuntas

<75

14

47%

Tidak Tuntas

 

Dari data di atas, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan belajar siswa pada siklus II mencapai presentase ketuntasan sebanyak 87% dengan jumlah 26 siswa. Sedangkan presentase ketidak tuntasan sebanyak 13 % dengan jumlah 4 siswa.

Berdasarkan tabel tingkat keberhasilan belajar siswa pada siklus II, terlihat bahwa terdapat peningkatan 34 % dibandingkan rata-rata nilai pada saat siklus I yang sebanyak 53 %.

Perbandingan Tingkat Keberhasilan Belajar Siswa antara Siklus I dan II

 

KRITERIA

SIKLUS I

SIKLUS II

Presentase Ketuntasan

53 %

87 %

Presentase Ketidak Tuntasan

47 %

13 %

Banyak Siswa yang Tuntas

16

26

Banyak Siswa yang Tidak Tuntas

14

4

 

Hal ini menunjukkan bahwa pada siklus II ada peningkatan hingga 87 %. Penelitian ini melebihi target presentase keberhasilan penelitian  tindakan kelas yang sebesar 85 %. Jadi dapat disimpulkan bahwa penelitian ini mencapai ketuntasannya atau keberhasilan. 

 

2). Hasil Observasi

Hasil observasi aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan penerapan model discovery learning pada siklus II.

 

LEMBAR OBSERVASI  AKTIVITAS SISWA KELAS V  DALAM PEMBELAJARAN ( SIKLUS II)

SDN KEDUNGWARINGIN 03 KECAMATAN KEDUNGWARINGIN KABUPATEN BEKASI

No

ASPEK YANG DIAMATI

SKALA PENILAIAN

JUMLAH

<10

(1)

11-20

(2)

21-30

(3)

31-40

(4)

1. KEGIATAN AWAL

 

1.   Kesiapan siswa untuk memulai pembelajaran

1

2

3

4

 

 

2.   Berdoa sebelum melakukan kegiatan belajar-mengajar.

1

2

3

4

 

 

3.   Siswa merespon salam dan pertanyaan dari guru berhubungan dengan kondisi dan pembelajaran sebelumnya.

1

2

3

4

 

 

4.  Siswa menerima informasi ten-tang keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.

1

2

3

4

 

 

5.  Siswa menyimak penjelasan guru tentang informasi, kompetensi, materi, tujuan, manfaat, dan lang-kah pembelajaran yang akan dilaksanakan.

1

2

3

4

 

II

KEGIATAN INTI

 

6.  Siswa memperhatikan materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.

1

2

3

4

 

 

7.  Siswa menulis materi yang diberikan oleh guru.

1

2

3

4

 

 

8.  Siswa berpikir kreatif dan aktif pada saat pembelajaran.

1

2

3

4

 

 

9.  Siswa berdiskusi tentang wacana tentang cara menjaga kesehatan peredaran darah yang telah dibaca dan diamati

1

2

3

4

 

 

10. Siswa aktif bertanya dan memberikan pendapat saat pembelajaran berlangsung

1

2

3

4

 

 

11. Siswa mengerjakan tugas sesuai dengan perintah guru.

1

2

3

4

 

 

12. Siswa mampu berkomunikasi secara lisan di platform pembelajaran dariing atau membacakan hasil penulisan

1

2

3

4

 

 

13. Siswa merasa senang, bersema- ngat dan antusias pada saat mengikuti pelajaran di kelas.

1

2

3

4

 

III

KEGIATAN PENUTUP

 

14. Siswa mampu membuat refleksi dan menyimpulkan materi yang telah dipelajari

1

2

3

4

 

 

15. Siswa mampu merencanakan tindak lanjut pembelajaran dengan guru untuk pertemuan selanjutnya.

1

2

3

4

 

Jumlah Nilai Aspek

0

 

15

40

55

Rata-rata

 

 

 

 

3,7

 

Keterangan : Skor maksimum 60

 

Nilai = Skor Perolehan    x 100 %

             Skor maksimum

 

Nilai =   55   x   100 % = 92 %

               60

Prosentase Keatifan Siswa

Prosentase Keaktifan Siswa

Taraf Keaktifan Siswa

Nilai (Angka)

85-100

Sangat Baik

5

70-84

Baik

4

60-69

Cukup

3

50-59

Kurang

2

0-49

Sangat Kurang

1

 

Hasil aktivitas siswa dalam proses kegiatan pembelajaran dengan model discovery learning pada siklus II, jumlah skor yang diperoleh 55 dan skor maksimumnya adalah 60. Dengan demikian prosentase skornya adalah 92 % dan termasuk kategori sangat baik.

d. Refleksi

Adapun hasil diskusi yang diperoleh dari siklus II adalah sebagai berikut. Keberhasilan dan kegagalan yang terjadi pada siklus II adalah :

1)    Hasil pengamatan guru tentang hasil belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran discovery learning mencapai presentase ketuntasan sebanyak 87 % dengan jumlah 26 siswa. Sedangkan presentase ketidak tuntasan sebanyak 13 % dengan jumlah 4 siswa. Terdapat peningkatan 34 % dibandingkan rata-rata nilai pada saat siklus I yang sebanyak 53 %. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini dianggap tuntas dan berhasil karena melebih target pencapaiannya yang sebesar 85 %.

2)   Hasil pengamatan peneliti terhadap aktifitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan model discovery learning diperoleh skor 55 dengan skor maksimumnya adalah 60. Dengan demikian prosentase skornya adalah 92 % dan termasuk kategori sangat baik.

3)    Dari beberapa hasil pengamatan selama penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa pelaksanaan tindakan selama siklus II sudah berhasil dengan baik, untuk itu tidak diperlukan lagi suatu tindakan pada siklus selanjutnya.

Dari hasil temuan penelitian di atas menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa pada muatan pelajaran IPA di kelas V di SDN Kedungwaringin 03 setelah dilakukan interverensi dengan menggunakan model discovery learning.

 

 

 

 


BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

 

A. Kesimpulan

Penerapan metode Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar IPA

. Peningkatan kompetensi tersebut diketahui dari tiga aspek, yaitu peningkatan hasil belajar dan keaktifan siswa.

1. Penerapan model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar siswa terlihat dari hasil tes yang dilakukan disetiap akhir siklus. Siklus I persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 53 % meningkat pada Siklus II menjadi 87 %.

2. Penerapan model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan keaktifitas siswa. Diperoleh presentase keaktifan siswa pada siklus I sebesar 80 % atau berkategori baik, sedangkan pada siklus II presentase keaktifan siswa sebesar 90 %, berkategori sangat baik.

B. Implikasi

Penelitian ini dapat memberikan dampak positif bagi beberapa pihak, antara lain sebagai berikut.

1. Siswa

Siswa memiliki motivasi untuk lebih giat belajar dan meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan model discovery learning yang diterapkan oleh peneliti dalam muatan pelajaran IPA.

2. Guru

Guru memperoleh pengalaman dalam penggunaan model pembelajaran discovery learning sehingga dapat memilih metode pelajaran yang tepat dalam proses pembelajaran.


 

3. Sekolah

Sekolah dapat menerapkan model pembelajaran discovery learning disemua mata pelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

C. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki keterbatasan yang turut mempengaruhi proses kegiatan pembelajaran. Keterbatasan penelitian tersebut adalah sebagai berikut.

1. Peneliti ini tidak melibatkan tentang faktor internal siswa yang meliputi minat dan bakat dari siswa yang kemungkinan faktor-faktor ini mempengaruhi peningkatan kompetensi siswa dalam kegiatan pembelajaran.

2. Peneliti ini tidak melibatkan tentang faktor eksternal siswa yang meliputi lingkungan sosial seperti kondisi lingkungan fisik/alam, lingkungan sosial dan lingkungan non sosial seperti gedung dan tata letaknya, fasilitas belajar dan tempat belajar yang kemungkinan faktor-faktor ini mempengaruhi peningkatan kompetensi siswa dalam kegiatan pembelajaran.

D. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, peneliti mempunyai saran sebagai berikut.

1. Bagi Peneliti Selanjutnya

Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan metode discovery learning ini masih terdapat beberapa keterbatasan. Penggunaan media pembelajaran daring yang masih sederhana dan terbatas. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menambahkan penggunaan media yang lebih interaktif agar proses pembelajaran dapat berjalan lebih efektif.

2. Siswa

Siswa dapat menggunakan pengalaman yang telah dilakukan dalam mengikuti pembelajaran dengan metode Discovery Learning sebagai acuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA.


 

3. Guru

Guru menyajikan pembelajaran yang dapat membuat keaktifan siswa dalam menemukan materi-materi pembelajaran, mengungkapkan pendapat, dan meningkatkan hasil belajar dengan menerapkan metode discovery learning.

4. Sekolah

Sekolah menyediakan sarana pembelajaran yang merata pada setiap kelas agar pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan lebih efektif dan agar siswa termotivasi untuk giat belajar sehingga kompetensi siswa meningkat dan menciptakan lulusan yang mampu bersaing

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suhardjono dan Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara

Baharuddin, Dkk.2010. Teori Belajar Dan Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-ruzz

Media.

Basuki, Ismet dan Hariyanto. 2014. Asesmen Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Hamalik, Omar. 2009. Pendekatan Baru Strategi Belajar mengajar Berdasarkan CBSA. Bandung: Sinar Baru Algensindo

Hopkins, David. 1993. A Teacher's Guide to Classroom Research. Philadelphia: Open University Press.

Hosnan, M. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia.

Kurniasih, Imas dan Berlin Sani. 2014. Implementasi Kurikulum 2013 Konsep dan Penerapan. Surabaya: Kata Pena.

Rifa’i, Achmad dan Catharina Tri Anni. 2011. Psikologi Pendidikan. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Ruseffendi. 2006. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran MaIPAa. Bandung: Tarsito.

Suprihatiningrum, Jamil. 2014. Strategi Pembelajaran: Teori & Aplikasi. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Suherman, Erman dkk. 2001. Strategi Pembelajaran MaIPAa Kontemporer. Bandung: Jica.

Sutrisno, Leo. Dkk. 2008. Pengembangan Pembelajaran IPA SD. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.

Samatowa, Usman. 2011.Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: PT

Indeks.

Veerman, k. 2003. Intelligent Support for Discovery Learning. Twente: Twente University Press.

Widi, Asih dan Eka Sulistyowati. 2015. Metodologi Pembelajaran IPA, Jakarta: Bumi Aksara


 

LAMPIRAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan      : SDN KEDUNGWARINGIN 03

Kelas / Semester          :  5 /1

Tema                           :  Sehat itu Penting (Tema 4)

Sub Tema                    :  Cara Memelihara Kesehatan Organ Peredaran Darah      Manusia (Sub Tema 3)

Pembelajaran ke          :  1

Alokasi waktu             :  1 Hari

Muatan Terpadu          : IPA, Bahasa Indonesia

 

A.    KOMPETENSI INTI

1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.

2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, santun, percaya diri, peduli, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru dan tetangga, dan negara.

3. Memahami pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat dasar dengan cara mengamati, menanya, dan mencoba berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan tempat bermain.

4. Menunjukkan keterampilan berfikir dan bertindak kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, dan komunikatif. Dalam bahasa yang jelas, sistematis, logis dan kritis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan tindakan yang mencerminkan perilaku anak sesuai dengan tahap perkembangannya.

 

 

 

 

 

 

B.     KOMPETENSI DASAR

IPA

KOMPETENSI DASAR

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

3.4 Memahami organ peredaran darah dan fungsinya pada hewan dan manusia serta cara memelihara kesehatan organ peredaran darah.

3.4.1 Menganalisis (c4) berbagai macam penyakit yang mempengaruhi organ peredaran darah manusia dan cara memelihara kesehatan organ peredaran darah

4.4 Menyajikan karya tentang organ peredaran darah pada manusia.

4.4.1 Mengumpulkan (p1) data dan informasi tentang nama penyakit gangguan peredaran darah dan cara mencegahnya dalam bentuk tabel.

 

Bahasa Indonesia

KOMPETENSI DASAR

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

3.6  Menggali isi dan amanat pantun yang disajikan secara lisan dan tulis dengan tujuan untuk  kesenangan.

3.6.1  Menyimpulkan (c4) isi pantun yang disajikan secara lisan dan runtut.

3.6.2  Menegaskan (c4) isi pantun yang disajikan secara tertulis

4.6  Melisankan pantun hasil karya pribadi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat sebagai bentuk ungkapan diri.

4.6.1 Menunjukkan (p3) cara membaca pantun yang dibuatnya dengan lafal dan intonasi yang tepat

 

C. TUJUAN PEMBELAJARAN

1.    Dipandu melalui zoom, Dengan kegiatan mencari tahu tentang berbagai penyakit yang mempengaruhi organ peredaran darah dan cara pencegahannya di internet, siswa dapat menganalisis (c4) berbagai macam penyakit yang mempengaruhi organ peredaran darah manusia dan cara memelihara kesehatan organ peredaran darah dengan benar.

2.    Dengan kegiatan mencari tahu tentang berbagai penyakit yang mempengaruhi organ peredaran darah di internet, siswa dapat mengumpulkan (p1) data dan informasi tentang nama penyakit gangguan peredaran darah dan cara mencegahnya dalam bentuk tabel dengan benar.

3.    Dengan kegiatan mengamati pembacaan pantun yang ada pada powerpoint, siswa dapat menyimpulkan (c4) isi pantun yang disajikan secara lisan dan runtut dengan benar.

4.    Dengan kegiatan menulis pantun pada E-LKPD, siswa dapat menegaskan (c4) isi pantun yang disajikan secara tertulis dengan benar.

5.    Dengan kegiatan mencoba menulis pantun dengan tema menjaga kesehatan tubuh di E-LKPD, siswa dapat menunjukkan (p3) cara membaca  pantun yang dibuatnya dengan lafal dan intonasi yang tepat.

 

C.    MATERI PEMBELAJARAN

IPA : Gangguan Peredaran Darah pada Manusia dan Cara Mencegahnya

1.   Jantung koroner, cara mencegahnya yaitu melakukan olahraga, istirahat yang cukup, menjaga pola makan sehari-hari, menghindari minuman beralkohol, dan menghindari kebiasaan merokok.

2.   Penyakit stroke, cara mencegahnya yaitu menjaga pola makan sehari-hari, menghindari minuman beralkohol, melakukan olahraga, dan istirahat yang cukup.

3.   Penyakit varises, cara mencegahnya yaitu menghindari berdiri atau duduk terlalu lama, dan usahakan bergerak tiap 30 menit, hindari menggunakan sepatu hak tinggi untuk jangka waktu yang lama, mengkonsumsi makanan tinggi gizi dan rendah garam, berolahraga secara rutin

4.   Penyakit anemia cara mencegahnya yaitu makan makanan yang mengandung zat besi, istirahat teratur, makan makanan mengandung vitamin b12, makan makanan mengandung asam folat, mengonsumsi makanan mengandung vitamin c, menghindari minuman beralkohol.

5.   Hipertensi cara mencegahnya yaitu menghindari mengkonsumsi minuman beralkohol, menghindari makanan berlemak yang mengandung kolestrol tinggi, berolahraga teratur, menghindari kebiasaan merokok, dan menghindari hal yang bisa memicu stres

Bahasa Indonesia : Pantun

Pantun adalah puisi melayu asli yang sudah mengakar lama di budaya masyarakat. Pantun merupakan salah satu jenis karya sastra lama.

Ciri-ciri pantun

      Tiap bait terdiri dari 4 baris

      Terdiri dari 8-12 suku kata di tiap baris

      Baris ke 1 dan ke 2 disebut sampiran

      Baris ke 3 dan ke 4 disebut isi

      Bersajak a-b-a-b

Berdasarkan kelompok usia, pantun dibedakan menjadi :

1. Pantun anak-anak

2. Pantun remaja

3. Pantun orang tua

 

Berdasarkan isinya, pantun dibedakan menjadi :

1. Pantun nasihat

2. Pantun Jenaka

3. Pantun Teka-teki

4. Pantun kiasan

 

D.    METODE PEMBELAJARAN

Pendekatan : Saintifik

Model          : Discovery Learning

Metode        : Tanya jawab, diskusi, dan penugasan

 

E.     KEGIATAN  PEMBELAJARAN

Kegiatan

Deskripsi Kegiatan

Alokasi

Waktu

Pendahuluan

 

1.     Melakukan Pembukaan dengan Salam dan Dilanjutkan Dengan Membaca Doa dipandu melalui aplikasi Zoom (Orientasi, Religius/PPK)

2.     Melakukan absensi melalui google form yang guru bagikan melalui WhatsApp Grup

https://forms.gle/dkytAWhbz6A2o16U9

3.     Menyanyikan lagu wajib “Satu Nusa Satu Bangsa” (Nasionalisme/PPK)

4.     Mengaitkan Materi Sebelumnya dengan Materi yang akan dipelajari dan diharapkan dikaitkan dengan pengalaman peserta didik. (Apersepsi)

5.     Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. (Motivasi)

15 menit

 

                  

Sintak Discovery Learning

Inti

1.      Siswa mengamati bacaan  tentang manfaat bersepeda yang ada di video dan powerpoint yang guru tampilkan pada aplikasi zoom (Rasa ingin tahu/PPK,critical thingking/keterampilan abad 21)

https://www.youtube.com/watch?v=89E1XCJ-YxQ

(Pemberian stimulus/ sintak discovery learning)

2.      Siswa menganalisis dan mengasosiasi permasalahan yang relevan dengan stimulus yang disajikan guru berupa pertanyaan “Bagaimana cara memelihara kesehatan peredaran darah selain bersepedah?” (Critical thingking/keterampilan abad 21)

(Identifikasi masalah / sintak discovery learning)

3.      Siswa melakukan tanya jawab tentang cara lain menjaga kesehatan peredaran darah selain bersepedah. (Critical thinking, Comunication/ Keterampilan abad 21)

4.      Siswa mengumpulkan data dan informasi dari internet tentang nama-nama penyakit yang dapat mengganggu peredaran darah dalam tubuh dan cara pencegahannya (Tanggung jawab/PPK, Critical thinking/Keterampilan abad 21)

(Pengumpulan data/ sintak discovery learning)

5.      Siswa menganalisis dan mengumpulkan data dan informasi dari internet tentang nama-nama penyakit yang dapat mengganggu peredaran darah dalam tubuh dan cara pencegahannya. (Tanggung jawab/PPK, Critical thinking/Keterampilan abad 21)

6.      Siswa mencoba menemukan jawaban dari pertanyaan yang disajikan oleh guru. (Critical thingking/keterampilan abad 21)

7.      Siswa menuliskan data-data yang diperoleh melalui LKPD yang guru bagikan.

https://www.liveworksheets.com/yi1213294rl

            (Tanggung jawab/PPK)

8.      Siswa bersama guru memverifikasikan hasil pengumpulan data siswa dan diberi penguatan oleh guru. (Collaboration / Keterampilan abad 21)

(Pembuktian/ sintak discovery learning)

9.      Siswa menyimpulkan dan menyebutkan cara-cara memelihara kesehatan peredaran darah dalam tubuh yang sudah di tulis pada LKPD. (Communication/Keterampilan abad 21)

(Penarikan simpulan/ sintak discovery learning)

10.  Siswa membacakan pantun yang ada pada powerpoint dengan sebelumnya diberi contoh oleh guru (Communication/ Keterampilan abad 21)

11.  Selesai membaca, siswa mengamati pantun dengan seksama. (Critical thingking/keterampilan abad 21)

(Pemberian stimulus/ sintak discovery learning)

12.  Siswa menganalisis ciri-ciri pantun setelah diberi stimulus pertanyaan “Bagaimanakah isi dan ciri-ciri pantun?’ (Critical thinking/ Keterampilan abad 21)

(Identifikasi masalah / sintak discovery learning)

13.  Siswa melakukan tanya jawab tentang isi pantun dan ciri-cirinya.

(Critical thinking, Comunication/ Keterampilan abad 21)

14.  Siswa mengumpulkan data tentang isi pantun dan ciri-ciri pantun. (Tanggung jawab/ PPK, Critical thinking/ Keterampilan abad 21).

(Pengumpulan data/ sintak discovery learning)

15.  Siswa mencoba menjawab pertanyaan tentang pantun pada LKPD (Tanggung jawab/PPK, Critical Thinking dan memberikan penguatan )

16.  Siswa mencoba menuliskan pantun buatannya yang dituliskan pada LKPD. (Creativity/ Keterampilan abad 21)

17.  Siswa memverifikasi hasil kerja siswa pada LKPD dan penguatan oleh guru (Collabration/ Keterampilan abad 21).

(Pembuktian/ sintak discovery learning)

18.  Siswa membacakan pantun buatannya (Percaya diri/PPK, Communication/Keterampilan abad 21)

19.  Siswa menyimpulkan dan menyebutkan isi dan ciri-ciri pantun yang sudah dituliskan pada LKPD (Critical thinking/ Keterampilan abad 21)

(Penarikan simpulan/ sintak discovery learning)

20.  Siswa menjawab soal evaluasi yang diberikan oleh guru melalui google form (Tanggung jawab/ PPK)

https://forms.gle/rYhfaczGMPdMqByC8

140 menit

Penutup

                   

Kerja Sama dengan Orang Tua

• Dengan bimbingan dan pengawasan orang tua, siswa membuat jadwal olah raga untuk menjaga kesehatan peredaran darah dalam tubuh manusia.

• Siswa menerapkan secara disiplin jadwal dan kekuatan olah raga untuk menjaga kesehatan peredaran darah dalam tubuh manusia.

15 menit

Refleksi dan Konfirmasi

Refleksi pencapaian siswa/formatif asesmen, dan refleksi guru untuk mengetahui ketercapaian proses pembelajaran dan perbaikan.

ASSESMENT (Penilaian)

Penilaian Sikap, Pengetahuan dan Keterampilan (Lihat Lampiran)

 

C. LEMBAR PENILAIAN

1. Aspek Pengetahuan

Bentuk soal : PG

Jumlah soal 10

Nilai = jumlah soal yang benar x 100

10

 

2. Aspek Sikap

No

Tanggal

Nama Siswa

Catatan

Tindakan Lanjut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3. Aspek Keterampilan

a. IPA

Aspek

Sangat Baik

Baik

Cukup

Perlu Bimbingan

4

3

2

1

Menggunakan
bagan atau diagram alur untuk menjelaskan berbagai
pernyakit yang
mempengaruhi
kerja organ
peredaran darah

Menyajikan
bagan atau
diagram alur untuk
menjelaskan
berbagai pernyakit yang mempengaruhi
kerja organ peredaran darah dengan sistematis
bahasa Indonesia yang baik dan benar

Menyajikan
bagan atau
diagram alur untuk
menjelaskan
berbagai pernyakit yang mempengaruhi
kerja organ
peredaran darah
dengan cukup
sistematis

Menyajikan
laporan
bagan atau
diagram alur untuk menjelaskan
berbagai pernyakit yang
mempengaruhi
kerja organ
peredaran
darah dengan
kurang
sistematis

Belum dapat
bagan atau
diagram
alur untuk
menjelaskan
berbagai
pernyakit yang
mempengaruhi
kerja organ
peredaran darah
dengan
sistematis

Mengetahui berbagai penyakit yang
mempengaruhi
organ peredaran
manusia.
Mengetahui cara
memelihara
kesehatan organ peredaran darah manusia

Menjelaskan
berbagai
penyakit yang
mempengaruhi
organ peredaran
manusia dan
menjelaskan
cara memelihara
kesehatan organ
peredaran darah
manusia dengan
benar

Menjelaskan
sebagian besar
berbagai
penyakit yang
mempengaruhi
organ peredaran
manusia dan
menjelaskan
cara memelihara
kesehatan organ
peredaran darah
manusia dengan
benar

Menjelaskan
sebagian kecil
berbagai penyakit yang mempengaruhi
organ peredaran
manusia dan menjelaskan cara memelihara kesehatan organ
peredaran darah manusia
dengan benar

Belum dapat
menjelaskan
berbagai
penyakit yang
mempengaruhi
organ peredaran
manusia dan
menjelaskan
cara memelihara
kesehatan organ
peredaran darah
manusia

Dalam hal siswa mengidentifikasi berbagai macam penyakit yang mempengaruhi organ peredaran darah manusia dan cara memelihara kesehatan organ peredaran darah, diperiksa menggunakan rublik berikut.

 

 

b. Bahasa Indonesia

Laporan hasil membuat pantu nasihat diperiksa menggunakan rublik

Aspek

Baik Sekali

Baik

Cukup

Perlu Bimbingan

 

4

3

2

1

Isi dan pengetahuan: Hasil yang dibuat oleh siswa

Sesuai dengan ciri-ciri pantun, yaitu:

Pantun bersajak a-ba-b.

Satu bait terdiri atas empat baris.

Tiap baris terdiri atas 8 sampai 12 suku kata.

Terdapat  sampiran pada dua baris pertama dan isi pada dua baris berikutnya

Memenuhi 3
kriteria dari 4
kriteria yang
ditetapkan

Memenuhi 2
kriteria dari 4
kriteria yang
ditetapkan

Memenuhi 1
kriteria dari 4
kriteria yang
ditetapkan

Penggunaan
Bahasa Indonesia yang baik dan benar: Bahasa
Indonesia yang
baik dan benar
digunakan
dalam penulisan
pantun

Penggunaan
Bahasa
Indonesia yang
baik dan benar digunakan dengan sangat efisien dalam kesuluruhan penulisan pantun.

Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar digunakan dengan sangat efisien dalam sebagian besar penulisan pantun

Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar digunakan dengan sangat efisien dalam sebagian kecil penulisan pantun

Tidak ada penggunaan Bahasa
Indonesia
yang baik dan benar dalam penulisan pantun

 

 

D. REMEDIAL DAN PENGAYAAN

1. Remedial

Bagi siswa yang belum berhasil menulis pantun, akan membuat lagi dengan pendampingan guru.

2. Pengayaan

Siswa memperkuat kembali pemahaman tentang ciri-ciri pantun

 

E. SUMBER BELAJAR

1. Buku Pedoman Guru Tema 4 Kelas 5 dan Buku Siswa Tema 4 Kelas 5 (IPA Terpadu Kurikulum 2013, Jakarta. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017)

2. Bahan ajar tentang materi berbagai penyakit yang mempengaruhi peredaran darah dan cara mencegahnya

3. Bahan ajar materi tentang pantun

4. LKPD

 

 

 Mengetahui,

Kepala Sekolah SDN Kedungwaringin 03

                                                  

 

 

HJ. MARYANI, S.Pd.SD

NIP. 196105061983052001

Kedungwaringin,    ...............

Guru Kelas 5  ,

 

 

 

ELA MOULILLA RIANY, S.Pd

NIP. 198708212019032009

 


 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Satuan Pendidikan        : SDN KEDUNGWARINGIN 03

Kelas / Semester           :  5 /1

Tema                            :  Sehat itu Penting (Tema 4)

Sub Tema                     :  Cara Memelihara Kesehatan Organ Peredaran Darah Manusia (Sub Tema 3)

Pembelajaran ke            :  2 (siklus 2)

Alokasi waktu                :  1 Hari

Muatan Terpadu            : IPA, Bahasa Indonesia

 

F.    KOMPETENSI INTI

1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.

2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, santun, percaya diri, peduli, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru dan tetangga, dan negara.

3. Memahami pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat dasar dengan cara mengamati, menanya, dan mencoba berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan tempat bermain.

4. Menunjukkan keterampilan berfikir dan bertindak kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, dan komunikatif. Dalam bahasa yang jelas, sistematis, logis dan kritis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan tindakan yang mencerminkan perilaku anak sesuai dengan tahap perkembangannya.

 

 

G.    KOMPETENSI DASAR

IPA

KOMPETENSI DASAR

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

3.4 Memahami organ peredaran darah dan fungsinya pada hewan dan manusia serta cara memelihara kesehatan organ peredaran darah.

3.4.1 Menganalisis (c4) berbagai macam penyakit yang mempengaruhi organ peredaran darah manusia dan cara memelihara kesehatan organ peredaran darah

4.4 Menyajikan karya tentang organ peredaran darah pada manusia.

4.4.1 Mengumpulkan (p1) data  dan informasi tentang nama penyakit gangguan peredaran darah dan cara mencegahnya dalam bentuk tabel.

 


 

Bahasa Indonesia

KOMPETENSI DASAR

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

3.6  Menggali isi dan amanat pantun yang disajikan secara lisan dan tulis dengan tujuan untuk  kesenangan.

3.6.1  Menyimpulkan (c4) isi pantun yang disajikan secara lisan dan runtut.

3.6.2  Menegaskan (c4) isi pantun yang disajikan secara tertulis

4.6  Melisankan pantun hasil karya pribadi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat sebagai bentuk ungkapan diri.

4.6.1 Menunjukkan (p3) cara membaca pantun yang dibuatnya dengan lafal dan intonasi yang tepat

 

 

H.    TUJUAN PEMBELAJARAN

6.   Dipandu melalui WhatsApp, Dengan kegiatan mencari tahu tentang berbagai penyakit yang mempengaruhi organ peredaran darah dan cara pencegahannya di internet, siswa dapat menganalisis (c4) berbagai macam penyakit yang mempengaruhi organ peredaran darah manusia dan cara memelihara kesehatan organ peredaran darah dengan benar.

7.   Dengan kegiatan mencari tahu tentang berbagai penyakit yang mempengaruhi organ peredaran darah di internet, siswa dapat mengumpulkan (p1) data dan informasi tentang nama penyakit gangguan peredaran darah dan cara mencegahnya dalam bentuk tabel dengan benar.

8.   Dengan kegiatan mengamati pembacaan pantun yang ada pada powerpoint, siswa dapat menyimpulkan (c4) isi pantun yang disajikan secara lisan dan runtut dengan benar.

9.   Dengan kegiatan menulis pantun pada E-LKPD, siswa dapat menegaskan (c4) isi pantun yang disajikan secara tertulis dengan benar.

10. Dengan kegiatan mencoba menulis pantun dengan tema menjaga kesehatan tubuh di E-LKPD, siswa dapat menunjukkan (p3) cara membaca pantun yang dibuatnya dengan lafal dan intonasi yang tepat.

 

I.      MATERI PEMBELAJARAN

IPA : Gangguan Peredaran Darah pada Manusia dan Cara Mencegahnya

1.   Jantung koroner, cara mencegahnya yaitu melakukan olahraga, istirahat yang cukup, menjaga pola makan sehari-hari, menghindari minuman beralkohol, dan menghindari kebiasaan merokok.

2.   Penyakit stroke, cara mencegahnya yaitu menjaga pola makan sehari-hari, menghindari minuman beralkohol, melakukan olahraga, dan istirahat yang cukup.

3.   Penyakit varises, cara mencegahnya yaitu menghindari berdiri atau duduk terlalu lama, dan usahakan bergerak tiap 30 menit, hindari menggunakan sepatu hak tinggi untuk jangka waktu yang lama, mengkonsumsi makanan tinggi gizi dan rendah garam, berolahraga secara rutin

4.   Penyakit anemia cara mencegahnya yaitu makan makanan yang mengandung zat besi, istirahat teratur, makan makanan mengandung vitamin b12, makan makanan mengandung asam folat,     mengonsumsi makanan mengandung vitamin c, menghindari minuman beralkohol.

5.   Hipertensi cara mencegahnya yaitu menghindari mengkonsumsi minuman beralkohol, menghindari makanan berlemak yang mengandung kolestrol tinggi, berolahraga teratur, menghindari kebiasaan merokok, dan menghindari hal yang bisa memicu stres.

6.    Hipotensi cara mencegahnya yaitu menghindari konsumsi minuman berkafein pada malam hari dan menghindari konsumsi alkohol, makan dalam porsi kecil namun sering, dan tidak langsung berdiri setelah makan, memposisikan kepala lebih tinggi ketika tidur (sekitar 15 cm), berdiri secara perlahan dari posisi duduk atau berbaring, tidak membungkuk atau mengubah posisi tubuh secara tiba-tiba, dan menghindari mengangkat beban berat.

7.   Leukemia cara mencegahnya berhenti merokok, menjaga berat badan seimbang atau normal, menghindari dari paparan zat kimia radon dan benzena berbahaya, menghindarkan diri dari paparan radiasi, melaksanakan dan menerapkan pola hidup sehat, dan melaksanakan pemeriksaan darah secara berkala.

 

Bahasa Indonesia : Pantun

Pantun adalah puisi melayu asli yang sudah mengakar lama di budaya masyarakat. Pantun merupakan salah satu jenis karya sastra lama.

Ciri-ciri pantun

       Tiap bait terdiri dari 4 baris

       Terdiri dari 8-12 suku kata di tiap baris

       Baris ke 1 dan ke 2 disebut sampiran

       Baris ke 3 dan ke 4 disebut isi

       Bersajak a-b-a-b

Berdasarkan kelompok usia, pantun dibedakan menjadi :

1. Pantun anak-anak

2. Pantun remaja

3. Pantun orang tua

 

Berdasarkan isinya, pantun dibedakan menjadi :

1. Pantun nasihat

2. Pantun Jenaka

3. Pantun Teka-teki

4. Pantun kiasan

 

Contoh pantun nasihat dengan tema menjaga kesehatan:

Contoh 1:

Jalan-jalan sore bersama teman

Ternyata hujan turun rintik-rintik

Jangan lupa cuci tangan

Pakai sabun, gosok 20 detik

Contoh 2 :

Di atas pohon ada sarang lebah

Lebahnya berdengung saat lewat

Ayo, makan sayur dan buah

Agar kekebalan tubuh jadi kuat

 

J.     METODE PEMBELAJARAN

Pendekatan   : Saintifik

Model           : Discovery Learning

Metode         : Tanya jawab, diskusi, dan penugasan

 

K.    KEGIATAN  PEMBELAJARAN

Kegiatan

Deskripsi Kegiatan

Alokasi

Waktu

 

Pendahuluan

 

6.     Melakukan Pembukaan dengan Salam dan Dilanjutkan Dengan Membaca Doa dipandu melalui aplikasi WhatsApp (Orientasi, Religius/PPK)

7.     Melakukan absensi melalui google form yang guru bagikan melalui WhatsApp Grup

https://forms.gle/dkytAWhbz6A2o16U9

8.     Menyanyikan lagu wajib “Satu Nusa Satu Bangsa” (Nasionalisme/PPK)

9.     Mengaitkan Materi Sebelumnya dengan Materi yang akan dipelajari dan diharapkan dikaitkan dengan pengalaman peserta didik. (Apersepsi)

Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. (Motivasi)

15 menit

 

                  

 

Sintak Discovery Learning

Inti

21.  Siswa mengamati bacaan  tentang manfaat bersepeda yang ada di video dan powerpoint yang guru tampilkan pada aplikasi zoom (Rasa ingin tahu/PPK,critical thingking/keterampilan abad 21)

https://youtu.be/15aZVRu95L0

 (Pemberian stimulus/ sintak discovery learning)

22.  Siswa menganalisis dan mengasosiasi permasalahan yang relevan dengan stimulus yang disajikan guru berupa TTS interaktif yang guru bagikan link nya di WhatsApp Grup.

https://wordwall.net/play/5915/836/887

 (Critical thingking/keterampilan abad 21)

(Identifikasi masalah / sintak discovery learning)

23.  Siswa melakukan tanya jawab tentang cara lain menjaga kesehatan peredaran darah. (Critical thinking, Comunication/ Keterampilan abad 21)

24.  Siswa mengumpulkan data dan informasi dari internet tentang nama-nama penyakit yang dapat mengganggu peredaran darah dalam tubuh dan cara pencegahannya (Tanggung jawab/PPK, Critical thinking/Keterampilan abad 21)

(Pengumpulan data/ sintak discovery learning)

25.  Siswa menganalisis dan mengumpulkan data dan informasi dari internet tentang nama-nama penyakit yang dapat mengganggu peredaran darah dalam tubuh dan cara pencegahannya. (Tanggung jawab/PPK, Critical thinking/Keterampilan abad 21)

26.  Siswa mencoba menemukan jawaban dari pertanyaan yang disajikan oleh guru. (Critical thingking/keterampilan abad 21)

27.  Siswa menuliskan data-data yang diperoleh melalui LKPD yang guru bagikan.

https://www.liveworksheets.com/pd1287527ui

            (Tanggung jawab/PPK)

28.  Siswa bersama guru memverifikasikan hasil pengumpulan data siswa dan diberi penguatan oleh guru. (Collaboration / Keterampilan abad 21)

(Pembuktian/ sintak discovery learning)

29.  Siswa menyimpulkan dan menyebutkan cara-cara memelihara kesehatan peredaran darah dalam tubuh yang sudah di tulis pada LKPD. (Communication/ Keterampilan abad 21)

(Penarikan simpulan/ sintak discovery learning)

30.  Siswa membacakan pantun yang ada pada powerpoint dengan sebelumnya diberi contoh oleh guru (Communication/ Keterampilan abad 21)

31.  Selesai membaca, siswa mengamati pantun dengan seksama. (Critical thingking/keterampilan abad 21)

(Pemberian stimulus/ sintak discovery learning)

32.  Siswa menganalisis ciri-ciri pantun setelah diberi stimulus pertanyaan “Bagaimanakah isi dan ciri-ciri pantun?’ (Critical thinking/ Keterampilan abad 21)

(Identifikasi masalah / sintak discovery learning)

33.  Siswa melakukan tanya jawab tentang isi pantun dan ciri-cirinya.

(Critical thinking, Comunication/ Keterampilan abad 21)

34.  Siswa mengumpulkan data tentang isi pantun dan ciri-ciri pantun. (Tanggung jawab/ PPK, Critical thinking/ Keterampilan abad 21).

(Pengumpulan data/ sintak discovery learning)

35.  Siswa mencoba menjawab pertanyaan tentang pantun pada LKPD (Tanggung jawab/PPK, Critical Thinking dan memberikan penguatan )

36.  Siswa mencoba menuliskan pantun buatannya yang dituliskan pada LKPD. (Creativity/ Keterampilan abad 21)

37.  Siswa memverifikasi hasil kerja siswa pada LKPD dan penguatan oleh guru (Collabration/ Keterampilan abad 21).

(Pembuktian/ sintak discovery learning)

38.  Siswa membacakan pantun buatannya (Percaya diri/PPK, Communication/Keterampilan abad 21)

39.  Siswa menyimpulkan dan menyebutkan isi dan ciri-ciri pantun yang sudah dituliskan pada LKPD (Critical thinking/ Keterampilan abad 21)

(Penarikan simpulan/ sintak discovery learning)

40.  Siswa menjawab soal evaluasi yang diberikan oleh guru melalui google form (Tanggung jawab/ PPK)

https://forms.gle/JbCJXkbo2bwQopTC8  (IPA) https://forms.gle/ve7iA98UybfNJjtm8     (B.INDO)

140 menit

 

Penutup

                   

21. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya bagi yang masih merasa belum memahami materi. (Communication/ Keterampilan abad 21)

22. Sebelum pelajaran diakhiri, guru meminta siswa untuk melakukan refleksi kesimpulan kegiatan ini. (Critical thingking/ keterampilan abad 21)

a) Apa yang kamu pelajari hari ini?

b) Apa yang kalian sukai dari pembelajaran ini?

c) Materi apa yang belum kalian pahami?

 

23.  Kegiatan belajar ditutup dengan doa (Religius/PPK)

 

15 menit

 

Refleksi dan Konfirmasi

Refleksi pencapaian siswa/formatif asesmen, dan refleksi guru untuk mengetahui ketercapaian proses pembelajaran dan perbaikan.

ASSESMENT (Penilaian)

Penilaian Sikap, Pengetahuan dan Keterampilan (Lihat Lampiran)

 

 

C. LEMBAR PENILAIAN

1. Aspek Pengetahuan

Muatan IPA

Bentuk soal : PG
Jumlah soal 10
Nilai = jumlah soal yang benar x 100

                                10

 

Muatan Bahasa Indonesia

Bentuk soal : PG

Jumlah soal 5

Nilai = jumlah soal yang benar x 20

 

2. Aspek Sikap

No

Tanggal

Nama Siswa

Catatan

Tindakan Lanjut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3. Aspek Keterampilan

a. IPA

Dalam hal siswa mengidentifikasi berbagai macam penyakit yang mempengaruhi organ peredaran darah manusia dan cara memelihara kesehatan organ peredaran darah, diperiksa menggunakan rublik berikut:

Aspek

Sangat Baik

Baik

Cukup

Perlu Bimbingan

4

3

2

1

Menggunakan
bagan atau diagram alur untuk
menjelaskan  berbagai
pernyakit yang
mempengaruhi
kerja organ
peredaran darah

Menyajikan
bagan atau
diagram alur untuk
menjelaskan
berbagai pernyakit yang mempengaruhi
kerja organ peredaran darah dengan sistematis
bahasa Indonesia yang baik dan benar

Menyajikan
bagan atau
diagram alur untuk
menjelaskan
berbagai pernyakit yang mempengaruhi
kerja organ
peredaran darah
dengan cukup
sistematis

Menyajikan
laporan
bagan atau
diagram alur untuk menjelaskan
berbagai pernyakit yang
mempengaruhi
kerja organ
peredaran
darah dengan
kurang
sistematis

Belum dapat
bagan atau
diagram
alur untuk
menjelaskan
berbagai
pernyakit yang
mempengaruhi
kerja organ
peredaran darah
dengan
sistematis

Mengetahui berbagai penyakit yang
mempengaruhi
organ peredaran
manusia.
Mengetahui cara
memelihara
kesehatan organ
peredaran darah
manusia

Menjelaskan
berbagai
penyakit yang
mempengaruhi
organ peredaran
manusia dan
menjelaskan
cara memelihara
kesehatan organ
peredaran darah
manusia dengan
benar

Menjelaskan
sebagian besar
berbagai
penyakit yang
mempengaruhi
organ peredaran
manusia dan
menjelaskan
cara memelihara
kesehatan organ
peredaran darah
manusia dengan
benar

Menjelaskan
sebagian kecil
berbagai penyakit yang mempengaruhi
organ peredaran
manusia dan menjelaskan cara memelihara kesehatan organ
peredaran darah manusia
dengan benar

Belum dapat
menjelaskan
berbagai
penyakit yang
mempengaruhi
organ peredaran
manusia dan
menjelaskan
cara memelihara
kesehatan organ
peredaran darah
manusi

 


 

b. Bahasa Indonesia

Laporan hasil membuat pantun nasihat diperiksa menggunakan rublik

Aspek

Baik Sekali

Baik

Cukup

Perlu Bimbingan

 

4

3

2

1

Isi dan

Pengetahuan:

Hasil yang

dibuat oleh

siswa

Sesuai dengan ciri-ciri pantun, yaitu:

Pantun bersajak a-ba-b.

Satu bait terdiri atas empat baris.

Tiap baris terdiri atas 8 sampai 12 suku kata.

Terdapat  sampiran pada dua baris pertama dan isi pada dua baris berikutnya

Memenuhi 3
kriteria dari 4
kriteria yang
ditetapkan

 

Memenuhi 2
kriteria dari 4
kriteria yang
ditetapkan

 

Memenuhi 1
kriteria dari 4
kriteria yang
ditetapkan

 

Penggunaan
Bahasa Indonesia yang baik dan benar: Bahasa
Indonesia yang
baik dan benar
digunakan
dalam penulisan
pantun

 

Penggunaan
Bahasa
Indonesia yang
baik dan benar digunakan dengan sangat efisien dalam kesuluruhan penulisan pantun.

Penggunaan Bahasa

Indonesia

yang baik

dan benar

digunakan

dengan sangat

efisien dalam

sebagian besar

penulisan pantun

Penggunaan Bahasa

Indonesia

yang baik dan benar digunakan

dengan sangat

efisien dalam

sebagian

kecil

penulisan pantun

Tidak ada penggunaan Bahasa
Indonesia
yang baik dan benar dalam penulisan pantun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D. REMEDIAL DAN PENGAYAAN

1. Remedial

Bagi siswa yang belum berhasil menulis pantun, akan membuat lagi dengan pendampingan guru.

2. Pengayaan

Siswa memperkuat kembali pemahaman tentang ciri-ciri pantun

E. SUMBER BELAJAR

1. Buku Pedoman Guru Tema 4 Kelas 5 dan Buku Siswa Tema 4 Kelas 5 (Tematik Terpadu Kurikulum 2013, Jakarta. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017)

2. Bahan ajar tentang materi berbagai penyakit yang mempengaruhi peredaran darah dan cara mencegahnya

3. Bahan ajar materi tentang pantun

4. LKPD

 

 Mengetahui

Kepala Sekolah SDN Kedungwaringin 03

                                                  

 

 

HJ. MARYANI, S.Pd.SD

NIP. 196105061983052001

 

Kedungwaringin,    ...............

Guru Kelas 5  ,

 

 

 

ELA MOULILLA RIANY, S.Pd

NIP. 198708212019032009

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini